Bittime: Prospek Pasar Kripto Semester II 2026 Masih Penuh Tantangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Platform perdagangan aset kripto, Bittime, menilai pasar aset kripto masih akan menghadapi berbagai tantangan pada semester II-2026.

Ketegangan geopolitik, konflik di sejumlah kawasan, fluktuasi harga minyak, hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral diperkirakan masih akan mempengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk aset kripto. 

Tekanan tersebut tercermin pada kinerja Bitcoin sepanjang semester pertama 2026.


Baca Juga: Harga Kripto Terkoreksi pada Bulan Juni, Rotasi Dana ke Saham AI dan IPO Jadi Pemicu

Pada Jumat (3/7/2026) pukul 15.20 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$ 61.665,06 atau melemah 7,95% dalam sebulan terakhir.

Bahkan, harga aset kripto terbesar di dunia itu sempat turun lebih dari 30% sepanjang tahun berjalan dan sempat diperdagangkan di bawah US$ 59.000. 

Jika dibandingkan puncaknya di kisaran US$ 126.000 pada Oktober tahun lalu, harga Bitcoin telah terkoreksi lebih dari 50%, menghapus lebih dari US$ 2 triliun kapitalisasi pasarnya.

Kinerja Bitcoin juga tertinggal dibandingkan saham AS, emas, maupun minyak mentah pada periode yang sama. 

Selain dipengaruhi faktor makro ekonomi, pasar kripto juga menghadapi pergeseran minat sebagian investor ke sektor artificial intelligence (AI).

Di tengah kondisi tersebut, perkembangan regulasi dinilai berpotensi menjadi katalis baru bagi industri aset digital. 

Di Indonesia, penguatan regulasi pasar kripto diharapkan bisa terus berlanjut melalui revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK). 

Baca Juga: Bukan Lagi Bobol Sistem, Penjahat Siber Kini Incar Kelengahan Pengguna Kripto

Selain itu, POJK Nomor 6 Tahun 2026 tentang Perilaku Penyampaian Informasi Sektor Jasa Keuangan dinilai dapat meningkatkan transparansi informasi dan perlindungan investor, terutama di tengah besarnya peran influencer dan key opinion leader (KOL). 

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan volatilitas pasar kemungkinan masih akan berlanjut. Namun, menurutnya, kepastian regulasi di berbagai negara menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan industri dalam jangka panjang. 

"Ketidakpastian ekonomi global masih akan mempengaruhi pasar kripto. Namun, kami melihat perkembangan regulasi di berbagai negara memberikan kepastian yang dibutuhkan industri sekaligus meningkatkan kepercayaan investor," ujar Ryan dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).

Menurut Ryan, regulasi yang semakin matang juga membuka ruang bagi pelaku industri untuk terus berinovasi.

"Regulasi yang jelas tidak selalu membuat pasar langsung bullish, tetapi menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan," tambahnya. 

Di tengah kondisi pasar kripto yang masih berfluktuasi ini, Bittime memberikan rekomendasi kepada investor untuk mulai mencermati Tokenized US Stocks.

Baca Juga: Minat Investor pada Tokenisasi Aset di PINTU Meningkat 40%, Saham AS Jadi Incaran

Kata Ryan, Melalui Tokenized US Stocks, pengguna dapat memperoleh eksposur terhadap saham-saham perusahaan teknologi global, termasuk sektor artificial intelligence (AI) seperti NVDAX, METAX, GOOGLX, dan AAPLX, dalam bentuk aset digital.

Melalui flexible staking di platform Bittime, pengguna dapat memperoleh reward hingga 7% APR sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.

Berbeda dengan dividen saham yang umumnya dibagikan setiap kuartal atau tahunan, reward pada staking ini didistribusikan setiap hari tanpa periode lock-up, sehingga pengguna tetap memiliki fleksibilitas untuk mengelola asetnya kapan saja.

Ryan menambahkan, di tengah dinamika pasar, investor tetap perlu mengedepankan manajemen risiko dan berfokus pada tujuan investasi jangka panjang. 

"Semester kedua masih akan diwarnai berbagai tantangan. Namun, di tengah dinamika tersebut, investor perlu tetap disiplin dalam mengelola risiko serta fokus pada tujuan investasi jangka panjang. Seiring semakin matangnya regulasi, kami optimistis industri aset digital akan berkembang ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan," tutup Ryan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News