KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti pemadaman listrik skala luas atau blackout yang melanda sebagian Sumatra pada akhir pekan ini. Blackout yang terjadi pada Jumat (22/5/2026) malam tersebut berdampak terhadap 13,1 juta pelanggan di Sumatra. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa membeberkan bahwa dari komunikasi awal dengan sejumlah pelaku usaha dan anggota Kadin di wilayah terdampak, blackout menimbulkan gangguan yang cukup signifikan terhadap aktivitas operasional. Terutama bagi industri yang proses produksinya berjalan kontinu dan sangat bergantung pada kestabilan listrik.
Namun, Erwin masih belum merinci berapa potensi kerugian yang mesti ditanggung oleh pengusaha dan pelaku industri akibat blackout listrik ini. Dia bilang, kerugian langsung masih dalam proses pendataan karena setiap sektor usaha memiliki karakteristik yang berbeda. Erwin memberikan gambaran bahwa secara umum, potensi kerugian muncul dari penghentian produksi mendadak, gangguan sistem pendingin dan penyimpanan, keterlambatan distribusi, kerusakan sebagian bahan baku, hingga tambahan biaya operasional akibat penggunaan genset dan bahan bakar cadangan.
Baca Juga: Kementerian ESDM dan DEN Minta PLN Tingkatkan Keandalan Sistem Listrik Sumatra Karena blackout berlangsung menjelang akhir pekan, Erwin mengatakan bahwa sebagian industri memiliki aktivitas produksi yang lebih rendah dibanding hari kerja normal. Namun, untuk sektor-sektor yang beroperasi 24 jam, dampaknya tetap cukup besar, terutama pada biaya recovery operasional dan penyesuaian ulang jadwal produksi. Kadin memetakan, sektor usaha yang paling terdampak umumnya adalah industri manufaktur proses, makanan dan minuman, cold storage, rumah sakit dan layanan kesehatan, telekomunikasi, pusat data, ritel modern, perhotelan, hingga sektor logistik dan pelabuhan yang sangat bergantung pada kontinuitas listrik. Selain itu, Erwin menyoroti dampak terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tidak memiliki backup power memadai. "Untuk usaha makanan, minuman, dan perdagangan, gangguan listrik beberapa jam saja sudah dapat memengaruhi kualitas produk dan omzet harian," kata Erwin saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (24/5/2026). Erwin mengapresiasi langkah PT PLN (Persero) dalam melakukan pemulihan bertahap dan menjaga komunikasi kepada publik. Namun, kejadian ini mesti menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap ketahanan sistem transmisi dan pembangkit, khususnya menghadapi risiko cuaca ekstrem yang ke depan diperkirakan semakin sering terjadi. “Dunia usaha memahami bahwa gangguan cuaca ekstrem memang dapat menjadi salah satu faktor risiko dalam sistem ketenagalistrikan. Namun, peristiwa blackout berskala besar di Sumatra ini tetap menjadi perhatian serius karena dampaknya sangat luas terhadap aktivitas ekonomi, industri, logistik, layanan publik, hingga masyarakat umum," tegas Erwin. Kadin pun berharap ada penguatan pada aspek redundansi jaringan, modernisasi sistem transmisi, early warning system, serta percepatan investasi infrastruktur kelistrikan agar sistem lebih resilien dan tidak mudah mengalami gangguan berantai dalam skala besar.
Baca Juga: Pemadaman Listrik di Sumatra Picu Tuntutan Investigasi dan Kompensasi Selain itu, penting memastikan adanya mitigasi yang jelas bagi kawasan industri dan sektor-sektor strategis agar dampak ekonomi dapat ditekan apabila terjadi gangguan.
"Yang paling penting saat ini percepatan pemulihan total pasokan listrik agar aktivitas ekonomi dan operasional industri di Sumatra dapat kembali berjalan normal. Ke depan, dunia usaha berharap ada penguatan sistem mitigasi dan recovery kelistrikan nasional agar gangguan serupa tidak berkembang menjadi blackout berskala luas," tandas Erwin. Dihubungi terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan bahwa blackout listrik Sumatra tidak berdampak signifikan terhadap operasional perkebunan sawit anggota Gapki. Sebab, mayoritas perusahaan perkebunan tidak menggunakan listrik PLN. "Kalau yang menggunakan paling yang ada jaringan PLN untuk kantor atau perumahan. Namun, biasanya tidak terlalu banyak, sebab umumnya menggunakan listrik dari Pabrik Kelapa Sawit serta genset atau solar panel untuk perumahan di dalam kebun, yang cukup mahal biayanya kalau harus memasang jaringan listrik ke perumahan karyawan di afdeling-afdeling," ungkap Eddy. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News