Blackout Sumatra Bongkar Masalah Jaringan Listrik PLN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemadaman listrik dalam skala luas alias blackout melanda Sumatra pada akhir pekan lalu. Pemadaman listrik yang berdampak terhadap 13,1 juta pelanggan ini memunculkan sorotan terhadap keandalan jaringan transmisi listrik PT PLN (Persero), khususnya di Pulau Sumatra.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi membeberkan bahwa kapasitas pembangkit listrik Sumatra mencapai 21,3 Gigawatt (GW) atau sekitar 19,8% dari total kapasitas terpasang pembangkit nasional. Dari sisi pembangkit, kapasitas tersebut relatif cukup untuk memasok kebutuhan listrik di wilayah Sumatra.

Hanya saja, blackout sering terjadi karena faktor di luar pembangkitan seperti transmission bottleneck, dynamic stability, reactive power, frequency control, dan contingency response. Apalagi, Sumatra masih bergantung pada backbone jaringan transmisi 275 kilovolt (kV) sebagai jalur utama interkoneksi sistem.


Kholid menjelaskan, gangguan terhadap jalur backbone tanpa ketersediaan jalur paralel atau fleksibilitas operasi menyebabkan efek berantai terhadap sistem. Hal ini menunjukkan kerentanan sistem interkoneksi Sumatra, terutama pada transmisi backbone, proteksi sistem, dan kemampuan isolasi gangguan agar tidak menjalar menjadi blackout regional.

Dus, blackout Sumatra bukan semata hanya karena faktor cuaca, melainkan ada persoalan struktural dari sisi keandalan sistem jaringan kelistrikan.

Baca Juga: Ledakan Pipa Reactor di Cilegon, Kemenperin Minta Evaluasi Total

"Dalam sistem kelistrikan besar, cuaca ekstrem memang bisa memicu gangguan. Tetapi kalau satu gangguan transmisi langsung menyebabkan blackout lintas provinsi, problemnya mungkin bukan sekadar cuaca, tapi masalah struktural terkait keandalan sistem interkoneksi," kata Kholid kepada Kontan.co.id, Rabu (27/5/2026).

Soal keandalan jaringan sistem kelistrikan, Kholid menggambarkan secara nasional, tren durasi gangguan sistem yang tergambar dalam System Average Interruption Duration Index (SAIDI) mengalami peningkatan. Rata-rata SAIDI nasional naik dari 5,34 jam per pelanggan per tahun pada 2024 menjadi 8,48 jam per pelanggan per tahun pada 2025.

Menurut Kholid, hal ini terjadi karena kapasitas infrastruktur ketenagalistrikan tidak memadai. Dia membeberkan bahwa rata-rata realisasi penambahan jaringan transmisi selama lima tahun terakhir hanya 42,3% terhadap target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Sementara rata-rata realisasi penambahan gardu induk selama lima tahun terakhir hanya 53%. "Kalau kondisi ini dibiarkan, indeks keandalan, sebagaimana ditunjukkan oleh SAIDI dan SAIFI (System Average Interruption Frequency Index), akan memburuk," tandas Kholid.

Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha, punya sorotan serupa. Satya memberikan tiga catatan yang harus menjadi perhatian pemerintah dan PLN untuk memperkuat jaringan kelistrikan di Sumatra agar blackout tidak berulang kembali.

Pertama, menyelesaikan jaringan backbone 500 kV atau yang juga dikenal sebagai proyek "tol listrik" Sumatra. RUPTL 2025-2034 sudah merencanakan pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV koridor timur yang membentang dari Sumatra Selatan (Muara Enim) hingga Sumatra Utara (Galang).

"Jalur ini berfungsi seperti "tol listrik" yang kapasitasnya sangat besar. Tol listrik 500 kV Sumatra sudah ada dan sebagian beroperasi, tetapi ruas tengah yang paling vital masih tertunda," kata Satya.

Kedua, DEN mendorong penambahan gardu induk dan transformator daya di titik-titik yang berpotensi menyebabkan kemacetan aliran listrik (bottleneck). Hal ini penting untuk memenuhi kriteria keandalan "N-1": jika satu sirkuit padam, sirkuit lain masih mampu menanggung beban.

