Bitcoin Mendominasi Pasar Aset Kripto, Simak Tips Mulai Investasi BTC Berikut Ini



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bitcoin (BTC) masih begitu perkasa di industri aset kripto. Dominasi Bitcoin masih sulit dikalahkan oleh berbagai Alternative Coin (Altcoin).

Seperti diketahui, Bitcoin sudah naik tinggi sekitar 59,83% dari awal tahun ini ke level US$67.697 per Jumat (15/3) pukul 19.20 WIB. BTC bahkan baru saja turun dari level tertinggi sepanjang masa (ATH) pada US$73.750 yang dicapai pada Kamis (14/3).

Chief Executive Officer (CEO) Triv, Gabriel Rey, Bitcoin masih begitu superior untuk digantikan dengan altcoin saat ini. Apalagi, Bitcoin masih menyimpan potensi kenaikan yang lebih tinggi menjelang terjadinya Halving pada pertengahan April mendatang.


Berdasarkan chart Bitcoin Dominance, volume bitcoin di keseluruhan pasar saat ini mencapai titik tertinggi dalam dua tahun terakhir atau sekitar 54,73% (kecuali stable coin). Ini artinya Bitcoin masih mendominasi pasar, dimana masih banyak uang mengalir deras ke aset kripto tertua tersebut.

Baca Juga: Aset Saham, Kripto, Emas Kompak Naik Ke Level Tertinggi di Pekan Kedua Maret 2024

Gabriel menuturkan, kenaikan bitcoin baru-baru ini pun tidak serta merta telah mengerek harga altcoin. Berbagai altcoin memang terpantau naik, tapi masih banyak altcoin yang justru berlawanan dengan arah pasar yang tengah bullish.

Kemungkinan hanya sekitar 10%-20% altcoin yang mampu outperform mengikuti jejak kenaikan bitcoin. Sebagian besar Altcoin lainnya justru tampil underperform.

“Kita menanti Bitcoin Halving dan Bitcoin ETF, bukan Altcoin ETF. Jadi investor perlu memperhatikan tidak semua altcoin akan sama seperti Bitcoin,” ujar Gabriel saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (15/3).

Oleh karena itu, Gabriel menyarankan investor aset kripto untuk fokus terhadap Bitcoin. Investor dapat menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA), dengan cara cicil beli Bitcoin sebesar Rp 1 juta, setiap minggu, selama 3 tahun.

Berdasarkan kalkulasinya, strategi DCA Bitcoin tersebut bisa menghasilkan return sekitar 21% per tahun. Sementara apabila investor melakukan lump sum atau langsung beli dalam jumlah besar, maka dalam 3 tahun hanya hasilkan return sekitar 17% per tahun.

Gabriel bilang, strategi ini secara langsung telah disediakan untuk nasabah Triv. Bagi yang ingin melakukan DCA bitcoin dapat memanfaatkan fitur Auto Invest yang bisa mencicil beli tiap minggu dan tiap bulan.

“Cara terbaik untuk masuk Bitcoin adalah Dolar Cost Averaging, bukan lump sum dalam jumlah besar,” jelasnya.

Baca Juga: Investor Gencar Berinvestasi di Meme Coin Pepe, Nilainya Pun Meroket

Kendati Bitcoin baru saja turun dari level tertingginya, Gabriel melihat Bitcoin masih berpotensi untuk kembali naik. Koreksi saat ini dianggap wajar karena sudah naik tinggi, selama tidak jatuh di level bawah US$ 65.000.

Gabriel optimistis Bitcoin masih berpotensi terus naik hingga kisaran US$ 90.000 -US$ 100.000 di tahun 2024. Dia menyebutkan, setidaknya terdapat 3 faktor utama yang akan mendukung harga bitcoin ataupun altcoin di tahun ini.

Pertama, kehadiran ETF Ethererum berpotensi akan menarik lebih banyak lagi dana ke pasar kripto seperti yang terjadi pada ETF Bitcoin. Dimana, persetujuan ETF Ethereum akan diumumkan pada 23 Mei 2024 mendatang yang kemungkinan besar disetujui.

Kedua, industri kripto akan disuguhkan fenomena halving bitcoin pada pertengahan bulan April 2024 yang dimaknai sebagai pesta industri kripto. Sebab, harga BTC selalu naik signifikan saat halving dilaksanakan selama 4 tahun sekali, sejak tahun 2012.

Ketiga, pasar keuangan tahun ini diperkirakan lebih lega seiring potensi pemangkasan suku bunga. Posisi suku bunga acuan yang tinggi biasanya mencekik aset berisiko tinggi seperti kripto.

“Dari ketiga sentimen tersebut semuanya positif, dan tidak ada sentimen negatif yang bisa membuat kripto terkoreksi hingga sejauh ini,” papar Gabriel.

Co-Founder Komunitas BitcoinIndo21 dan Bitcoin Indonesia Dimas Surya Alfaruq menilai, pasar kripto akan menghijau saat Bitcoin Halving. Hal itu karena Bitcoin Halving akan membuat laju pasokan Bitcoin di pasar berkurang, sehingga memungkinkan harga Bitcoin berpotensi naik signifikan.

Secara historis, halving Bitcoin di tahun 2013 mencatat peningkatan harga hingga 93,1 kali setara 164 juta. Kemudian Halving di tahun 2017, harga Bitcoin meningkat 30,1 kali yang membuat Bitcoin mencapai level Rp 300 juta. Selanjutnya tahun 2021 meningkat sebesar 7,8 kali, menyentuh All-Time-High (ATH) di angka Rp 939 juta.

Saat ini pun pasar kripto dapat dikatakan tengah berada di fase bullish, terlihat pada harga-harga yang cenderung stabil. Selain itu, permintaan terhadap Bitcoin juga terus meningkat sejak adanya Bitcoin ETF di awal Januari 2024, sebanyak 10 kali dari produksi harian Bitcoin.

Baca Juga: Perencanaan Keuangan Saat Bulan Ramadan, Investor Bisa Manfaatkan Kripto dan Saham

Oleh karena itu, Dimas berujar, investor perlu mempersiapkan strategi trading dan investasinya agar dapat memanfaatkan situasi pasar dengan baik. Investor dapat menabung rutin atau Dollar Cost Averaging (DCA) dan diversifikasi di sejumlah aset kripto.

“Karena Halving Bitcoin juga berpotensi mempengaruhi naiknya harga aset-aset kripto lainnya,” kata Dimas dalam acara Reku Finance Flash, Kamis (14/3).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari