BMI Siap Gandakan Kapasitas Produksi: Genjot Ekspor Produk Hasil Laut & Perikanan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Menara Internusa  (BMI) membuka peluang untuk menggandakan kapasitas produksi. Langkah ini sebagai bagian dari strategi BMI untuk memacu ekspor produk olahan hasil laut dan perikanan. 

Direktur Bumi Menara Internusa, Aris Utama mengungkapkan saat ini BMI mengoperasikan tujuh pabrik dengan total kapasitas produksi mencapai 35.000 ton per tahun.

"Kami mempekerjakan sekitar 15.000 karyawan. Pabrik kami masih bisa meningkatkan produksi hingga 100%, karena saat ini kapasitas produksi 35.000 ton hanya dari satu shift saja, " kata Aris melalui rilis yang disiarkan pada Kamis (28/8/2026).


Baca Juga: Kadin: IEU-CEPA Harus Dorong Ekspor Produk Bernilai Tambah

Guna mendukung rencana tersebut, BMI terus berupaya mengamankan bahan baku dengan mencari hasil laut dan perikanan segar ke berbagai wilayah di Indonesia. BMI bahkan mencari bahan baku hasil tangkapan laut hingga ke Medan, Makassar dan Papua.

Selain mengamankan bahan baku dari tangkapan laut di dalam negeri, BMI juga membuka impor beberapa hasil laut untuk memenuhi preferensi konsumen pasar internasional. Salah satunya mengimpor ikan yang berasal dari Alaska.

"Kemudian diolah di pabrik-pabrik BMI untuk dijadikan produk siap saji dan siap ekspor," ujar Aris.  

Selain hasil tangkapan laut, BMI juga mengantongi izin dan sertifikasi berkelanjutan, termasuk membina kerja sama budidaya dengan petambak dari berbagai daerah. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lombok, Sumbawa, Jawa Barat, Sumatra bagian selatan dan Sulawesi.

“Saban hari kami membeli 150 ton udang dari petambak nasional,” ujar Aris.

Sementara untuk budidaya rajungan, BMI bekerja sama dengan berbagai mitra di sentra-sentra rajungan di Indonesia, seperti yang berada di Cirebon, Jawa Barat.

"Kami menjalin kemitraan dengan melakukan pembinaan untuk menjaga kualitas. Manfaatkan kemitraan itu untuk buka lapangan pekerjaan masyarakat setempat mengingat pasokan mayoritas dari daerah," imbuh Aris.

Saat ini BMI mengekspor produksi olahan hasil lautnya ke berbagai negara, terutama ke Amerika dengan kontribusi mencapai 80%. Pasar ekspor BMI lainnya menyasar Jepang, Eropa dan Tiongkok. Produk ekspor andalan BMI adalah udang dengan kontribusi hingga sekitar 70%. BMI juga mengekspor gurita, ikan dan rajungan.

Baca Juga: IEU-CEPA Berlaku 2027, Ekspor Sawit Indonesia ke Eropa Bisa Makin Deras

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyatakan bahwa pemerintah mendukung pelaku usaha untuk memacu ekspor pengolahan ikan dan hasil laut. Faisol menyoroti bahwa Indonesia mempunyai kemampuan produksi untuk ekspor olahan hasil laut dengan pasar ekspor yang sangat menjanjikan.

"Tantangan kita harus bisa buat inline bahan baku dari hulu hingga ke proses pengolahan. Saat ini, kita masih kalah dari negara produsen udang, terutama budidaya udang. Kami minta secara bersama-sama memperbaiki teknis di hulu untuk bahan baku yang melimpah agar bisa diproses dengan cepat," kata Faisol.

Wamenperin telah melakukan kunjungan kerja ke salah satu pabrik pengolahan ikan berorientasi ekspor BMI, yang berlokasi di Kawasan Pergudangan Margomulyo, Surabaya pada Kamis (27/8/2026).

Kunjungan kerja ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Perindustrian mendorong peningkatan daya saing dan nilai tambah industri pengolahan hasil perikanan untuk pasar global.

Wamenperin meninjau langsung lini produksi mulai dari penerimaan bahan baku, proses cold storage, hingga pengemasan produk beku yang siap ekspor ke negara tujuan seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa serta Jepang.

"Kami sudah meninjau dan melihat secara langsung proses pengolahannya dan saya mengapresiasi BMI yang sudah melakukan pengolahan sesuai standar internasional," tandas Faisol. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News