Baca Juga: Deteksi Metering Gas Pertamina EP, Teknologi Qord Tech Bisa Hemat Rp 1,4 Miliar

Ketiga, Satya menekankan pentingnya interkoneksi ke Batam. Interkoneksi 500 kV dari Sumatra ke Batam yang juga telah direncanakan dalam RUPTL akan memperkuat sistem Sumatra secara keseluruhan dan membuka peluang pengembangan listrik Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Energy Finance Specialist Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Indonesia, Randi Bachtiar menekankan blackout di Sumatra pada akhir pekan lalu perlu dilihat sebagai peringatan bahwa penguatan backbone dan modernisasi operasi grid tidak bisa terus tertinggal dibanding pertumbuhan kompleksitas sistem ketenagalistrikan.

Randi menyoroti, dalam RUPTL 2021–2030 maupun RUPTL terbaru 2025–2034, PLN sudah berulang kali menempatkan backbone 500 kV Sumatra sebagai proyek strategis. Tetapi hingga saat ini, sebagian proyek masih mengalami keterlambatan, reroute, penyesuaian operasi komersial, hingga pengadaan ulang, sementara penyelesaiannya terus bergeser.

Dari sisi transmisi, Randi menegaskan percepatan backbone 500 kV dan penguatan redundansi sistem menjadi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada koridor kritikal tertentu. Pembangunan backbone transmisi 500 kV di Sumatra sangat urgen karena bukan hanya berkaitan dengan kapasitas transfer daya, tetapi juga keandalan dan ketahanan sistem.

"Blackout kemarin menunjukkan risiko pada sistem interkoneksi besar tidak lagi bersifat teoritis. Sistem Sumatra masih memiliki ketergantungan tinggi pada koridor transmisi backbone tertentu, sehingga gangguan pada satu koridor kritikal dapat memicu dampak luas apabila sistem belum memiliki redundansi dan margin stabilitas yang memadai," tegas Randi.

Sedangkan dari sisi pembangkit, Randi menilai fleksibilitas sistem perlu diperkuat. Dalam proses pemulihan blackout, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dapat kembali beroperasi lebih cepat dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara yang membutuhkan waktu lebih lama untuk restart setelah sistem collapse.

Dus, pengembangan pembangkit fleksibel termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang didukung Battery Energy Storage System (BESS) menjadi penting. Langkah ini juga dapat membantu meningkatkan respons cepat sistem saat terjadi gangguan maupun proses pemulihan jaringan.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa punya catatan serupa. IESR mendesak PLN mempercepat penguatan jaringan transmisi dan distribusi listrik. Termasuk peningkatan redundansi sistem, modernisasi proteksi grid, pengembangan smart grid, serta investasi pada sistem pengendalian dan fleksibilitas jaringan.

Kebutuhan terhadap sistem transmisi dan distribusi yang kuat, fleksibel, dan resilien menjadi semakin penting seiring meningkatnya elektrifikasi sektor transportasi dan industri, pertumbuhan pusat data, serta penetrasi energi terbarukan.

Di sisi lain, IESR juga mengimbau agar masyarakat, khususnya konsumen segmen residensial dan bisnis mulai menggunakan PLTS atap yang dipadukan dengan BESS.

Baca Juga: VKTR Optimistis Bisnis Kendaraan Listrik Komersial Semakin Prospektif Tahun Ini

Kombinasi tersebut dapat membantu meningkatkan ketahanan pasokan listrik pelanggan serta mengurangi kerugian akibat pemadaman. Apalagi, biaya penggunaan genset saat ini akan membengkak seiring dengan lonjakan harga solar.

"(Biaya) PLTS dan BESS sudah semakin terjangkau, hitungan kami cukup kompetitif dibandingkan dengan menjalankan diesel dan gas. Penggunaan PLTS atap dan BESS juga mengurangi risiko kerugian ekonomi yang lebih besar saat terjadi pemadaman dalam jangka waktu lama," ungkap Fabby.

Soal blackout listrik Sumatra pada akhir pekan lalu, Fabby mendesak adanya investigasi yang menyeluruh. Tak hanya faktor cuaca, Fabby menegaskan bahwa perlu ada penjelasan yang lebih rinci mengenai akar masalah blackout yang menyebabkan kegagalan sistem listrik yang meluas di Sumatra.

"Petir itu menjadi pemicu dari pemadaman. Tapi urusan petir itu kan seharusnya sudah ada dalam perencanaan jaringan transmisi, masuk ke manajemen risiko. Pertanyaannya, kenapa sistem proteksi untuk isolasi tidak berjalan, sehingga sistem Sumatra terkena dampak yang luas. Dengan adanya investigasi menyeluruh, maka perbaikan yang substantif pada sistem transmisi bisa dilakukan untuk menurunkan risiko pemadaman ke depannya," tandas Fabby.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News