Bitcoin Melemah pada Awal Tahun 2026, Tertekan Suku Bunga dan Geopolitik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi pada empat bulan awal tahun 2026. Mengutip Coin Market Cap, harga Bitcoin di level US$ 76.009, terkoreksi 13% secara year to date (ytd).

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, koreksi harga Bitcoin sekitar 13% dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi, geopolitik, dan dinamika pasar kripto itu sendiri. 

"Meskipun demikian, harga BTC saat ini mulai menunjukkan stabilisasi dengan bergerak di area $75.000–$78.000 setelah sempat turun lebih dalam di awal tahun," ujar Fyqieh kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).


Baca Juga: JPFA Bagikan Dividen Rp 1,62 Triliun, Simak Jadwal Lengkapnya

Dari sisi makro, Fyqieh melihat faktor utama datang dari kebijakan suku bunga The Fed yang masih cenderung “higher for longer”. The Fed menahan suku bunga di kisaran 3.50%–3.75% dan mengindikasikan bahwa inflasi masih tinggi. Sehingga belum ada sinyal kuat untuk penurunan suku bunga. Kondisi ini membuat aset berisiko seperti Bitcoin kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga. 

Selain itu, ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, serta kebijakan politik global (termasuk arah kebijakan Trump), meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong investor untuk bersikap lebih hati-hati (risk-off).

Dari sisi industri kripto, tekanan juga datang dari arus keluar dana institusional pada ETF Bitcoin spot yang sempat mencatat outflow sekitar US$ 263 juta, termasuk penarikan besar dari BlackRock. Hal ini mengurangi demand yang sebelumnya menjadi pendorong kenaikan harga. 

Ditambah lagi, terjadi likuidasi posisi long lebih dari US$ 141 juta yang mempercepat penurunan harga. 

"Kombinasi faktor ini, outflow ETF, likuidasi leverage, dan tekanan makro menjadi penyebab utama koreksi Bitcoin sejak awal tahun," jelas Fyqieh.

Baca Juga: SSMS Sepakat Bagikan Dividen Rp 800 Miliar dari Laba Buku 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: