KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga aset kripto utama seperti Bitcoin dan Ethereum menguat dalam beberapa hari terakhir, didorong kombinasi sentimen fundamental dan teknikal yang saling memperkuat. Melansir CoinMarketCap pada pukul 16.40 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di level US$ 74.700 atau meningkat 5,0% sebulan terakhir. Ada pun Ethereum (ETH) dihargai US$ 2.340 atau naik 7,3% dalam sebulan. Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menjelaskan, penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya risk appetite pelaku pasar seiring meredanya ketegangan geopolitik global, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
“Pergerakan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ada kombinasi faktor fundamental dan teknikal. Dari sisi fundamental, membaiknya kondisi makro dan meredanya tensi geopolitik mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Indeks Dolar Melemah, Begini Prospek Valas Utama Selain itu, arus dana institusional juga menjadi pendorong utama. Produk ETF berbasis Bitcoin dan Ethereum mencatatkan aliran dana masuk (inflow) yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Fyqieh mencatat, inflow ke ETF Bitcoin mencapai sekitar US$ 411 juta, sementara Ethereum sekitar US$ 67,8 juta. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak semata didorong spekulasi, tetapi juga didukung permintaan riil dari investor besar. Dari sisi teknikal, struktur pasar turut menguatkan tren kenaikan. Bitcoin menunjukkan indikasi short squeeze, tercermin dari funding rate yang masih negatif namun harga terus naik, serta peningkatan open interest. Sementara Ethereum berhasil menembus level moving average penting yang menandakan momentum bullish yang sehat. “Faktor fundamental menjadi pendorong utama, sementara teknikal memperkuat tren. Kombinasi ini membuat outlook jangka pendek masih positif,” imbuhnya. Ke depan, Fyqieh melihat prospek Bitcoin dan Ethereum masih cenderung bullish dalam jangka menengah, meski volatilitas tetap tinggi. Permintaan institusional yang terus meningkat menjadi salah satu penopang utama.
Baca Juga: OJK, BEI & KSEI Tuntaskan Empat Tahap Penguatan Transparansi Likuditas Pasar Modal Ia mencontohkan, ETF Bitcoin sempat mencatat inflow hingga US$ 411 juta dalam satu hari, bahkan secara industri mencapai US$ 471 juta sepanjang April 2026. Selain itu, perusahaan seperti MicroStrategy juga masih aktif melakukan akumulasi Bitcoin, termasuk pembelian sekitar 13.927 BTC senilai US$ 1 miliar pada April 2026. “Ini menunjukkan adanya keyakinan jangka panjang dari investor besar dan menciptakan tekanan suplai di pasar,” jelasnya. Untuk Ethereum, prospek juga didukung oleh minat institusional dan aktivitas pelaku pasar besar (whale). Dalam periode singkat, tercatat akumulasi hingga 790.000 ETH atau sekitar US$ 2,89 miliar, yang mengindikasikan valuasi masih dianggap menarik. Meski demikian, risiko tetap perlu dicermati, terutama dari sisi regulasi global. Pembahasan kebijakan seperti CLARITY Act di Amerika Serikat berpotensi memengaruhi arah pasar ke depan. “Jika regulasi mendukung, bisa membuka gelombang baru investasi institusional. Tapi jika terlalu ketat, bisa menekan sentimen dalam jangka pendek,” kata Fyqieh.
Baca Juga: Modal Ekspansi, MNC Digital (MSIN) Andalkan Dana Hasil Listing di Luar Negeri Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Fyqieh memperkirakan pergerakan harga kripto ke depan akan cenderung bullish secara bertahap (gradual uptrend), bukan kenaikan agresif tanpa koreksi.
Untuk semester I 2026, Bitcoin diproyeksikan bergerak di kisaran US$ 70.000 hingga US$ 100.000, dengan skenario konsolidasi di rentang US$ 70.000 - US$ 80.000. Sementara Ethereum diperkirakan berada di kisaran US$ 2.000 - US$ 3.000, dan berpotensi naik ke US$ 3.500 - US$ 4.000 jika didorong sentimen positif. Dari sisi strategi, Fyqieh menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA), sambil tetap memperhatikan level support dan dinamika pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News