KONTAN.CO.ID - Sejumlah indikator menunjukkan pasar Bitcoin masih menghadapi tekanan pada 2026. Harga Bitcoin sempat terkoreksi hingga 33%. Data terbaru Reuters menunjukkan setidaknya ada empat indikator yang mengisyaratkan pasar kripto, khususnya Bitcoin, masih berada dalam fase yang penuh tekanan. Mulai dari anjloknya kapitalisasi perusahaan pemegang aset kripto hingga melemahnya aktivitas perdagangan.
1. Harga Bitcoin Sudah Turun hingga 33% Sepanjang 2026
Indikator pertama tentu berasal dari harga Bitcoin sendiri. Reuters mencatat Bitcoin sempat kehilangan sekitar 33% nilainya sepanjang 2026. Tekanan tersebut dipicu kombinasi berbagai faktor, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, hingga perubahan arah kebijakan Federal Reserve di bawah Ketua baru, Kevin Warsh. Turunnya harga Bitcoin ikut menggerus nilai aset perusahaan-perusahaan yang menjadikan Bitcoin sebagai cadangan utama.2. Kapitalisasi Perusahaan Treasury Kripto Turun Lebih dari Separuh
Tekanan juga terlihat dari nilai perusahaan-perusahaan Digital Asset Treasury (DAT), yakni perusahaan publik yang menyimpan aset kripto sebagai aset utama. Data Artemis Terminal menunjukkan kapitalisasi pasar gabungan perusahaan treasury kripto sempat mencapai sekitar US$140 miliar pada Juli 2025 ketika pasar kripto berada di puncak euforia. Namun hingga pertengahan 2026, nilainya tinggal sekitar US$60 miliar. Artinya, kapitalisasi pasar kelompok perusahaan tersebut telah menyusut lebih dari 50%, mencerminkan turunnya optimisme investor terhadap sektor ini. Baca Juga: Bitcoin-Ethereum Kehilangan Momentum, Citi Turunkan Proyeksi 12 Bulan3. Valuasi Perusahaan Kini Lebih Rendah dari Nilai Asetnya
Indikator ketiga berasal dari market-to-net asset value (mNAV). Rasio ini membandingkan kapitalisasi pasar perusahaan dengan nilai aset kripto yang dimilikinya. Pada 2025, mayoritas perusahaan treasury kripto diperdagangkan dengan mNAV di atas 1. Namun sejak November 2025, mNAV gabungan turun di bawah angka 1 dan belum kembali pulih hingga sekarang. Artinya, banyak perusahaan kini diperdagangkan dengan valuasi yang bahkan lebih rendah dibanding nilai aset kripto yang mereka miliki.4. Aktivitas Perdagangan Investor Ikut Menurun
Menurut data Artemis Terminal, volume perdagangan mingguan saham perusahaan treasury kripto sempat mencapai sekitar US$65 miliar pada pertengahan 2025. Namun sepanjang 2026, volumenya lebih sering bergerak di kisaran US$15 miliar hingga US$30 miliar per pekan. Penurunan aktivitas transaksi ini menunjukkan minat investor terhadap sektor tersebut belum kembali seperti saat pasar sedang bullish. Baca Juga: Goldman Sachs Rilis ETF Bitcoin Saat Harga AnjlokStrategy Mulai Menjual Bitcoin
Di tengah kondisi pasar tersebut, Strategy mengumumkan telah menjual sekitar US$218 juta Bitcoin sepanjang tahun ini atau sekitar Rp3,94 triliun. Dana tersebut digunakan untuk membayar dividen dan memperkuat cadangan kas perusahaan.| Peringkat | Perusahaan | Aset | Nilai Kepemilikan |
|---|---|---|---|
| 1 | Strategy | Bitcoin | US$51,23 miliar |
| 2 | BitMine Immersion Technologies | Ethereum | US$9,01 miliar |
| 3 | Twenty One Capital | Bitcoin | US$2,63 miliar |
| 4 | Metaplanet | Bitcoin | US$2,43 miliar |
| 5 | MARA Holdings | Bitcoin | US$2,19 miliar |
| 6 | Bitcoin Standard Treasury Company | Bitcoin | US$1,81 miliar |
| 7 | Bullish | Bitcoin | US$1,47 miliar |
| 8 | Sharplink | Ethereum | US$1,40 miliar |
| 9 | Strive Asset Management | Bitcoin | US$1,20 miliar |
| 10 | SpaceX | Bitcoin | US$1,13 miliar |