BNBR masih sibuk beresi utang



JAKARTA. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) masih getol melanjutkan rencana restrukturisasi utang pada tahun ini. BNBR tengah bernegosiasi dengan beberapa kreditur untuk menentukan skema restrukturisasi utang.

Amri Aswono Putro, Direktur Keuangan BNBR, mengatakan, kreditur yang dimaksud di antaranya Mitsubishi Corporation dan Credit Suisse AG. "Tahun ini, kami berharap sudah mendapatkan kesepakatan terkait restrukturisasi tersebut," kata Amri kepada KONTAN, pekan lalu.

Saat ini, pihaknya masih membahas berbagai opsi dengan kreditur. Opsi restrukturisasi yang dibahas adalah dengan menukar utang dengan saham, menggunakan mekanisme penawaran saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu alias non preemptive rights (NPR). Total utang yang bisa direstrukturisasi mencapai Rp 10 triliun.


Menurut laporan keuangan BNBR per Desember 2016, total pinjaman jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam setahun mencapai Rp 3,4 triliun. Lalu, total liabilitas saat ini Rp 12,6 triliun.

Utang dari Mitsubishi sebesar US$ 150 juta diperoleh pada tahun 2011 untuk investasi saham di PT Bumi Resources Tbk (BUMI). BNBR menggunakan utang ini untuk membeli 548,6 juta saham BUMI. Fasilitas ini dijaminkan dengan saham BUMI yang dibeli.

Hingga 2016, BNBR sudah membayar US$ 3 juta. Sehingga, saldo pinjaman Mitsubishi di akhir tahun lalu mencapai US$ 147 juta.

BNBR juga memiliki utang ke Eurofa Capital Investment Inc kala menerbitkan Equity Linked Notes sebesar US$ 109 juta pada tahun 2010. Saldo pinjaman ini tersisa US$ 103 juta.

Sementara itu, utang kepada Credit Suisse merupakan utang jangka pendek. Per akhir tahun 2016, saldo pinjaman ini sebesar US$ 87 juta. Namun, pada 6 Maret 2017 lalu, BNBR melakukan amandemen perjanjian kredit dengan Credit Suisse.

Fasilitas kredit ini telah diubah menjadi fasilitas baru senilai US$ 92,1 juta. "Utang yang difokuskan untuk direstrukturisasi tahun ini memang utang yang besar, seperti utang dari Mitsubishi dan Credit Suisse," kata Amri.

Jika sudah mendapat kesepakatan dari kreditur, BNBR akan segera menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk meminta restu pemegang saham. "Dalam waktu dekat kami akan melakukan RUPS Tahunan untuk persetujuan laporan tahunan, baru setelah itu akan digelar RUPSLB untuk agenda restrukturisasi jika sudah mendapat kesepakatan kreditur," beber Amri.

Restrukturisasi ini menyusul langkah BNBR tahun lalu, yakni mengonversi utang dengan obligasi wajib konversi (OWK) senilai Rp 990,6 miliar. Restrukturisasi utang dilakukan melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) dengan menerbitkan 19,8 miliar saham biasa seri D di harga Rp 50 per saham.

Jumlah ini setara dengan 17,45% saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh BNBR. "Tahun lalu, dari negosiasi kreditur yang ada, yang setuju direstrukturisasi sekitar Rp 1 triliun," kata Amri.

Penerbitan OWK ditargetkan tuntas pada 31 Maret 2017. Pascapenerbitan, jumlah saham BNBR bertambah dari 97,02 miliar saham menjadi 113,47 miliar saham.

Saham baru ini diambil oleh lima kreditur BNBR. Kelima kreditur ini adalah Daley Capital Limited, Interventures Capital Pte Ltd, PT Maybank Kim Eng Securities, Harus Capital Ltd dan Smart Treasures.

David Sutyanto, Analis First Asia Capital, mengatakan, restrukturisasi dengan konversi utang ke saham memang menguntungkan emiten, lantaran defisiensi modal langsung teratasi. Namun, bagi investor, efek dilusi yang ditimbulkan akan besar. "Namun memang nanti kinerja keuangannya akan terangkat dan lebih baik," ujar dia.

Tahun lalu, rugi bersih BNBR melejit 105% menjadi Rp 3,6 triliun dibanding dengan tahun 2015. Pendapatan BNBR tahun lalu anjlok 37,81% menjadi Rp 2 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia