Bitcoin tengah menanjak, bagaimana prospek altcoins ke depan?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan harga uang kripto diprediksi masih akan memanjang di tahun ini, termasuk harga bitcoin yang nyaris menembus level US$ 50.000 per btc, prediksinya di jangka panjang kenaikan bisa berlanjut hingga US$ 100.000 per btc. Bagi yang merasa level saat ini sudah terlalu mahal, maka altcoins bisa mulai dilirik sebagai pilihan untuk diversifikasi.

Mengutip laman coinmarket pada Minggu (14/2) pukul 17.57 WIB harga bitcoin sempat menyentuh level tertingginya di US$ 49.258 per btc atau sekitar Rp 689 juta per btc (kurs Rp 14.000 per dollar AS).

Co-founder Cryptowatch dan pengelola channel Duit Pintar Christopher Tahir memprediksi, level US$ 50.000 per bitcoin (btc) bakal cukup mudah ditembus dalam waktu dekat. Hanya saja, investor tetap perlu memperhatikan risiko profit taking yang bisa terjadi sewaktu-waktu.


"Seperti 2017, semakin tinggi harga, semakin tinggi pula volatilitasnya. Itu dikarenakan, akan ada potensi pemain besar yang ambil untung di tengah kenaikan signifikan," ungkap Chris kepada Kontan, Minggu (14/2).

Baca Juga: Bitcoin Terkoreksi Usai Naik Tajam, Kalau Mau Masuk Lagi Tunggu US$ 30.000 per btc

Untuk jangka panjang, Chris optimistis harga bitcoin bisa tembus ke level US$ 100.000 per btc. Melihat potensi fantastis tersebut, saat berinvestasi bitcoin dia merekomendasikan untuk melakukan dollar cost aveaging dengan penjagaan risiko yang tepat. "Ingat, hanya gunangan uang nganggur dan bukan uang pribadi," tekannya.

Adapun tren kenaikan bitcoin akhir-akhir ini, menurutnya sebagian besar dipicu oleh maraknya pembeli bitcoin dari kalangan institusi, bukan hanya Tesla, melainkan juga Grayscale, MicroStrategy dan perusahaan lainnya. Ditambah lagi, mulai banyak kabar bertebaran terkait rencana institusi lainnya yang bakal ikut meramaikan pasar uang kripto.

Berkaca dari kondisi tersebut, Chris tetap merekomendasikan investor yang bakal masuk pasar uang kripto untuk menjaga risiko, dikarenakan ada kemungkinan pembelian oleh institusi dilakukan jauh hari sebelum adanya pengumuman di publik terjadi. Dengan begitu, menurutnya akan lebih baik unttku menganalisis pergerakan volume dari Bitcoin terlebih dahulu.

Di sisi lain, Chris mengungkapkan bahwa tren pergerakan harga bitcoin umumnya bakal diikuti pergerakan semua alternative coins atau altcoins. Ketika harga bitcoin dianggap sudah terlalu mahal oleh pelaku pasar, perhatian akan beralih ke altcoins sekaligus pilihan untuk diversifikasi. Sayangnya, pasca gugurnya ratusan bahkan mungkin ribuan altcoins di 2018 silam, membuat produk altcoins di 2021 agak berbeda.

"Hanya altcoins yang benar-benar bagus saja yang bisa mengikuti BTC. Lantas apakah Doge mengikuti? Sedikit banyak ada, namun tetap hati-hati karena filosofi koin tersebut hanya untuk ujicoba saja," jelasnya.

Baca Juga: Analis rekomendasikan beli Bitcoin saat harga di bawah US$ 35.000

Sempat melejit di Januari 2021, Doge koin dibuat dengan tujuan untuk "main-main", artinya koin tersebut diciptakan bukan untuk sesuatu yang serius, melainkan hanya sebagai project percibaan dengan mengcopu source code dari Bitcoin. Penciptanya pun mengganti logo dengan meme anjing (Shiba Inu) dan diberi nama Doge Coin. Selain itu, pergerakan harga Doge koin juga tidak melulu mengalami pembaharuan seperti halnya bitcoin.

Editor: Noverius Laoli