Bitcoin Tertahan di US$68.700, Investor Jangka Pendek Jadi Beban



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) masih kesulitan menembus level US$68.700. Platform analisis kripto Glassnode menilai salah satu hambatan utama berasal dari investor jangka pendek yang cenderung menjual ketika harga kembali mendekati titik impas.

Investor yang membeli Bitcoin dalam enam bulan terakhir menjadi salah satu faktor yang menahan upaya aset kripto tersebut untuk keluar dari rentang perdagangan yang telah berlangsung sejak Juni.

Baca Juga: Catat Saham di Bursa Hong Kong, Merdeka Gold (EMAS) Ubah Nama Mandarin


Dalam laporan mingguannya, Glassnode menyebut kelompok short-term holders (STH) atau pemegang Bitcoin jangka pendek secara agregat masih mengalami kerugian sekitar 7,2%.

Harga rata-rata perolehan atau realized price kelompok investor tersebut berada di sekitar US$68.700. Level ini menjadi salah satu area resistensi penting yang harus ditembus Bitcoin untuk melanjutkan kenaikan.

"Cost-basis ladder menunjukkan kebuntuan. Harga spot berada sedikit di atas Median Realized Price di US$63.000 dan masih di bawah Short-Term Holder Cost Basis di US$68.700, yang merupakan rata-rata harga masuk investor terbaru," tulis Glassnode, dikutip dari Cointelegraph, Kamis (13/8/2026).

Menurut Glassnode, investor jangka pendek yang masih berada dalam posisi rugi cenderung menjual ketika harga Bitcoin mulai pulih dan mendekati harga beli mereka.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan jual setiap kali Bitcoin mendekati level US$68.700.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (13/8/2026) pukul 21.00 WIB, harga Bitcoin berada di US$63.678, turun 0,13% dalam 24 jam terakhir. Dalam sepekan, Bitcoin telah terkoreksi lebih dari 1%.

Baca Juga: Wall Street Naik, Investor Cermati Penurunan Harga Minyak dan Data Inflasi Produsen

Bitcoin Terjebak di Rentang US$58.000-US$68.000

Bitcoin telah bergerak dalam rentang relatif sempit antara US$58.000 hingga US$68.000 sejak awal Juni.

Pergerakan harga semakin terbatas setelah garis tren 50 bulan di sekitar US$65.800 turut menjadi salah satu level penghalang kenaikan.

Analis dan trader Rekt Capital juga memperingatkan bahwa level US$63.000 mulai kehilangan kekuatannya sebagai area support.

Menurutnya, setiap kali Bitcoin memantul dari level tersebut, kenaikannya cenderung semakin terbatas.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko penurunan apabila Bitcoin akhirnya menembus ke bawah support US$63.000.

Baca Juga: Suku Bunga Global Masih Tinggi, Reksadana Obligasi Bisa Jadi Pilihan Defensif

Konsentrasi Bitcoin di US$62.000-US$65.000

Tekanan terhadap Bitcoin juga tercermin dari dinamika pasokan di jaringan blockchain.

Bitfinex Alpha, unit riset dari bursa kripto Bitfinex, mencatat sebagian besar pasokan Bitcoin berpindah secara on-chain selama periode perdagangan yang bergerak dalam rentang tersebut.

Menurut Bitfinex Alpha, sebanyak 1.794.308 BTC, atau sekitar 8,93% dari total pasokan Bitcoin yang beredar, memiliki basis harga pada kisaran US$62.000-US$65.000. Konsentrasi terbesar berada di sekitar US$63.800.

Data tersebut berasal dari UTXO Realised Price Distribution (URPD), yang mencatat harga ketika suatu koin terakhir kali berpindah di jaringan blockchain.

"Alasan batas rentang tersebut begitu kuat adalah struktur kepemilikannya," kata Bitfinex Alpha.

Baca Juga: IIF Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Senilai Rp 500 Miliar pada November 2026

Ketika harga Bitcoin bergerak di kisaran US$62.000-US$65.000, konsentrasi besar pemegang Bitcoin dalam rentang sempit tersebut terus berpindah antara posisi untung dan rugi.

Kondisi ini mendorong volume Bitcoin berpindah tangan dalam jumlah besar.

Di atas level US$68.700, Bitcoin juga menghadapi level psikologis penting lainnya, yakni US$69.400, yang merupakan rekor harga Bitcoin pada November 2021.

Dengan demikian, Bitcoin masih menghadapi sejumlah hambatan sebelum mampu melanjutkan reli.

Level US$68.700 menjadi resistance utama, sementara US$69.400 menjadi tantangan berikutnya jika Bitcoin berhasil menembus level tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News