KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga Bitcoin masih dibayangi tekanan hingga akhir 2026 di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Melansir CoinMarketCap pada Kamis (29/10), harga Bitcoin pada pukul 17.30 WIB bertengger di level US$ 80.129, melemah 1,54% secara harian dan 2% sepekan terakhir. Namun, tadi pagi usai pengumuman suku bunga The Fed, Bitcoin sempat turun ke kisaran US$ 79.700. Padahal, Bitcoin sebelumnya sudah bertahan di atas level US$ 80.000 dalam sebulan terakhir.
Co-Founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menyebut, meski The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan, pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada Desember 2026. "Hal ini dikarenakan harga minyak yang masih cenderung cukup tinggi dikarenakan adanya potensi eskalasi yang baru di Timur Tengah," ujar Christopher kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Cinema XXI (CNMA) Tebar Dividen Interim Rp 333,12 Miliar, Cek Jadwal Pembayarannya Christopher memperkirakan, tekanan terhadap harga Bitcoin masih berlanjut hingga akhir tahun ini. "Menurut saya, hingga akhir tahun ini Bitcoin masih akan cenderung tertekan dan sangat bergantung kepada arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat," katanya. Sementara itu, Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, memperkirakan harga Bitcoin berpotensi bergerak dalam kisaran US$ 72.000-US$ 95.000 hingga akhir 2026. Skenario dasar yang digunakan adalah konsolidasi, sehingga BTC masih membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk menembus level harga yang lebih tinggi. Di tengah ketidakpastian pasar, Andy menilai Bitcoin tengah berada dalam fase konsolidasi setelah mencapai titik terendah (bottom). “Secara historis, Bitcoin biasanya akan menghabiskan waktu beberapa bulan di fase ini sebelum kembali melanjutkan momentum bullish-nya,” jelasnya. Di tengah kondisi pasar yang volatil, Christopher menyarankan investor dengan orientasi jangka panjang untuk tetap menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA), yakni mengakumulasi aset secara berkala dengan nominal yang telah ditentukan.
Baca Juga: Laba Pertamina Geothermal (PGEO) Naik 21,43% di Kuartal III-2026, Begini Prospeknya Adapun untuk pilihan aset, Christopher menyarankan investor jangka panjang untuk berfokus pada Bitcoin dan Ether. Ia menilai, saat ini belum terdapat katalis positif yang signifikan untuk mempertahankan momentum pemulihan harga aset kripto. Pun Andy menyebut untuk investor dengan toleransi risiko tinggi, sejumlah altcoin berkapitalisasi pasar besar yang dapat dicermati, seperti Ethereum, Solana, dan Hyperliquid, untuk dipertimbangkan dalam portofolio pada siklus pasar berikutnya. Selain altcoin, aset tertokenisasi atau tokenized real-world assets (RWA) juga dinilai relevan sebagai salah satu pilihan diversifikasi portofolio. Melalui teknologi blockchain, aset tertokenisasi dapat memberikan eksposur terhadap aset lain, seperti saham perusahaan global dan emas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News