Bitcoin Jadi Alternatif Lindung Nilai, Siap Reli ke US$ 80.000



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) – Iran yang terus memanas, pasar investasi global menunjukkan dinamika yang tidak biasa. 

Sementara aset tradisional cenderung fluktuatif, Bitcoin (BTC) dan sejumlah aset kripto strategis seperti Ethereum (ETH), Aave (AAVE), Worldcoin (WLD) dan Hyperliquid (HYPE) justru mencatat performa harga yang semakin menarik perhatian.

Analis Reku Fahmi Almuttaqin menyoroti salah satu perkembangan paling signifikan dari dinamika terkini, yakni kemampuan Bitcoin menyerap guncangan geopolitik dengan sangat cepat.


"Kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma. Jika dulu konflik global membuat investor berlarian ke uang tunai, kini Bitcoin semakin dianggap sebagai 'asuransi digital' yang kebal terhadap intervensi fisik negara mana pun," ujar Fahmi dalam keterangan yang diterima Kontan, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Risiko Defisit Fiskal, Begini Prospek Obligasi Pemerintah

Blokade militer di jalur perdagangan utama dunia yang secara teori dapat menekan aset berisiko selama berminggu-minggu hanya memberikan dampak koreksi singkat pada Bitcoin sebelum harga kembali pulih dan justru mengalami kenaikan.

Bitcoin sempat menembus US$ 75.000, setara sekitar Rp 1,2 miliar sebelum mengalami konsolidasi. Volume beli yang menipis kemudian digantikan oleh volume jual sesaat pasca-breakout, mengindikasikan aksi profit taking

Namun, upaya breakout tersebut kini kembali terlihat dan dengan kekuatan beli yang lebih besar. Ini membuka peluang untuk rally ke level psikologis US$ 80.000.

"Konsolidasi di level ini, di tengah tekanan geopolitik yang masih tinggi, justru mencerminkan kekuatan struktural pasar," jelas Fahmi.

Adopsi institusional yang semakin agresif menjadi salah satu faktor utama yang menjaga harga Bitcoin tidak terjun bebas di tengah konflik dan mendorong kenaikan harga baru-baru ini. 

Baca Juga: TBS Energi (TOBA) Bagi Dividen Tunai US$ 8,88 Juta

Permintaan struktural dari institusi besar seperti Strategy (sebelumnya MicroStrategy) dan Morgan Stanley baru-baru ini, telah berhasil menyerap emisi Bitcoin dan menekan suplai beredar secara signifikan.

Setelah melakukan pembelian Bitcoin senilai US$1 miliar pekan lalu, Strategy kini diprediksi sedang melakukan pembelian yang bahkan lebih besar. Indikatornya: volume STRC (Variable Rate Perpetual Preferred Stock Strategy) melonjak menyentuh rekor baru sepanjang pekan ini.

Pada 14 April 2026, STRC mencatat volume trading lebih dari US$ 1,4 miliar, lebih dari empat kali rata-rata 30 hari sebesar US$278 juta. 

STRC ATM Tracker (strc.live) memperkirakan hal ini menghasilkan sekitar US$1,12 miliar proceeds dengan capture rate 81%, yang berpotensi digunakan untuk membeli sekitar 15.088 BTC di harga spot US$ 74.262 setara 33,5 hari produksi miner global yang terserap hanya dalam hitungan jam.

Dinamika pasar kripto global kini memiliki dampak langsung terhadap daya beli dan stabilitas aset pribadi masyarakat termasuk di Indonesia di tengah kondisi geopolitik dan makro global. 

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.139 Per Dolar AS Hari Ini (16/4), Asia Perkasa

Di tengah tekanan rupiah dan ketidakpastian inflasi, Bitcoin mulai dilirik sebagai instrumen lindung nilai yang efektif terhadap depresiasi mata uang domestik.

"Meskipun demikian, mengingat Bitcoin baru saja menyentuh US$ 75.000 dan kembali terkoreksi, strategi Dollar Cost Averaging atau mencicil secara rutin tetap menjadi pendekatan paling prudent bagi investor umum dibandingkan pembelian besar dalam satu waktu," kata Fahmi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News