KONTAN.CO.ID - Citigroup memangkas proyeksi harga Bitcoin dan Ethereum untuk 12 bulan ke depan setelah melihat minat investor terhadap aset kripto melemah. Tidak hanya itu, Citi juga menyoroti arus dana keluar (
outflow) dari produk
exchange-traded fund (ETF) terus berlanjut, serta belum adanya kemajuan berarti dalam regulasi aset digital di Amerika Serikat. Mengutip
Reuters, Rabu (1/7), Citi menurunkan target harga Bitcoin dalam 12 bulan menjadi US$82.000 atau sekitar Rp1,47 miliar, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar US$112.000.
Sementara itu, target harga Ethereum juga direvisi turun menjadi US$2.240 atau sekitar Rp40,21 juta, dari sebelumnya US$3.175. Saat ini Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$58.864,27, level terendah sejak September 2024. Nilainya telah anjlok lebih dari 50% dibandingkan rekor tertinggi US$126.223,18 yang tercapai pada Oktober tahun lalu. Ethereum juga berada dalam tekanan dengan harga sekitar US$1.585,63, terendah sejak April 2025.
Baca Juga: Ekonomi Korea Memanas: Inflasi Juni Tertinggi Sejak 2023! Pelemahan Bitcoin dan Ethereum dalam Setahun
Kondisi tersebut juga tercermin pada grafik
Reuters berdasarkan data
LSEG.
| Indikator | Bitcoin | Ethereum |
| Periode pengamatan | Juli 2025 - Juli 2026 | Juli 2025 - Juli 2026 |
| Performa 1 tahun | -45,39% | -35,32% |
| Arah tren | Cenderung menurun sejak akhir 2025 | Cenderung menurun sejak awal 2026 |
| Kondisi terkini | Berada di wilayah negatif | Berada di wilayah negatif |
Baik Bitcoin maupun Ethereum telah menghapus sebagian besar kenaikan yang sempat dicatat pada pertengahan 2025. Sepanjang satu tahun terakhir, kedua aset digital itu bergerak dalam tren menurun dan kini sama-sama berada di zona negatif.
Baca Juga: Ribuan Investor Gugat Binance, Apa Itu Derivatif Kripto yang Dipersoalkan? ETF Kripto Mulai Jadi Beban
Menurut Citi, salah satu alasan utama revisi proyeksi tersebut adalah berubahnya arus dana ETF berbasis kripto. Sebelumnya, Citi memperkirakan ETF Bitcoin masih mampu mencatat arus dana masuk bersih sebesar US$10 miliar dalam 12 bulan. Kini, asumsi tersebut dipangkas menjadi nol. "Arus dana ETF, yang menjadi salah satu pendorong utama harga, belakangan justru berubah menjadi negatif," tulis Citi dalam laporannya. Bank investasi tersebut juga mencatat ETF Bitcoin telah mengalami arus dana keluar sekitar US$3,3 miliar sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut membuat adopsi investor institusi diperkirakan masih akan tertahan hingga muncul katalis baru.
Dalam skenario pesimistis apabila ekonomi memasuki resesi dan arus dana keluar ETF terus berlanjut, Citi memperkirakan Bitcoin hanya akan mencapai US$53.000 atau sekitar Rp951,35 juta dalam satu tahun ke depan. Sementara itu, Ethereum berpotensi turun hingga US$1.094 atau sekitar Rp19,64 juta. Di sisi lain, Citi melihat sebagian investor mulai mengalihkan dana mereka ke aset yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Rotasi investasi tersebut dinilai turut mengurangi minat terhadap aset kripto.
Baca Juga: Coinbase, Ripple, Crypto.com Masuk Daftar Donatur Terbesar Pemilu AS 2026