Blibli (BELI) Pertahankan Target Kinerja 2026, Begini Strateginya hingga Akhir Tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli belum berencana merevisi target kinerja 2026 meski mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 55% secara tahunan pada semester I-2026. Perseroan memilih mencermati dinamika pasar dan kondisi makroekonomi sebelum menentukan langkah selanjutnya pada paruh kedua tahun ini.

CEO sekaligus Co-Founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan, pencapaian semester I-2026 yang melampaui target awal menjadi indikasi positif atas pelaksanaan strategi perseroan. Namun, hasil tersebut belum cukup menjadi dasar untuk menaikkan target kinerja sepanjang tahun.

“Pencapaian semester pertama kemarin tentunya walaupun kami sangat bahagia dan bangga, tetapi menurut kami itu belum bisa menjadi dasar untuk kami merevisi target semester kedua tahun ini. Banyak pertimbangan-pertimbangan baik secara makro, dinamika pasar serta mungkin beberapa tantangan dan tentunya opportunity yang kami harus perhatikan,” ujar Kusumo dalam Public Expose Tahunan 2026 PT Global Digital Niaga Tbk, Rabu (14/10/2026).


Baca Juga: Teknologi Kecerdasan Buatan Jadi Andalan Meningkatkan Kompetensi Karyawan

Untuk menjaga pertumbuhan hingga akhir tahun, Blibli akan melanjutkan strategi ekosistem omnichannel yang mengintegrasikan kanal daring dan luring. Perusahaan juga mengandalkan sejumlah momentum belanja pada semester II-2026, mulai dari periode pre-order iPhone 18, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), hingga liburan akhir tahun.

Selain momentum belanja, Kusumo melihat jaringan toko fisik yang semakin luas mulai memasuki fase peningkatan produktivitas. Perseroan berharap kontribusi jaringan tersebut pada semester II-2026 semakin besar, seiring perbaikan produktivitas dan pertumbuhan penjualan toko yang sama atau same-store sales growth (SSSG).

“Kami melihat jaringan toko fisik yang semakin luas ini sudah mulai masuk ke dalam ramping up. Kami percaya bahwa nanti di semester kedua ini akan mendapatkan kontribusi yang lebih besar lagi, seiring dengan peningkatan produktivitas maupun SSSG yang lebih baik,” jelasnya.

Blibli juga akan menjaga disiplin biaya sebagaimana dilakukan pada semester I-2026 dan tahun sebelumnya. Di sisi lain, perseroan mendorong pertumbuhan layanan bernilai tambah, termasuk layanan prioritas pengiriman dan solusi pemenuhan pesanan melalui Fulfillment at Speed (FAS).

Kusumo menambahkan, integrasi kanal online dan offline akan terus diperkuat untuk meningkatkan loyalitas pelanggan. Salah satu upayanya melalui program loyalitas Blibli, yakni Blibli Tiket Rewards, yang terintegrasi untuk transaksi di kanal online, toko fisik, tiket.com, layanan penyewaan, hingga kebutuhan dekorasi rumah.

“Kami berharap kita bisa terus mempertahankan tren positif hingga akhir tahun, menjaga kualitas pertumbuhan, serta terus disiplin dalam mengeksekusi semua strategi atau rencana yang sudah kami terapkan,” kata Kusumo.

Adapun Blibli membukukan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp 14,83 triliun pada semester I-2026, meningkat 55% secara tahunan dibandingkan Rp 9,59 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didukung kontribusi yang semakin baik dari seluruh segmen usaha, terutama elektronik konsumen, gaya hidup, institusi, dan jaringan toko fisik.

Dari sisi transaksi, total nilai pemrosesan atau total processing value (TPV) Blibli mencapai Rp 45,1 triliun, naik 12% secara tahunan dari Rp 40,2 triliun pada semester I-2025. Segmen ritel pihak ketiga atau third-party retail (3P) masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 58% terhadap TPV.

Pada segmen tersebut, kategori gaya hidup menyumbang sekitar 69% dari TPV ritel 3P, terutama ditopang bisnis agen perjalanan daring atau online travel agent (OTA) melalui tiket.com. Sementara itu, penjualan ponsel pintar, produk olahraga, segmen institusi, dan jaringan toko fisik turut mendukung pertumbuhan pendapatan.

