Bitcoin Masih Tertekan, Intip Prospeknya hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin masih bergerak dalam tekanan setelah terkoreksi cukup dalam dari level tertingginya pada tahun lalu. Kondisi tersebut membuat prospek Bitcoin hingga akhir 2026 masih menjadi perhatian investor, di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan aset berisiko global.

Berdasarkan data Trading Economics, per 17 Agustus 2026 pukul 12.18 WIB, harga Bitcoin berada di level US$6 3.492, dengan penguatan 1,07% secara harian, koreksi 2,10% secara bulanan, dan koreksi 45,44% secara tahunan. Sementara itu, harga Bitcoin per 14 Agustus 2026 pukul 11.11 WIB berada di level US$ 63.334 dengan koreksi 0,11% secara harian, 1,99% secara bulanan, dan 45,98% secara tahunan.

Pergerakan tersebut menunjukkan Bitcoin masih berada dalam fase yang penuh tekanan. Meski demikian, prospek aset kripto tersebut hingga akhir tahun masih bergantung pada sejumlah sentimen, terutama kebijakan moneter AS, arus dana institusional, serta minat investor untuk kembali melakukan akumulasi.


Co-founder CryptoWatch sekaligus pengelola kanal Duit Pintar, Christopher Tahir melihat tekanan terhadap Bitcoin masih berlanjut hingga memasuki kuartal IV 2026. Ia menilai arah pergerakan aset kripto tersebut akan dipengaruhi oleh kondisi makro dan aktivitas investor di pasar.

Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,15% ke Rp 17.801 per Dolar AS pada Senin (17/8) Siang

"Hingga memasuki kuartal IV, saya perkirakan bitcoin masih akan cenderung tertekan. Dari sisi makro, masih bergantung pada keputusan The Fed. Dari sisi onchain, bergantung kepada berapa banyak investor yang menambah posisi mereka," ujar Christopher Senin (17/8/2026).

Sementara itu, CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis melihat koreksi Bitcoin saat ini masih perlu dicermati dengan mempertimbangkan level harga pada periode pembanding tahun lalu.

"Koreksi harga Bitcoin yang cukup dalam secara tahunan ini sebenarnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, karena basis pembandingnya, Agustus tahun lalu, adalah periode saat Bitcoin sedang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di atas US$120.000," kata Yudhono.

Menurutnya, kondisi tersebut lebih mencerminkan proses normalisasi setelah euforia harga, bukan semata-mata menunjukkan perubahan tren struktural Bitcoin.

Pergerakan Bitcoin ke depan masih akan sangat dipengaruhi kondisi likuiditas global. Yudhono melihat keputusan The Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu penentu utama, terutama karena perubahan ekspektasi suku bunga dapat mengubah minat investor terhadap aset berisiko.

Sentimen tersebut juga tercermin dari arus dana ETF Bitcoin spot. Perlambatan inflow belakangan ini menunjukkan investor institusional masih cenderung wait and see, sedangkan kembalinya arus dana secara konsisten dapat menjadi katalis bagi pemulihan harga.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 2.000 Jadi Rp 2.677.000 per Gram, Senin (17/8/2026)

Dinamika inflasi, yield obligasi Amerika Serikat (AS), kondisi geopolitik, dan selera risiko global turut memperkuat atau menekan sentimen.

Bagi investor Indonesia, perubahan harga di pasar global kemudian diterjemahkan melalui kondisi domestik. Indonesia bukan merupakan price setter Bitcoin, tetapi kepastian regulasi, pergerakan rupiah terhadap dolar AS, dan perkembangan produk aset digital dapat memengaruhi minat transaksi di pasar dalam negeri.

Pelemahan rupiah, misalnya, akan membuat nilai Bitcoin dalam rupiah meningkat meski harga dalam dolar AS tidak banyak berubah. Kondisi itu pada akhirnya dapat mempengaruhi keputusan investor untuk membeli, menahan posisi, atau mengurangi kepemilikannya.

Di tengah koreksi tersebut, Yudhono menilai Bitcoin tetap memiliki potensi sebagai aset alternatif investasi.

"Bitcoin tetap punya potensi sebagai aset alternatif dalam portofolio, tapi karakteristiknya perlu dipahami dengan tepat, jangan disamakan begitu saja dengan aset safe haven tradisional seperti emas," kata Yudhono.

Adapun dari sisi proyeksi harga, Yudhono melihat rentang Bitcoin hingga akhir 2026 masih sangat lebar. Skenario konservatif berada di kisaran US$ 45.000-US$ 90.000, sedangkan skenario optimistis berada di US$95.000-US$ 120.000.

Dalam skenario paling bullish, Bitcoin berpotensi mencapai US$ 150.000.

Sementara itu, Christopher memperkirakan Bitcoin dapat bertengger di kisaran US$ 50.000-US$ 55.000 hingga memasuki kuartal IV 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News