BKPM Pastikan Komitmen Investasi Baterai Kendaraan Listrik Rp 630 T Berjalan Lancar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memastikan, komitmen investasi yang saat ini sudah mencapai sebesar US$ 42 miliar atau setara dengan Rp 630 triliun pada ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) akan berjalan dengan lancar.

Adapun dari tujuh perusahaan yang sudah menyatakan komitmennya, baru LG Energy Solution dan CATL yang sudah masuk ke dalam ekosistem baterai kendaraan listri. Pembangunan baterai LG tahap pertama akan beroperasi tahap mulai Februari 2024 mendatang. Sementara yang lainnya masih dalam tahap konstruksi.

Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nurul Ichwan menjelaskan, dalam proses pembuatan pabrik baterai terdapat banyak pihak yang terlibat, baik swasta maupun BUMN.


Dia mengungkapkan, para investor yang sudah menyatakan komitmennya memang akan berkolaborasi baik dari hulu hingga hilir dengan BUMN maupun pihak swasta.

“Hulu ke hilir ini ada beberapa BUMN di dalamnya, nah negosiasi dengan BUMN ini yang prosesnya memang memakan waktu,” tutur Nurul menjawab pertanyaan Kontan.co.id, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: BKPM Susun Dokumen Pra-Studi Kelayakan untuk Sejumlah Proyek Strategis EBT di Daerah

Untuk diketahui, total komitmen investasi pada baterai kendaraan listrik ini terdiri dari LG Energy Solution sebesar US$ 9,8 miliar, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China sebesar US$ 5,2 miliar, Foxconn sebesar US$ 8 miliar.

Kemudian, Indo-Pacific Net-zero Battery-materials Consortium (INBC) sebesar US$ 9 miliar, Perusahaan kimia besar asal Jerman, BASF sebesar US$ 2,2 miliar hingga US$  2,5 miliar, Ford asal Amerika Serikat sekitar US$  4,5 miliar, dan perusahaan asal Jerman Volkswagen (VW) sekitar US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar.

Nurul memastikan, selain LG Energy Solution dan CATL, komitmen investasi yang lainnya dipastikan akan berjalan. Saat ini para investor masih mencari lokasi tujuan investasinya.

“Ketertarikannya sudah ril, masalah tempat mereka sudah mulai mencari hanya untuk mendetailkan pakai teknologi apa dengan investasi berapa dan siapa saja pemilik sahamnya, ini kan join ventures, bukan hanya dua antara Indonesia dengan asing, dan asingnya juga ada beberapa,” jelasnya.

Baca Juga: BKPM Sebut VinFast Masih Cari Lokasi yang Pas Untuk Investasi Mobil Listrik

Dia juga menambahkan, dalam proses berinvestasi memang memakan waktu yang cukup lama, selain menentukan lokasi, juga harus ditentukan kesepakatan bersama terkait ahli teknologi baterai listrik apa yang akan digunakan.

“Jadi persoalan mereka tertarik atau tidak, ini sudah positif. Karena di 2030 paling tidak 50% dari supply baterai secara global sudah pakai dari Indonesia,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari