BMKG Catat 1.598 Gempa Susulan di Flores NTT, Terbesar Magnitudo 6,2



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.598 gempa susulan terjadi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Senin (17/8/2026) pagi.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, gempa susulan tersebut masih terus dipantau oleh tim BMKG yang telah bergerak ke lokasi terdampak.

“Ya, sampai dengan jam 7 pagi hari ini telah tercatat 1.598 gempa susulan, magnitudo terbesar adalah 6,2 magnitudo, yang terkecil 1,3 dan kemudian yang dirasakan kira-kira 54 gempa,” kata Faisal sebelum mengikuti upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Senin (17/8/2026).


Baca Juga: Investor dan Kesultanan Bakal Ramaikan HUT RI ke-81 di IKN

Faisal mengatakan, BMKG terus memantau perkembangan aktivitas gempa susulan di wilayah Flores, termasuk proses peluruhannya.

Menurut dia, aktivitas gempa susulan diperkirakan akan berangsur meluruh dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Kondisi tersebut kemudian dapat menjadi pertimbangan untuk memasuki tahap perbaikan maupun pembangunan kembali bangunan yang terdampak.

“Tapi kita terus masih memantau terkait dengan peluruhannya, kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan dia akan meluruh sehingga kita mulai dapat melakukan retrofitting atau perbaikan bangunan atau pembangunan kembali jika dibutuhkan,” ujarnya.

Faisal memastikan tim BMKG saat ini telah berada di sejumlah titik di NTT untuk memantau kondisi pasca gempa.

Menurutnya, terdapat tiga Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG yang berada di Pulau Flores, ditambah dua pos BMKG yang juga beroperasi di wilayah tersebut.

“Di NTT tim kita sekarang sudah bergerak ke lokasi. Bahkan ada 3 UPT atau kantor BMKG yang ada di Pulau Flores dan juga ada dua pos kami di sana,” jelas Faisal.

Baca Juga: Tak Semua Menteri Upacara di Istana Merdeka, Ada yang Fokus Penanganan Bencana di NTT

Keberadaan personel BMKG di lokasi membuat pemantauan dapat dilakukan secara langsung sejak gempa terjadi. BMKG juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai unsur terkait dalam penanganan dampak bencana.

“Jadi ketika gempa terjadi memang staf BMKG sudah ada di lokasi, kita tersebar di 191 lokasi di Indonesia sehingga kita langsung bersama pemerintah daerah mengambil tindakan-tindakan penyelamatan, mendampingi BPBD, mendampingi tim SAR dan sebagainya,” tutur Faisal.

Faisal menegaskan pemantauan terhadap gempa susulan akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan aktivitas seismik di wilayah terdampak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News