WASHINGTON. Musim belanja libur akhir tahun di Amerika Serikat (AS), yang berlangsung sehari setelah perayaan Thanksgiving atau yang sering disebut dengan Black Friday, tahun ini, tetap semarak. Black Friday, yang jatuh pada Jumat pekan lalu (27/11), berhasil menyedot minat para pembeli yang haus potongan harga barang belanja.Asosiasi Ritel Nasional AS melaporkan, penikmat kenaikan penjualan adalah toko elektronik, komputer, dan mainan anak-anak. Perusahaan riset yang berbasis di Chicago, ShopperTrak RCT, mengungkapkan, nilai penjualan selama Black Friday naik 0,5% jadi US$ 10,7 miliar dibandingkan hari biasa. Televisi, laptop dan mantel musim dingin, merupakan barang terlaris.Pengelola Liberty Media Corp, toko online QVC, mengaku, meraih omzet lebih dari US$ 32 juta selama Black Friday. Angka penjualan itu naik 60% daripada event serupa di 2008. "Rekor sebelumnya adalah US$ 22,3 juta pada 2006," kata Doug Rose, Vice President Program dan Pemasaran QVC.
Black Friday di AS Tetap Sedot Pembeli
WASHINGTON. Musim belanja libur akhir tahun di Amerika Serikat (AS), yang berlangsung sehari setelah perayaan Thanksgiving atau yang sering disebut dengan Black Friday, tahun ini, tetap semarak. Black Friday, yang jatuh pada Jumat pekan lalu (27/11), berhasil menyedot minat para pembeli yang haus potongan harga barang belanja.Asosiasi Ritel Nasional AS melaporkan, penikmat kenaikan penjualan adalah toko elektronik, komputer, dan mainan anak-anak. Perusahaan riset yang berbasis di Chicago, ShopperTrak RCT, mengungkapkan, nilai penjualan selama Black Friday naik 0,5% jadi US$ 10,7 miliar dibandingkan hari biasa. Televisi, laptop dan mantel musim dingin, merupakan barang terlaris.Pengelola Liberty Media Corp, toko online QVC, mengaku, meraih omzet lebih dari US$ 32 juta selama Black Friday. Angka penjualan itu naik 60% daripada event serupa di 2008. "Rekor sebelumnya adalah US$ 22,3 juta pada 2006," kata Doug Rose, Vice President Program dan Pemasaran QVC.