BKPM dan IWIP Dorong Kemitraan Inklusif: Perkuat UMKM Maluku Utara



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) gandeng PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) untuk memperkuat kemitraan antara dunia usaha dan UMKM guna meningkatkan kapasitas, memperluas akses pasar, serta mendorong daya saing pelaku usaha lokal di Maluku Utara.

Perkembangan investasi dan industri di Maluku Utara turut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang.

Kehadiran IWIP menjadi bagian dari perkembangan tersebut yang telah memberikan dampak positif bagi Kabupaten Halmahera Tengah dan Maluku Utara secara lebih luas, sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam ekosistem industri.


Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Diseminasi Kebijakan Kemitraan Usaha Nasional dalam Rangka Penanaman Modal yang mempertemukan 160 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan IWIP dan sejumlah tenant di kawasan industri di Ternate, Maluku Utara, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Kewajiban Halal Berlaku Oktober, Industri Kosmetik Masih Ketar-ketir

Kegiatan ini membuka akses UMKM terhadap peluang kemitraan, pembiayaan, dan rantai pasok industri melalui pengenalan profil serta kapasitas usaha.

Rangkaian kegiatan mencakup talkshow “Penguatan Ekosistem Kemitraan dan Pembiayaan Inklusif bagi UMKM,” dua sesi business matching, dan pemberian penghargaan kepada lima UMKM mitra IWIP.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Gubernur Maluku Utara H. Sarbin Sehe dan dilanjutkan oleh Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional Noor Sona Maesana Mushonnif.

Wakil Gubernur Maluku Utara H. Sarbin Sehe mengatakan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus membuka ruang bagi investasi yang bertanggung jawab sekaligus mendorong pengembangan potensi daerah, termasuk di sektor kelautan, perikanan, dan perkebunan.

Pertumbuhan investasi diharapkan dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan membuka lebih banyak kesempatan bagi pengusaha lokal.

“Pemerintah membutuhkan mitra untuk berkolaborasi memenuhi kebutuhan daerah dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Kami ingin investasi yang berkembang di Maluku Utara juga membuka semakin banyak kesempatan bagi pengusaha lokal. Kami juga bangga kehadiran IWIP telah membawa perubahan bagi Halmahera Tengah,” ujar Sarbin Sehe dalam rilis yang diterima KONTAN, Selasa (1/9/2026).

Peluang kemitraan tersebut dibahas lebih konkret melalui dua sesi business matching. IWIP bersama tenant memaparkan kebutuhan pekerjaan serta pengadaan barang dan jasa melalui Scope of Work (SoW) dan Bill of Quantities (BoQ).

Baca Juga: Perubahan Perilaku Konsumen Buka Peluang Bisnis Wellness dan Home Living

UMKM mendapat kesempatan untuk memperkenalkan profil, produk, kapasitas, dan kesiapan usahanya, sekaligus berdiskusi langsung mengenai kebutuhan dan persyaratan pengadaan.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional Noor Sona Maesana Mushonnif mengatakan, pertumbuhan hilirisasi perlu berjalan seiring dengan penguatan pengusaha nasional dan daerah.

Pada kuartal II-2026, realisasi investasi di Maluku Utara mencapai Rp 40,2 triliun dan menempatkan Maluku Utara sebagai lokasi investasi terbesar ketiga di Indonesia.

“Melalui kemitraan yang terarah, UMKM tidak hanya memperoleh akses pasar, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan standar, skala, dan daya saing. Pertemuan ini perlu dilanjutkan menjadi purchase order dan perjanjian kerja sama agar pengusaha lokal dapat tumbuh bersama investasi yang ada,” ujar Noor Sona.

Di sisi lain, Direktur Pemberdayaan Usaha Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Delfinur Rizky Novihamzah bilang, kemitraan tidak cukup berhenti pada komitmen. Pemerintah mendorong agar kebutuhan usaha besar dapat dipertemukan dengan calon vendor lokal yang memiliki legalitas dan kesiapan usaha, serta memastikan proses kemitraan dapat direalisasikan, dipantau, dan dikawal.

Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, serta dunia usaha menjadi penting untuk memperluas akses UMKM terhadap peluang tersebut.

Lebih lanjut, General Manager External Relations IWIP Yudhi Santoso mengatakan, peluang bagi pelaku usaha lokal masih terbuka untuk memenuhi berbagai kebutuhan rantai pasok IWIP dan tenant, mulai dari bahan makanan, pakaian kerja, dan kebutuhan operasional hingga logistik dan transportasi.

Pada kuartal II-2026, realisasi belanja IWIP kepada UMKM mencapai Rp 1,1 triliun. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau 77,6% belanja IWIP dilakukan di Maluku Utara.

“IWIP ingin semakin banyak UMKM lokal yang siap masuk dan bertahan dalam rantai pasok industri. Kami membuka ruang komunikasi dan kerja sama, sekaligus mendorong pelaku usaha untuk memperkuat legalitas, konsistensi kualitas, harga yang kompetitif, ketepatan waktu, dan pelayanan. Aspek-aspek tersebut menjadi fondasi agar kemitraan dapat tumbuh dalam jangka panjang,” ujar Yudhi.

Baca Juga: Industri Farmasi Mulai Perkuat Efisiensi Energi lewat PLTS Atap

Sebagai bentuk apresiasi terhadap mitra yang telah berkembang bersama perusahaan, IWIP memberikan penghargaan kepada PT Bangun Bumi Mahera sebagai Most Improved UMKM Supplier, CV Sritimas Agro Silvae sebagai Best Responsive Supplier, CV Satu Tiga Berjaya sebagai Best Performing UMKM Supplier, CV Semarak sebagai penerima Best Local Community Impact Award, dan CV Abadi Jaya sebagai penerima Best Quality & Reliability Award.

Direktur Utama CV Satu Tiga Berjaya Suhendra Sutjahja, yang merupakan mitra IWIP di bidang penyediaan daging dan seafood, membagikan pengalamannya membangun usaha dari skala pasokan kecil hingga mampu memenuhi kebutuhan perusahaan. Menurutnya, menjaga kualitas, memenuhi persyaratan, dan terus memperbaiki tata kelola menjadi bagian penting dalam mempertahankan kemitraan.

“Kemitraan dengan IWIP menjadi proses belajar bagi kami untuk bekerja lebih tertib, menjaga kualitas, memenuhi jadwal, dan memperbaiki administrasi usaha. Kesempatan seperti ini memberikan akses pasar sekaligus mendorong kami untuk terus meningkatkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan industri,” ujar Suhendra.

Kegiatan ini juga mendorong sinergi dengan perbankan untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM yang telah memiliki peluang pasar. Dengan dukungan pemerintah, dunia usaha, asosiasi, dan lembaga keuangan, semakin banyak UMKM lokal diharapkan dapat meningkatkan kapasitas, masuk ke dalam rantai pasok industri, serta tumbuh secara berkelanjutan di Maluku Utara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News