Bitcoin Tembus Level US$ 85.000, Ini yang Terjadi di Pasar Futures Kripto



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin kembali menguat dan menembus level US$ 86.000, seiring penyesuaian posisi pelaku pasar setelah sentimen kenaikan suku bunga The Fed dan perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat (AS). 

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (22/9/2026) pukul 18.20 WIB, Bitcoin bertengger di kisaran US$ 86.041, menguat 1,78% dalam 24 jam terakhir dan 11,65% dalam sepekan.

Salah satu Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime, mencermati penguatan Bitcoin terjadi setelah pasar melewati dua agenda penting pada pekan sebelumnya, yakni keputusan suku bunga The Fed dan perkembangan  Clarity Act di Senat AS.


Pada 16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%.

Baca Juga: Menguat 3,90% Dalam Sepekan, Harga Bitcoin di Level US$ 77.000

Sehari sebelum itu, Senat AS gagal melanjutkan proses legislasi Clarity Act setelah pemungutan suara hanya memperoleh 50 suara berbanding 49, di bawah ambang 60 suara yang diperlukan. 

Berdasarkan pemberitaan Reuters, Bitcoin dan sejumlah aset kripto sempat mengalami tekanan setelah hasil pemungutan suara tersebut.

Namun, harga Bitcoin kemudian kembali melonjak dan menembus US$ 85.000 pada 21 September. Berdasarkan pemberitaan The Block, lebih dari US$ 750 juta posisi kripto mengalami likuidasi. Sekitar US$ 648,3 juta di antaranya berasal dari posisi short.

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan perubahan tersebut menunjukkan bahwa respons pelaku pasar terhadap perkembangan makroekonomi dan regulasi dapat berlangsung cepat.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar dapat kembali menyesuaikan posisi dalam waktu singkat. Karena itu, penting untuk melihat perubahan harga bersama dengan volume perdagangan, posisi Futures, serta perkembangan sentimen pasar secara keseluruhan,” ujar Ryan dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).

Ryan mencatat perubahan aktivitas di pasar Futures sudah terlihat sebelum kedua agenda tersebut berlangsung.

Baca Juga: Laju Kenaikan Harga Bitcoin Belum Terbendung, Tembus Level US$ 75.000

Berdasarkan data Sentiment yang dikutip CoinNess, open interest Bitcoin Futures turun sekitar 13,5%, dari 321.497 BTC pada 3 September menjadi 278.151 BTC pada 11 September.

Penurunan open interest tersebut menunjukkan adanya pengurangan posisi atau leverage oleh sebagian pelaku pasar menjelang agenda yang berpotensi meningkatkan volatilitas.

Data dari situs Talos menunjukkan untuk periode 10-16 September juga menunjukkan volume perdagangan Futures meningkat 6,3% secara mingguan menjadi US$ 1,07 triliun. 

Di sisi lain, open interest Bitcoin dalam denominasi dolar turun 1,6% menjadi US$ 44,4 miliar.

Likuidasi Bitcoin meningkat 15,9% secara mingguan menjadi US$ 398,3 juta, dengan aktivitas likuidasi terkonsentrasi di sekitar waktu kegagalan pemungutan suara Clarity Act.

Setelah Bitcoin kembali menguat, aktivitas Futures ikut meningkat. Berdasarkan pemberitaan The Block, lebih dari US$ 648 juta posisi short mengalami likuidasi ketika Bitcoin menembus US$ 85.000.

Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 78.000, Waspada Ada Koreksi Jelang Keputusan The Fed

Ryan menambahkan bahwa perubahan posisi di pasar Futures perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dan tidak secara otomatis menunjukkan arah pergerakan Bitcoin berikutnya.

“Kenaikan aktivitas Futures dan likuidasi posisi short dapat memperkuat pergerakan harga dalam jangka pendek, tetapi kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa tren tertentu akan berlanjut. Trader tetap perlu memahami bahwa posisi di pasar Futures dapat berubah cepat mengikuti volatilitas dan sentimen pasar,” tambah Ryan.

Di tengah kondisi itu, Bittime mencatat BTCUSDT-PERP menghasilkan aktivitas perdagangan yang melampaui pair lainnya sepanjang pekan, diikuti ARBUSDT-PERP, UNIUSDT-PERP, XRPUSDT-PERP, dan ETHUSDT-PERP.

Menurut Ryan, dominasi pair tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Futures tidak hanya terpusat pada aset dengan kapitalisasi pasar terbesar, tetapi juga mencakup aset kripto lain yang memiliki aktivitas perdagangan cukup tinggi di platform.

Baca Juga: Bitcoin Tembus US$80.000, Pelemahan Dolar AS Jadi Katalis Penguatan

“Futures memberikan fleksibilitas melalui pilihan posisi long dan short, tetapi penggunaan leverage juga dapat memperbesar risiko ketika pergerakan pasar tidak sesuai dengan posisi yang diambil. Karena itu, trader perlu memahami margin, leverage, likuidasi, dan manajemen risiko sebelum menggunakan produk Futures,” pungkas Ryan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News