Blunder Manchester United: Deretan Mantan Pemain Bersinar Usai Dilepas Setan Merah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rekrutmen Manchester United selama satu dekade terakhir memang kerap menuai kritik tajam. Klub raksasa Liga Inggris ini dinilai terus melakukan kesalahan berulang, mulai dari belanja pemain yang berlebihan hingga performa yang jauh dari harapan.

Namun, persoalan Manchester United tidak hanya berhenti pada kegagalan merekrut pemain yang tepat, melainkan juga pada lemahnya strategi mempertahankan aset yang sudah mereka miliki.

Selama bertahun-tahun, United kerap terbuai oleh nama besar dan tren pemain “paling modis” dari daratan Eropa. Akibatnya, mereka justru mengabaikan pemain-pemain yang tidak terlalu mencolok, termasuk yang berasal dari akademi sendiri. Ironisnya, sejumlah pemain yang dianggap tidak lagi dibutuhkan justru mampu bersinar setelah meninggalkan Old Trafford.


Baca Juga: Fletcher: Manchester United yang Rapuh Harus Berjuang Lebih Keras

Jika dibandingkan dengan minimnya prestasi yang diraih, pengeluaran Manchester United terbilang sangat fantastis. Skuad bernilai ratusan juta pound sering kali gagal memenuhi ekspektasi. Di sisi lain, di berbagai klub lain di Inggris maupun Eropa, pemain-pemain yang dilepas United justru tampil gemilang dan meraih kesuksesan.

Pada Minggu lalu, untuk kelima kalinya selama membela Brighton, Danny Welbeck mencetak gol ke gawang Manchester United. Gol tersebut memastikan tersingkirnya Setan Merah dari Piala FA. Ironisnya, Welbeck merayakan gol itu di stadion yang pernah ia sebut sebagai rumah.

Welbeck hanyalah satu dari sekian banyak pemain yang menikmati karier lebih baik setelah meninggalkan Manchester United. Banyak pihak menilai penyerang veteran tersebut sejatinya masih layak menjadi andalan di lini depan United. Pertanyaannya pun muncul: mengapa pemain-pemain ini dilepas sejak awal?

Berikut sejumlah nama yang hengkang dari Manchester United dan kemudian membuat mantan klubnya kerap menyesali keputusan tersebut.

Danny Welbeck

Di usia 35 tahun, Danny Welbeck mungkin bukan pemain paling enak ditonton, namun kontribusinya di sepertiga akhir lapangan tidak bisa diremehkan. Ia mampu berperan sebagai penghubung permainan sekaligus predator di kotak penalti.

Welbeck pernah dipercaya oleh Sir Alex Ferguson pada tahun-tahun terakhir sang manajer legendaris, meski kepercayaan itu tidak sepenuhnya berlanjut di era setelahnya.

Dijual ke Arsenal pada 2014, Welbeck beberapa kali mencetak gol ke gawang United di Old Trafford. Kini bersama Brighton setelah sempat membela Watford, ia menjadi salah satu pencetak gol terbanyak asal Inggris di Premier League.

Baca Juga: Martinelli Cetak Hat-Trick, Arsenal Hantam Portsmouth 4-1 di Piala FA

Welbeck menjadi contoh nyata bagaimana United kerap mengagungkan pemain di luar klub, sembari meremehkan aset yang sudah mereka miliki.

Scott McTominay

Pemain terbaik Serie A ternyata pernah dianggap tidak cukup bagus di Manchester. Ironisnya, musim terbaik Scott McTominay justru datang setahun sebelum kepergiannya.

Selama bertahun-tahun dimainkan sebagai gelandang bertahan, McTominay menunjukkan naluri golnya di bawah asuhan Erik ten Hag dengan mencetak 10 gol. Namun, performa itu tidak cukup untuk mempertahankannya.

Napoli merekrutnya dengan harga relatif murah, sekitar £25 juta. Dalam waktu satu tahun, ia menjadi juara Serie A dan ikon baru di Naples. Manchester United seolah tak pernah benar-benar memahami potensi yang mereka miliki.

Romelu Lukaku

Statistik Romelu Lukaku pasca-meninggalkan Manchester United berbicara banyak. Direkrut oleh Jose Mourinho sebagai striker ideal, Lukaku tidak mendapat kepercayaan serupa dari Ole Gunnar Solskjaer dan akhirnya dijual pada kesempatan pertama.

Meski kepulangannya ke Chelsea tidak berjalan mulus, Lukaku justru menemukan kembali ketajamannya di Italia. Bersama Inter Milan dan Napoli, ia meraih gelar juara dan rutin mencetak gol, menegaskan kualitasnya sebagai penyerang papan atas.

Dean Henderson

Dean Henderson sudah bergabung dengan Manchester United sejak usia belasan tahun. Namun, kepergiannya dipicu oleh kegagalan manajemen—khususnya Ole Gunnar Solskjaer—dalam mengambil keputusan penting.

Baca Juga: Manchester City Tebus Klausul £65 Juta untuk Antoine Semenyo dari Bournemouth

United dihadapkan pada pilihan untuk mulai bertransisi dari David de Gea yang menua ke Henderson, yang tampil gemilang saat dipinjamkan ke Sheffield United.

Namun, Henderson terus diabaikan hingga kesabarannya habis. Setelah melontarkan kritik terbuka, ia bergabung dengan Crystal Palace. Bersama The Eagles, Henderson berhasil menjuarai Piala FA dan bahkan menepis penalti di partai final, sementara United masih berkutat dengan masalah penjaga gawang utama.

Angel Di Maria

Jika ditilik ke belakang, Angel Di Maria bisa dibilang menjadi contoh awal budaya yang keliru di Manchester United. Gary Neville bahkan menyebut klub ini sebagai “kuburan pemain”. Di Maria didatangkan dari Real Madrid setelah tampil sebagai Man of the Match di final Liga Champions.

Namun, kariernya di Manchester hanya bertahan satu musim dan jauh dari kata sukses. Ia kemudian dijual ke Paris Saint-Germain, tempat ia kembali bersinar. Di Maria juga menjadi juara Piala Dunia bersama Argentina dan mencetak gol di final. Banyak pihak masih bertanya-tanya, bagaimana Manchester United gagal memaksimalkan talenta sebesar dirinya.

Kisah para mantan pemain ini menegaskan satu hal: masalah Manchester United bukan sekadar soal membeli pemain mahal, tetapi juga memahami, mengembangkan, dan mempertahankan kualitas yang sudah ada di dalam klub.

Selanjutnya: Harga Emas Melejit, Pasar Global Gonjang-Ganjing Usai Trump Serang The Fed

Menarik Dibaca: 5 Efek Negatif Makanan Tinggi Gula untuk Kulit, Bikin Cepat Tua dan Jerawatan!

TAG: