Bitcoin Masuk Zona Kapitulasi, Analis Prediksi Bottom di Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin kembali tertekan setelah gagal mempertahankan penguatan intraday di level US$68.300.

Pada Kamis (12/2/2026), Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$66.656, melanjutkan fase pelemahan yang oleh sejumlah analis disebut sebagai periode “kapitulasi”.

Sejak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 pada 2 Oktober 2025, Bitcoin telah terkoreksi sekitar 46%.


Baca Juga: Jayamas Medica (OMED) Yakin Kinerjanya Tumbuh pada 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya

Koreksi tajam ini membuat sebagian besar investor berada dalam posisi rugi (underwater), memicu tekanan jual lanjutan.

Sebagai informasi, mengacu data Coinmarketcap pukul 10.02 WIB Jumat (13/2/2026), Bitcoin di US$66.680 atau turun 1,02% dalam 24 jam terakhi. Sementara dalam sepekan, Bitcoin naik 2,73%.

Tekanan Jual Investor Jangka Panjang

Data dari Glassnode menunjukkan indikator long-term holder (LTH) net position change mencatat distribusi besar pada 6 Februari, dengan penurunan kepemilikan sekitar 245.000 BTC dalam sehari — salah satu level ekstrem dalam siklus ini.

Sejak saat itu, kelompok investor jangka panjang rata-rata mengurangi eksposur sekitar 170.000 BTC.

Lonjakan distribusi serupa sebelumnya terjadi pada fase koreksi 2019 dan pertengahan 2021, yang kemudian diikuti periode konsolidasi sebelum tren turun lebih panjang.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,12% ke Rp 16.848 per Dolar AS pada Jumat (13/2) Pagi

Sementara itu, data dari CryptoQuant menunjukkan indikator MVRV Adaptive Z-Score (365-Day Window) Bitcoin turun ke -2,66.

Kontributor CryptoQuant, GugaOnChain, menyebut level tersebut menegaskan bahwa Bitcoin masih berada di “zona kapitulasi” yang dalam.

“Pembacaan Z-Score saat ini membuktikan bahwa Bitcoin masih bertahan di zona kapitulasi,” ujarnya.

Namun ia menambahkan bahwa indikator tersebut juga menandakan pasar mulai mendekati fase akumulasi historis.

Indikator Realized Profit/Loss Ratio juga mendekati level di bawah 1, kondisi yang dalam sejarah sering kali mencerminkan fase di mana realisasi kerugian lebih dominan dibanding ambil untung secara luas di pasar.

Baca Juga: IHSG Melemah pada Perdagangan Jumat (12/2) Pagi, AMMN, SMGR, NCKL Top Losers LQ45

Bottom di US$40.000–50.000?

Sejumlah analis memperkirakan tren turun masih berlanjut sebelum harga mencapai titik terendah siklus ini.

Analis kripto Tony Research menyebut “kapitulasi final” masih ada di depan. Ia memperkirakan Bitcoin berpotensi menyentuh kisaran US$40.000–50.000, kemungkinan terbentuk antara pertengahan September hingga akhir November 2026.

Pandangan serupa disampaikan analis Titan of Crypto, yang mengamati pola siklus sebelumnya.

Pada pasar bearish 2018 dan 2022, titik terendah tercapai sekitar 12 bulan setelah puncak bull market. Jika pola tersebut terulang, maka titik terendah siklus saat ini bisa terjadi sekitar Oktober 2026.

Analis On-Chain College juga mencatat bahwa Net Realized Loss Bitcoin sempat menyentuh US$13,6 miliar pada 7 Februari level ekstrem yang terakhir terlihat pada bear market 2022.

Pada siklus sebelumnya, puncak realisasi kerugian terjadi sekitar lima bulan sebelum harga benar-benar mencapai dasar, membuka kemungkinan bottom terbentuk sekitar Juli 2026.

Baca Juga: Harga Emas Rebound Jumat (13/2) Pagi, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Fase Akumulasi atau Tekanan Lanjutan?

Meski tekanan jual masih kuat, beberapa indikator on-chain menunjukkan pasar mendekati fase akumulasi jangka panjang. Namun, ketidakpastian makroekonomi global dan dinamika likuiditas tetap menjadi faktor risiko.

Dengan volatilitas yang masih tinggi, perdebatan mengenai kapan Bitcoin mencapai dasar harga terus berlanjut.

Untuk saat ini, pasar tampaknya masih berada dalam fase transisi antara kapitulasi dan potensi akumulasi dengan akhir 2026 menjadi periode yang paling banyak disebut sebagai titik balik berikutnya.

Selanjutnya: Emas dan Perak Rebound Usai Rontok, Data AS Tahan Laju Pemangkasan Bunga

Menarik Dibaca: 7 Film Romantis Wajib Tonton Jomblo, Dijamin Bikin Semangat Move On

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News