KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sebagai upaya untuk memperkuat pondasi permodalan, PT Bank Negara Indonesia (BNI) mengambil langkah proaktif dengan melakukan penerbitan instrumen Additional Tier-1 (AT1) sebesar US$ 700 juta atau setara Rp 11,9 triliun pada April 2026. Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, penguatan permodalan ini semakin meningkatkan kapasitas BNI dalam mengantisipasi potensi risiko sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis secara berkelanjutan dan sehat di masa yang akan datang. BNI merupakan Bank pertama di Indonesia yang menerbitkan instrumen permodalan Additional Tier 1 ini. Pada 2021 lalu BNI juga telah menerbitkan Additional Tier-1 Capital Bond sebesar US$ 600 juta atau sekitar Rp 8,6 triliun.
Baca Juga: BNI Bukukan Laba Rp 5,66 Triliun pada Kuartal I-2026 Surat berharga yang dilepas dengan suku bunga 4,3% per tahun ini merujuk pada ketentuan Regulation S, berdasarkan US Securities Act, dan didaftarkan di Singapore Stock Exchange. Sejalan dengan strategi tersebut, BNI juga tengah menjalankan transformasi bisnis yang difokuskan pada wilayah, area, dan cabang, melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region, Area, Value, Empowerment). "Dengan semangat “
empowerment”, transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas jaringan BNI hingga ke unit operasional terkecil, yaitu memberdayakan kantor cabang dan kantor cabang pembantu sebagai
point of sale utama atas produk dan layanan perbankan," jelasnya kepada kontan.co.id, Rabu (29/4/2026). Transformasi ini mulai dijalankan pada kuartal IV-2025 dengan model implementasi kapabilitas yang dilakukan secara bertahap. Ditargetkan, dengan implementasi BRAVE pertumbuhan kredit dan CASA dapat tumbuh secara berkualitas dan berkelanjutan. "Kemudian juga diikuti peningkatan
market share BNI di industri perbankan, dan berujung pada meningkatnya produktivitas cabang-cabang BNI yang saat ini berjumlah lebih dari 1.700 cabang di seluruh Indonesia," tambahnya. Sekitar 6 bulan setelah inisiatif BRAVE dimulai, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga.
Hingga Maret 2026, tercatat kredit BNI tumbuh 20,1% secara
year on year, ditopang oleh struktur pendanaan CASA yang semakin kuat dengan pertumbuhan 26,6% secara
year on year, sehingga mampu menopang efisiensi biaya dana (
cost of funds) di tengah kondisi dinamika pasar yang penuh tantangan. Pencapaian dana pihak ketiga (DPK) BNI capai Rp 1.100 triliun, naik 34,3% yoy di kuartal I-2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News