Blackout Sumatra Diduga Dipicu Gangguan Kabel Transmisi Saat Cuaca Ekstrem



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemadaman listrik massal (blackout) yang melanda sebagian besar wilayah Sumatra diduga dipicu gangguan mekanis pada jaringan transmisi akibat terpaan angin kencang. 

Dugaan ini menguat setelah hasil investigasi awal menunjukkan kerusakan terjadi pada area sambungan kabel transmisi, salah satu titik paling krusial dalam sistem penyaluran listrik.

Pengamat sistem tenaga listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Djoko Darwanto, menilai karakteristik gangguan yang terjadi mengarah pada tekanan mekanis di area mid span jointing atau sambungan di tengah bentangan kabel transmisi. 


Menurut dia, faktor cuaca sangat mungkin berperan dalam insiden tersebut. "Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini," ujarnya.

Baca Juga: Waspada Tingkat Tinggi! Hujan dan Cuaca Ekstrem di Provinsi Ini Jelang Akhir Januari

Sebelumnya, investigasi gabungan Bareskrim Polri, Puslabfor, dan PLN mengidentifikasi tiga kemungkinan penyebab putusnya kabel transmisi, yakni tekanan termal akibat cuaca, gangguan pada area sambungan kabel, serta tekanan mekanis yang dipengaruhi beban dan angin.

Djoko menjelaskan, kondisi cuaca di sekitar konduktor transmisi yang berada di ketinggian sering kali berbeda dengan kondisi di permukaan tanah. Angin yang lebih kuat di area tersebut dapat memicu getaran dan osilasi kabel secara terus-menerus sehingga menimbulkan tekanan berulang pada jaringan.

Tekanan tersebut dinilai berpotensi memperbesar beban pada titik sambungan kabel, terutama ketika sistem sedang menyalurkan listrik dalam kapasitas tinggi. Area mid span jointing sendiri merupakan lokasi penyatuan dua konduktor yang secara teknis menerima kombinasi tekanan akibat getaran, perubahan suhu, dan pergerakan kabel.

Karena itu, menurut Djoko, sambungan kabel menjadi salah satu titik yang paling rentan dalam sistem transmisi. “Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi,” katanya.

Ia juga menilai hasil inspeksi thermal sebelumnya yang menunjukkan kondisi kabel masih normal tidak serta-merta menepis kemungkinan terjadinya gangguan. Sebab, kerusakan mekanis tertentu baru dapat muncul ketika jaringan berada dalam kondisi operasi dan menerima tekanan yang tinggi.

Sampel kabel yang diambil dari lokasi kerusakan kini menjadi bagian penting dalam proses investigasi laboratorium untuk memastikan penyebab utama putusnya jaringan transmisi yang memicu gangguan besar pada sistem kelistrikan Sumatra.

Baca Juga: Pramono: Cuaca Ekstrem Jadi Ujian Normalisasi Kali Ciliwung, Krungkut, Cakung Lama

Djoko menambahkan, dalam sistem interkoneksi sebesar Sumatra, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat memicu efek berantai yang sangat cepat. Ketika frekuensi listrik turun drastis, sistem proteksi otomatis akan memutus pembangkit dari jaringan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.

"Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai," ujarnya.

Berdasarkan kronologi PLN, gangguan bermula pada 25 Mei 2026 pukul 18.44 WIB saat dua sirkuit transmisi 275 kV New Aur Duri–Sumsel 5 trip akibat hujan dan angin kencang. Putusnya jalur tersebut menghentikan aliran listrik dari selatan ke utara Sumatra dan memaksa beban berpindah ke jalur barat 275 kV.

Perubahan aliran daya itu memicu fenomena power swing atau osilasi tegangan dan frekuensi yang tinggi. Untuk mencegah gangguan meluas, jalur barat ikut mengisolasi diri sehingga sistem kelistrikan Sumatra terbelah menjadi dua.

Wilayah selatan mengalami surplus pembangkit dan frekuensi tinggi, sementara wilayah utara kekurangan pasokan listrik dan mengalami frekuensi rendah. 

Sistem pertahanan PLN berhasil menjaga Lampung dan sebagian besar Palembang tetap menyala, tetapi di wilayah utara terjadi efek domino. Pembangkit di Jambi, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara, hingga Aceh satu per satu trip hingga menyebabkan blackout massal.

Baca Juga: Waspada Jakarta! BMKG: Cuaca Ekstrem Mengancam hingga Akhir Januari 2026

Pemulihan sistem dilakukan melalui mekanisme *black start* menggunakan pembangkit diesel dan gas. Listrik sempat kembali menyala, namun keterbatasan pasokan dari pembangkit besar membuat PLN harus melakukan pemadaman sementara selama sekitar dua jam sebelum sistem kembali stabil.

Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra menyampaikan permintaan maaf atas gangguan tersebut dan memastikan sejumlah pembangkit utama, termasuk di Pangkalan Susu, telah kembali terhubung ke sistem. 

PLN berharap kondisi kelistrikan Sumatra kini telah stabil sehingga tidak terjadi lagi pemadaman serupa dalam waktu dekat.

Sumbr: https://www.tribunnews.com/regional/7835601/pakar-itb-sebut-blackout-sumatra-diduga-akibat-tekanan-angin-kencang-pada-sambungan-kabel-transmisi?page=all&s=paging_new. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News