KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin merosot dari area US$ 70.000 ke level US$ 64.000 hanya dalam beberapa hari, menyeret kapitalisasi pasar kripto global menyusut lebih dari 5% dalam sehari. Melansir data perdagangan pada Kamis (4/6/2026) pukul 10.45 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$ 64.428 atau melemah 12,23% dalam sepekan terakhir. Kondisi ini sejalan dengan volume perdagangan yang melonjak tajam, menandakan likuidasi posisi
leverage yang masif di tengah memburuknya sentimen risiko global.
Baca Juga: IHSG Kembali Anjlok 4%, Ini Support Berikutnya Namun, di balik tekanan tersebut, sejumlah aset justru bergerak berlawanan arah. Altcoin seperti HYPE naik 19%, INJ menguat 19%, XLM melonjak 53%, H melesat 151%, dan LAB membukukan kenaikan 228% dalam sepekan terakhir. Fahmi Almuttaqin, Analis Reku, menilai divergensi ini mencerminkan rotasi likuiditas, bukan kepanikan menyeluruh. "Selera risiko investor tidak benar-benar hilang. Yang terjadi adalah rotasi ke aset-aset dengan narasi dan fundamental yang lebih spesifik. Ini pola yang sering mendahului fase ekspansi berikutnya," ujar Fahmi dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026). Ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dunia, yang kini mulai merambat ke sektor-sektor di luar energi dan pangan. Data inflasi CPI (Consumer price index) dan PCE (Personal consumption expenditures) AS terbaru menunjukkan efek domino yang mulai meluas, mempersulit posisi The Fed dan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan. Meski demikian, kepercayaan investor di pasar saham AS masih terjaga. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 1,11% dan 1,49% dalam lima hari terakhir, mengindikasikan pasar belum sepenuhnya memasuki mode defensif.
Baca Juga: IHSG Anjlok 4% dan Rupiah Tembus Rp 18.000, Ini Strategi yang Bisa Dilakukan Investor Di balik koreksi harga kripto, transformasi infrastruktur keuangan digital justru berakselerasi. DTCC, lembaga kliring tulang punggung Wall Street, mengumumkan rencana membawa saham, ETF, dan obligasi pemerintah AS ke jaringan blockchain publik mulai 2027. SoFi meluncurkan stablecoin sendiri, sementara Cash App mengintegrasikan pembayaran berbasis USDC kepada puluhan juta pengguna. Di sisi regulasi, CLARITY Act resmi masuk kalender Senat AS, yaitu sinyal kejelasan hukum yang selama ini ditunggu industri. "Koreksi harga dan akselerasi adopsi institusional berjalan bersamaan. Jika dua siklus sebelumnya menjadi acuan, koreksi seperti ini justru sering menjadi titik masuk yang paling menguntungkan bagi investor," lanjut Fahmi. Minggu ini, Anthropic yang merupakan perusahaan AI di balik Claude, mengajukan dokumen IPO secara rahasia. Menandai persiapan salah satu IPO saham teknologi terbesar dalam sejarah modern.
Langkah ini mempertegas bahwa gelombang IPO perusahaan-perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia sedang benar-benar dimulai. Lebih cepat dari Anthropic, satu nama terus memenuhi percakapan investor global, SpaceX. Perusahaan antariksa milik Elon Musk dengan valuasi lebih dari US$ 500 miliar ini diisukan akan segera melakukan IPO pada waktu dekat. Hal ini diekspektasi oleh investor global menjadi salah satu peristiwa pasar modal terbesar dalam sejarah.
Baca Juga: IHSG Makin Merana, Saham CUAN, BRPT, SCMA Anjlok Dua Digit Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News