KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bitcoin (BTC) melewati akhir Agustus dengan volatilitas tinggi setelah sempat menembus level psikologis US$ 80.000. Usai menyentuh area tertinggi di atas US$ 81.000 pada pekan lalu, Bitcoin kembali mengalami pelemahan pada awal September dan kini diperdagangkan di kisaran US$ 77.597 pada Rabu (2/9) pukul 13.25 WIB. CEO & Founder FLOQ Yudhono Rawis bilang, kondisi ini menunjukkan pasar mulai melakukan konsolidasi setelah reli kuat sepanjang paruh kedua Agustus.
Baca Juga: Ekamas Mora (MORA) Tambah Fasilitas Kredit Investasi hingga Rp 4 Triliun dari BCA Pergerakan tersebut sekaligus menandai perubahan fokus pasar. Jika sebelumnya investor dibayangi pertanyaan apakah Bitcoin mampu kembali menembus US$ 80.000, perhatian kini bergeser pada apakah level tersebut dapat direbut kembali dan dipertahankan di tengah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Namun, banyak analis juga telah mengingatkan bahwa posisi long yang semakin padat dan volume yang mulai melandai membuat Bitcoin rentan terhadap koreksi. Risiko tersebut mulai terlihat setelah pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus. Warsh menegaskan inflasi AS masih berada di atas target 2% dan menyebut perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum cukup menunjukkan perbaikan tren yang berarti. Warsh juga menekankan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi tidak bergerak menuju target dengan kecepatan yang memadai. Kendati demikian, Yudhono berpandangan bahwa koreksi setelah Bitcoin menembus US$ 80.000 tidak serta-merta menghilangkan prospek positif aset kripto, namun menunjukkan bahwa fase berikutnya akan sangat ditentukan oleh fundamental makro dan kekuatan permintaan investor. “Setelah gagal bertahan di atas US$ 80.000, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian. Investor perlu melihat apakah permintaan spot dan arus dana institusional tetap mampu menyerap volatilitas yang datang dari kebijakan The Fed,” ujar Yudho dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.770 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (2/9), Won Perkasa Salah satu faktor yang menopang reli Bitcoin sepanjang Agustus adalah kembalinya arus modal institusional melalui produk exchange-traded fund (ETF) kripto. ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat membukukan sekitar US$ 2,71 miliar inflow bersih pada pekan yang berakhir 24 Agustus, menjadi salah satu pekan terkuat sepanjang 2026. Bitcoin mengambil porsi terbesar dengan sekitar US$ 1,92 miliar. Meski demikian, tren tersebut mulai menunjukkan tanda pendinginan. Data Farside Investors menunjukkan spot Bitcoin ETF AS mencatat
net outflow sekitar US$ 201,9 juta pada 28 Agustus, setelah beberapa hari sebelumnya konsisten membukukan arus masuk positif. Menurut Yudho, perubahan tersebut membuat data ETF menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam beberapa pekan ke depan. Memasuki September, pasar kripto diperkirakan masih akan menghadapi sederet katalis makroekonomi. Data ketenagakerjaan AS untuk Agustus dijadwalkan dirilis pada 4 September, disusul Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September. Keduanya akan menjadi data penting menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026. Kombinasi data tenaga kerja, inflasi dan respons The Fed berpotensi menentukan apakah investor kembali meningkatkan eksposur ke aset berisiko seperti Bitcoin atau justru mengambil posisi lebih defensif.
Baca Juga: Harga Emas Spot Diprediksi Masih Tertekan, Ini Level Supportnya Hal ini menjadi semakin penting setelah Warsh menegaskan bahwa The Fed tidak ingin terlalu bergantung pada
forward guidance. Ia menilai pasar seharusnya lebih banyak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan perkembangan ekonomi dibanding hanya menunggu sinyal mengenai langkah bank sentral berikutnya. Dalam jangka pendek, Yudho memproyeksi area US$ 80.000-US$ 81.000 diperkirakan tetap menjadi zona penting untuk Bitcoin. Keberhasilan menembus dan bertahan di atas area tersebut dapat memperkuat kembali momentum
bullish. Sebaliknya, selama Bitcoin masih berada di bawah US$ 80.000, pasar berpotensi tetap bergerak dalam fase konsolidasi sembari menunggu katalis berikutnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News