KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan melaksanakan pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp 905,48 miliar, jika direstui pemegang saham. Langkah ini diambil sebagai antisipasi dampak ketidakpastian global yang berisiko menekan pasar keuangan dalam negeri. Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (4/3/2026), nilai
buyback kali ini dipastikan tak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan perseroan, yang berasal dari arus kas bebas berupa saldo yang belum ditentukan penggunaannya. Nilai Rp 905,48 miliar ini sudah termasuk biaya transaksi
buyback sekitar 0,32% dan nilai eksekusi
buyback, dengan asumsi
buyback dilaksanakan secara keseluruhan.
Baca Juga: Rupiah Melemah Imbas Konflik di Timur Tengah, BI: Intervensi Terus Dilakukan Manajemen BNI menjelaskan sejumlah pertimbangan yang mendasari aksi ini.
Pertama, perseroan memperhatikan kinerja saham perbankan domestik yang kurang apik lantaran dilingkupi ketidakpastian global dan tantangan likuiditas serta perlambatan permintaan kredit. Per 31 Desember 2025, manajemen mencatat harga saham BBNI cuma naik 0,5% secara tahunan. Meski memang masih lebih baik ketimbang
local peers, posisi ini nyatanya menunjukkan ketertinggalan dari bank-bank
regional peers. Meski manajemen melihat pasar saham domestik mulai
rebound di akhir tahun lalu, arus masuk dana asing dinilai belum sepenuhnya pilih. Apalagi, kini investor masih berhati-hati dalam mengantisipasi ketidakpastian global yang kembali meningkat di awal tahun 2026. Ini menjadi pertimbangan kedua perseroan. Tensi geopolitik dan ancaman tarif Amerika Serikat (AS), yang telah mendorong nilai tukar rupiah terperosok lebih dalam ketimbang masa krisis moneter 1998 lalu, menjadi kekhawatiran tersendiri.
Baca Juga: OJK Masih akan Menerbitkan Sejumlah Ketentuan di Bidang PVML pada 2026 Meski di tengah ketidakpastian ini manajemen mengaku
forecast kinerja BNI masih tumbuh positif, perseroan tetap mencermati risiko tekanan inflasi dari nilai tukar yang berpotensi menekan pasar modal domestik, tanpa terkecuali saham perbankan. Dus, buyback dilakukan dengan tujuan mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks harga saham sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa perseroan memandang harga saham saat ini tak mencerminkan fundamental perusahaan. Perseroan meyakini aksi
buyback tak memberi dampak negatif terhadap kegiatan usaha perseroan. Setelah
buyback, diperkirakan laba bersih tahun berjalan perseroan tak bakal berubah dari posisi akhir tahun. Namun, jumlah aset berkurang senilai
buyback menjadi Rp 1.361 triliun dan rasio kecukupan modal (
capital adequacy ratio/CAR) bank only turun 10 bps menjadi 20,6%.
Baca Juga: Fuji Finance (FUJI) Catat Laba Rp 8,35 Miliar pada 2025 Sementara laba bersih per saham diperkirakan naik dari Rp 537 menjadi Rp 540 dan posisi ROE bank
only naik 10 bps menjadi 12,7%.
Buyback ini bakal dilakukan melalui BEI, baik secara bertahap maupun sekaligus, paling lambat 12 bulan sejak persetujuan yang diperoleh dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 9 Maret 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News