KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang solid hingga Juni 2026. Bank menyebut pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan dana murah dan penguatan layanan digital. Hingga Juni 2026, dana pihak ketiga (DPK) BNI tumbuh 22,3% secara tahunan (
year-on-year/yoy). Secara rinci, tabungan tumbuh sekitar 9,6% yoy, giro tumbuh 12,3% yoy, dan deposito tumbuh 50,7% yoy.
Head of Investor Relation BNI Yohan Setio menyoroti, pertumbuhan DPK BNI juga mulai mampu mengungguli pertumbuhan industri. Memang dalam periode yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat DPK industri perbankan tumbuh 10,21% yoy.
Baca Juga: BCA Catat Penyaluran KPR Rp144,3 Triliun hingga Juni 2026 Yohan bilang salah satu pendorong capaian itu adalah perbaikan
value proposition, terutama melalui produk dan layanan digital. BNI mengandalkan aplikasi wondr by BNI untuk nasabah ritel serta BNI Direct untuk nasabah institusional. Ia bilang peningkatan kualitas transaksi melalui kedua platform itu mendorong nasabah semakin aktif bertransaksi sekaligus meningkatkan dana yang mengendap di BNI. "Nasabah semakin banyak bertransaksi di BNI dan otomatis semakin banyak juga dana mengendap di BNI," jelas Yohan dalam paparan publik BNI, Rabu (9/9/2026). Selain transaksi digital, pertumbuhan rekening payroll juga menjadi salah satu katalis pertumbuhan DPK BNI. Sebagai salah satu pemain utama di segmen
wholesale, BNI mengelola rekening gaji karyawan dari perusahaan-perusahaan yang menjadi nasabah perseroan. Yohan menyebut jumlah rekening payroll BNI meningkat signifikan dalam setahun terakhir. Jika tahun lalu jumlahnya sekitar 5 juta rekening, kini telah bertambah sekitar 1 juta menjadi 6 juta rekening. "Dalam satu tahun nambah 1 juta itu naik 20% menjadi di kisaran 6 juta rekening payroll di BNI," katanya. Nah pertumbuhan rekening payroll tersebut, kata Yohan, menjadi katalis pertumbuhan DPK yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Pasalnya, dana yang dihimpun dari rekening transaksional tersebut cenderung masuk ke kategori dana murah sehingga dapat membantu menjaga biaya dana
(cost of fund/CoF). Untuk tabungan, Yohan bilang BNI memberikan bunga sekitar rata-rata 1%, sedangkan bunga giro sedikit lebih tinggi. Dari sisi CoF, BNI mencatat perbaikan pada semester I-2026. CoF bank berada di kisaran 2,6%, turun 20 basis poin (bps) dibandingkan dengan 2,8% pada semester I-2025.
Meski demikian, BNI menilai masih terdapat ruang untuk menekan CoF lebih rendah ke depan. Perseroan belum menganggap level CoF 2,6% saat ini sebagai posisi yang sudah optimal. "Namun kita belum bisa bilang bahwa kita puas dengan
cost of fund kita di 2,6%. Menurut kita masih banyak
room for improvement untuk
cost of fund ke depannya bisa lebih baik lagi," pungkasnya.
Baca Juga: Kredit Investasi Melesat, Ini Cara BNI Pastikan Kemampuan Bayar Debitur Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News