Bitcoin dan Ethereum Melemah, Sentimen Kripto Ini Wajib Dicermati November 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar aset kripto sepanjang November 2026 dibayangi sejumlah sentimen, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), arus dana investor institusi, hingga perkembangan ekosistem blockchain.

Sejumlah agenda tersebut berpotensi memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan Ethereum.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Jumat (6/11/2026) pukul 20.30 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di US$ 75.944, terkoreksi 4,59% dalam 24 jam terakhir dan turun 1,93% dalam sepekan.


Ethereum (ETH) melemah 6,13% secara harian ke US$ 2.242, meski masih menguat 0,65% dalam sepekan. Sementara itu, Solana (SOL) turun 5,35% ke US$ 90,25 dan Arbitrum (ARB) terkoreksi 0,53% ke US$ 0,14.

Market Specialist Luno Arief Rachman mengatakan, agenda ekonomi AS menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar kripto pada November. Data ketenagakerjaan dan inflasi AS dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: ST017 Tawarkan Kupon Menarik, Mampukah Pemerintah Capai Target Penjualan?

Dua agenda awal yang perlu dicermati adalah laporan ketenagakerjaan AS pada 6 November dan data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada 10 November.

"Data ketenagakerjaan yang lemah biasanya mendukung pelonggaran kebijakan, sementara data yang kuat memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," ujar Arief dalam riset yang diterima Kontan, Jumat (6/11/2026).

Perkembangan tersebut menjadi perhatian setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%-4,00% dalam rapat Oktober. Di sisi lain, data inflasi AS masih menunjukkan tekanan. Inflasi konsumen pada September tercatat 3,7% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,4%.

Selain itu, pasar juga akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19 November dan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada 25 November.

"PCE merupakan ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed, sehingga data ini menjadi salah satu input penting menjelang keputusan suku bunga 9 Desember," tutur Arief.

Tekanan terhadap pasar kripto juga terlihat dari arus dana produk investasi berbasis aset digital. Riset Luno mencatat, produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) di AS membukukan arus keluar bersih sekitar US$ 515 juta sepanjang Oktober. Adapun ETF spot Ethereum mencatat arus keluar bulanan sekitar US$ 1,61 miliar.

Aktivitas pembelian Bitcoin oleh Strategy Inc juga melambat dibandingkan periode sebelumnya. Pada dua pekan berturut-turut di pertengahan Oktober, perusahaan tersebut masing-masing membeli 250 BTC dan 267 BTC. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan pembelian mingguan yang sempat melampaui 20.000 BTC pada awal tahun. Hingga 18 Oktober, Strategy tercatat memegang 848.517 BTC.

Sentimen lain datang dari insiden keamanan yang melibatkan Binance pada 29 Oktober. Arief bilang, insiden tersebut disebut menyebabkan potensi kerugian sekitar US$ 6,3 miliar dan dikaitkan FBI dengan kelompok TraderTraitor yang disponsori Korea Utara.

Baca Juga: Harga Bitcoin Menguat, Transaksi Kripto RI Meroket 31,95% pada September 2026

Binance sempat menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan setelah insiden tersebut. Perusahaan juga menyatakan akan menanggung sekitar US$ 6 miliar dari dana perusahaan untuk menutup kerugian yang timbul.

Di luar sentimen makroekonomi dan institusi, sejumlah agenda industri blockchain juga berlangsung sepanjang bulan ini. Salah satunya konferensi Solana Breakpoint 2026 pada 15-17 November di London. Acara tersebut berpotensi menghadirkan pengumuman terkait pembaruan protokol maupun kemitraan baru di ekosistem Solana.

Investor juga perlu memperhatikan jadwal pembukaan sekitar 92,65 juta token Arbitrum (ARB) pada pertengahan November. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,93% dari total pasokan awal ARB. Token yang dibuka berasal dari alokasi untuk tim, kontributor, dan investor.

Pembukaan token atau token unlock dapat menambah jumlah aset yang tersedia di pasar. Meski demikian, dampaknya terhadap harga tidak selalu langsung terjadi karena bergantung pada keputusan pemegang token untuk menjual atau mempertahankan asetnya. Pada Arbitrum, distribusi token dilakukan secara bertahap setiap bulan hingga Maret 2027.

Agenda industri lainnya adalah Singapore FinTech Festival pada 18-20 November. Forum tersebut turut membahas perkembangan aset digital dan tokenisasi, sehingga menjadi salah satu agenda yang dapat dicermati pelaku industri kripto.

Sementara itu, di dalam negeri, Bulan Fintech Nasional berlangsung pada 11 November hingga 12 Desember 2026. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup BFN Fest yang dijadwalkan pada 26-27 November di Jakarta.

Baca Juga: ST017 Ditargetkan Himpun Rp 15 T, Penerbitan SBN Ritel 2026 Bisa Tembus Rp 156 T

Perkembangan pembayaran kembali aset kepada kreditur Mt. Gox juga menjadi perhatian pasar. Pada 16 Oktober, wali amanat Mt. Gox mengumumkan perpanjangan tenggat pembayaran kepada kreditur hingga 31 Oktober 2027. Perpanjangan dilakukan karena masih terdapat kreditur yang belum menyelesaikan prosedur atau menghadapi kendala pembayaran.

Keputusan tersebut untuk sementara meredakan kekhawatiran mengenai potensi tekanan jual Bitcoin dari proses pembayaran kembali aset Mt. Gox. Pasalnya, Bitcoin yang diterima kreditur berpotensi kembali masuk ke pasar apabila mereka memutuskan untuk menjualnya.

Dari sisi pengembangan jaringan, Ethereum tengah mempersiapkan peningkatan atau upgrade Glamsterdam. Namun, hingga akhir Oktober belum ada tanggal resmi aktivasi pembaruan tersebut di jaringan utama. Pengembang masih perlu memastikan kesiapan peningkatan melalui jaringan uji sebelum menentukan jadwal peluncuran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News