KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan aset kripto diperkirakan masih dalam fase konsolidasi sepanjang kuartal II 2026 dengan volatilitas tinggi pada awal periode sebelum arah tren menjadi lebih jelas di pertengahan hingga akhir kuartal. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai pasar kripto saat ini masih dibayangi sentimen negatif dari kuartal I, terutama tekanan makroekonomi dan ketegangan geopolitik global. "Saat ini, pasar masih tertekan sentimen negatif sehingga pergerakan harga cenderung
sideways dengan bias
bearish jika level
support penting tidak mampu dipertahankan," ujar Fyqieh, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: IHSG Melemah 1,59% Sepekan, Sentimen Geopolitik dan Harga Minyak Tekan Pasar Meski demikian, terdapat sejumlah katalis positif yang berpotensi mendorong pemulihan pasar di kuartal II. Secara historis, periode pasca-
halving Bitcoin pada April 2024 mulai menunjukkan momentum di tahun kedua dengan kuartal II kerap menjadi titik awal masuknya kembali dana institusional. Selain itu, pelonggaran kebijakan moneter global atau meredanya tensi geopolitik juga dapat menjadi pendorong rebound harga kripto. Fyqieh menambahkan, banyak analis memandang kuartal II sebagai fase transisi, di mana pasar sedang mencari titik terendah (
bottoming). Sejumlah indikator juga menunjukkan arus dana institusional mulai kembali masuk, meskipun belum stabil. "Data ETF
inflow mulai menunjukkan pemulihan minat investor institusi, sehingga membuka peluang kenaikan bertahap," kata Fyqieh. Namun, ia mengingatkan bahwa selama faktor makro belum membaik secara signifikan, risiko penurunan lanjutan masih terbuka dalam jangka pendek. Dalam jangka pendek, Bitcoin diperkirakan bergerak
sideways dengan kecenderungan melemah jika
support di kisaran US$ 66.000–US$ 67.000 tidak bertahan. Ethereum diproyeksikan berada di rentang US$ 1.900–US$ 2.150, sementara Solana di kisaran US$ 70–US$ 85 dengan volatilitas lebih tinggi. Untuk keseluruhan kuartal II, Fyqieh memperkirakan pasar terbagi dalam dua skenario. Pada skenario konservatif, Bitcoin diperkirakan bergerak dalam rentang US$ 60.000–US$ 70.000 seiring tekanan jangka pendek yang masih berlanjut hingga pertengahan tahun. Ethereum dan Solana diperkirakan mengikuti pola serupa, masing-masing di kisaran US$ 1.900–US$ 2.400 dan US$ 70–US$ 100.
Baca Juga: Soho Global (SOHO) Perpanjang Fasilitas Pinjaman dari BCA untuk Modal Kerja Sementara dalam skenario
bullish, kuartal II berpotensi menjadi awal fase pemulihan.
Bitcoin berpeluang kembali menembus US$ 75.000 hingga menuju US$ 100.000 jika didorong arus dana institusional dan efek lanjutan pasca-halving. Dalam kondisi ini, Ethereum berpotensi naik ke kisaran US$ 2.500–US$ 3.000, dan Solana ke US$ 100–US$ 120. Di sisi lain, Analis Reku, Andri Fauzi, memperkirakan dalam jangka pendek atau sepekan ke depan, Bitcoin akan bergerak di rentang US$ 64.000–US$ 69.000 dengan uji support di US$ 65.000. Ethereum diproyeksikan berada di kisaran US$ 1.950–US$ 2.150 serta Solana di US$ 75–US$ 85. Untuk periode kuartal II 2026, Andri memproyeksikan Bitcoin berada di rentang US$ 58.000–US$ 80.000 dengan risiko penurunan lebih dalam jika kondisi makro memburuk. Sementara Ethereum diperkirakan bergerak di kisaran US$ 1.900–US$ 2.500, dan Solana di US$ 67–US$ 110 dengan skenario dasar di rentang US$ 75–US$ 95. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News