Baca Juga: Pemerintah Pasang Target Transaksi US$ 17,5 Miliar di Ajang TEI 2026

Chief Corporate Officer and Investor Relations Blibli Eric Winarta mengatakan, segmen institusi menjadi salah satu penopang pertumbuhan perseroan. Kinerja ini mencerminkan kepercayaan klien korporasi terhadap kemampuan Blibli memenuhi kebutuhan pengadaan melalui portofolio produk yang luas dan dukungan distribusi.

Menurut Eric, perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan segmen institusi, tetapi juga menjaga kualitasnya melalui pengelolaan margin, peningkatan efisiensi operasional, dan pengelolaan modal kerja secara disiplin. Blibli juga akan memperkuat hubungan dengan klien institusi dan memperluas solusi sesuai kebutuhan masing-masing pelanggan.

Dari sisi profitabilitas, Chief Financial Officer Blibli Ronald Winardi menjelaskan, perbaikan kinerja pada semester I-2026 ditopang peningkatan pendapatan per transaksi, perbaikan margin, dan efisiensi biaya. 

Perusahaan mencatat take rate naik dari 8,6% menjadi 9%, seiring pertumbuhan laba bruto sebelum diskon atau gross profit before discount (GPBD) sebesar 17% secara tahunan.

Blibli juga menurunkan rasio beban operasional konsolidasian terhadap TPV dari 7,2% pada semester I-2025 menjadi 6,3% pada semester I-2026. Perbaikan tersebut mendorong peningkatan rasio EBITDA konsolidasian terhadap TPV sebesar 170 basis poin secara tahunan.

Ronald mengatakan, dalam dua tahun terakhir Blibli melakukan rasionalisasi kategori bisnis omnichannel dengan memprioritaskan lini usaha yang memiliki keunggulan kompetitif. Perseroan juga memperkuat kapabilitas omnichannel untuk memberikan nilai tambah kepada mitra merek dan pelanggan.

Pertumbuhan pendapatan yang disertai perbaikan margin, peningkatan skala usaha, dan operating leverage membantu menekan kerugian perseroan. Ke depan, Blibli akan melanjutkan strategi yang menunjukkan tren positif serta mengalokasikan sumber daya pada kategori atau segmen yang mampu memberikan imbal hasil lebih baik.

Dalam jangka menengah, Ronald menyebut perseroan akan terus menjalankan strategi tersebut selama tiga hingga lima tahun ke depan untuk menjaga keberlanjutan perbaikan profitabilitas.

Sementara itu, Chief Operating Officer sekaligus Co-Founder Blibli Lisa Widodo mengatakan, bisnis FAS berpotensi menjadi sumber pertumbuhan tambahan bagi ekosistem Blibli dan tiket.com. Layanan ini mengandalkan tujuh pilar, yakni pemenuhan pesanan dan logistik, layanan pelanggan, distribusi online, distribusi offline, solusi bisnis, studio, serta afiliasi.

Lisa menjelaskan, pengembangan FAS berpeluang meningkatkan utilisasi infrastruktur yang telah dibangun, memperkuat efisiensi rantai pasok, serta menciptakan pendapatan dari layanan bernilai tambah. Perseroan akan menjaga pertumbuhan bisnis tersebut secara berkelanjutan dengan memperhatikan volume, produktivitas operasional, dan unit ekonomi setiap layanan.

Untuk mendukung strategi omnichannel, hingga semester I-2026 Blibli mengoperasikan 347 toko elektronik konsumen, 24 toko elektronik rumah tangga, dan satu toko fesyen dan olahraga. Perseroan juga mengelola 60 gerai supermarket premium serta 39 home and living experience centers.

Dengan mempertahankan strategi pertumbuhan, memperkuat integrasi kanal penjualan, dan menjaga efisiensi operasional, Blibli berharap dapat melanjutkan tren perbaikan kinerja hingga akhir 2026. Meski demikian, perseroan masih mencermati perkembangan pasar sebelum memutuskan apakah target kinerja tahun ini perlu disesuaikan.

Baca Juga: Bahlil Dorong Hilirisasi, Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus US$ 45 Miliar pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News