Bitcoin Gagal Tembus US$ 87.000, Simak Level Penting Berikutnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga Bitcoin (BTC) masih dibayangi tekanan jual setelah aset kripto terbesar di dunia tersebut belum mampu menembus sekaligus mempertahankan level US$ 87.000. Investor kini mencermati sejumlah level teknikal dan perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat untuk menentukan arah Bitcoin selanjutnya.

Melansir CoinMarketCap pada Selasa (6/10/2026), harga Bitcoin berada di level US$ 86.040 atau melemah 0,4% dalam 24 jam terakhir. Kendati demikian, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan sebesar 2,4% dalam sepekan.

Tekanan terhadap Bitcoin tersebut sejalan dengan pergerakan pasar aset kripto secara keseluruhan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual masih muncul ketika Bitcoin mendekati area resistance US$ 87.000.


CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis mengatakan, Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Oleh karena itu, investor perlu mencermati level support dan resistance untuk melihat arah tren berikutnya.

Baca Juga: PSSI Tambah 6 Kapal Baru, Simak Prospek Kinerja dan Sahamnya

“Level US$ 87.000 menjadi resistance penting karena pasar belum mendapatkan konfirmasi bahwa momentum kenaikan sudah kembali kuat,” kata Yudho dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, kegagalan Bitcoin mempertahankan posisi di atas US$ 87.000 belum serta-merta mengubah struktur pasar menjadi bearish.

Dari sisi teknikal, Yudho menyebut area US$ 84.500 menjadi salah satu level penting dalam pergerakan Bitcoin jangka pendek. Level tersebut berada di sekitar retracement Fibonacci 38,2%.

Apabila Bitcoin mampu bertahan di area US$ 84.500, peluang rebound untuk kembali menguji level US$ 87.000 masih terbuka. Sebaliknya, apabila Bitcoin menembus ke bawah level tersebut, risiko koreksi yang lebih dalam berpotensi meningkat menuju US$ 82.600.

Yudho mengatakan zona US$ 82.000-US$ 83.000 juga menjadi area downside yang perlu diperhatikan apabila tekanan jual semakin kuat.

Peluang Bitcoin Menuju US$ 90.000

Meski masih tertahan di bawah US$ 87.000, peluang Bitcoin untuk bergerak menuju US$ 90.000-US$ 93.000 masih terbuka. Skenario tersebut dapat terjadi apabila tekanan jual mulai mereda dan kondisi makroekonomi memberikan dukungan terhadap aset berisiko.

Yudho mengatakan, arah imbal hasil US Treasury atau Treasury yields serta ekspektasi kebijakan The Fed menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.

“Kalau Treasury yields mulai melandai dan ekspektasi kenaikan suku bunga semakin berkurang, aset berisiko seperti Bitcoin bisa mendapatkan ruang yang lebih besar. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diikuti oleh permintaan spot yang kuat,” tuturnya.

Baca Juga: Enam Bulan ke Depan, Gerak IHSG Terbatas dan Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.200

Selain perkembangan teknikal, pasar juga akan mencermati rilis Fed Minutes pada 7 Oktober 2026. Risalah rapat The Fed tersebut menjadi salah satu perhatian investor untuk melihat indikasi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Yudho melihat komunikasi The Fed dan pergerakan Treasury yields dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

“Kalau komunikasinya cenderung memberikan ruang untuk kebijakan yang lebih longgar dan yield ikut turun, sentimen terhadap Bitcoin bisa membaik. Sebaliknya, jika risiko inflasi kembali meningkat dan yield naik, tekanan terhadap aset berisiko bisa muncul lagi,” jelasnya.

Dengan demikian, level US$ 84.500 dan US$ 87.000 menjadi dua area penting yang perlu diperhatikan dalam pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. Pergerakan menembus ke atas atau ke bawah kedua level tersebut akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai arah harga Bitcoin berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News