Bitcoin Tembus US$80.000, Pelemahan Dolar AS Jadi Katalis Penguatan



​KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin kembali menembus level US$80.000 setelah menguat sekitar 5%. Penguatan Bitcoin terjadi ketika dolar AS melemah di tengah dugaan intervensi Bank of Japan (BOJ) untuk menopang nilai tukar yen.

Mengacu data CoinMarketCap, Jumat (4/9/2026) pukul 09.08 WIB, harga Bitcoin berada di level US$81.077 per koin, naik 4,97% dalam 24 jam terakhir.

Baca Juga: 2 Minggu Penawaran, SR025 Laku Rp 9 T Lebih, Cek Cara Investasi Sukuk Kupon 6,8%-6,9%


Melansir Cointelegraph, penguatan Bitcoin terjadi seiring pelemahan dolar AS yang menjadi salah satu katalis positif bagi aset kripto. Indeks dolar AS (DXY) turun ke level 99 setelah yen Jepang menguat tajam terhadap dolar AS.

Pasangan USD/JPY yang sebelumnya berada di sekitar 158,5 pada Rabu kembali turun hingga 155,4.

Pergerakan tersebut memperkuat dugaan bahwa otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen.

Secara historis, pelemahan DXY cenderung memberikan sentimen positif bagi Bitcoin. Sebab, penurunan dolar AS dapat meningkatkan daya tarik aset berisiko, termasuk aset kripto.

Baca Juga: El Niño Mengintai, Saham Dharma Satya (DSNG) Dinilai Masih Menarik dan Undervalued

Saham Strategy Ikut Menguat

Penguatan pasar kripto turut mendorong saham Strategy, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor dan dikenal sebagai salah satu perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar.

Saham Strategy (MSTR) melonjak 8,6% pada Rabu. Dengan kenaikan tersebut, saham MSTR telah menguat sekitar 70% dari level terendah pada akhir Juni.

Meski demikian, saham tersebut masih mencatatkan penurunan sekitar 10% sejak awal tahun.

Sementara itu, saham preferen perpetual Strategy, STRC, yang sebelumnya kerap dibandingkan dengan instrumen pasar uang, masih diperdagangkan di bawah nilai pari US$100. Harga STRC berada di sekitar US$97,80.

Baca Juga: JP Morgan Sebut Harga Minimal Saham Rp 1 Dongkrak Likuiditas, Cek Daftar Saham Gocap

Dugaan Intervensi Jepang Picu Kekhawatiran Carry Trade

Di sisi lain, dugaan intervensi Jepang untuk menopang yen justru memunculkan kekhawatiran baru di pasar global.

Penguatan yen yang berlangsung cepat, ditambah ekspektasi BOJ menaikkan suku bunga bulan ini, meningkatkan risiko kembali terjadinya unwinding pada strategi carry trade.

The Macro Paper melalui unggahan di X mengatakan penurunan USD/JPY hampir 2,5% dalam 24 jam sulit terjadi tanpa adanya intervensi besar.

"Selain itu, BOJ kemungkinan besar diperkirakan menaikkan suku bunga bulan ini, dengan kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin terjadi pada kuartal IV," tulis The Macro Paper.

Situasi tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan kondisi pada kuartal III 2024 ketika BOJ melakukan intervensi sekaligus menaikkan suku bunga.

Ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ juga semakin menguat. Probabilitas BOJ mempertahankan suku bunga dalam perdagangan Polymarket turun dari 12% menjadi hanya 1% pada Rabu.

Sementara itu, probabilitas berbasis pasar untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan BOJ 18 September mencapai 98%.

Baca Juga: Komoditas Batubara Dinilai Lebih Menarik dari Emas, Indo Premier Pilih AADI dan PTBA

Intervensi Yen Berpotensi Positif bagi Likuiditas

Meski demikian, sebagian pelaku pasar melihat intervensi mata uang Jepang dari sisi yang lebih positif karena berpotensi meningkatkan likuiditas global.

Chief Investment Officer Maelstrom Arthur Hayes telah lama memperkirakan fasilitas Foreign and International Monetary Authorities (FIMA) repo dapat digunakan Jepang untuk memperoleh likuiditas dolar AS dengan menjaminkan surat utang AS sebagai agunan.

Menurut pandangan tersebut, mekanisme ini dapat membantu melonggarkan kondisi likuiditas global.

Hingga kini belum terlihat adanya dana yang ditarik melalui fasilitas tersebut. Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah membuka kemungkinan penggunaan fasilitas tersebut pada akhir Juli.

Pergerakan nilai tukar yen, kebijakan BOJ, serta arah indeks dolar AS selanjutnya akan menjadi faktor penting bagi pergerakan Bitcoin dan aset berisiko lainnya.

Baca Juga: IHSG Tembus 6.650, BRI Danareksa Rekomendasikan 3 Saham untuk Dibeli

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News