BNLI jual obligasi bertenor pendek



JAKARTA. Sekarang waktu yang tepat bagi Anda berburu instrumen obligasi. Imbal hasil surat utang negara (SUN) terus menanjak.

Kenaikan imbal hasil SUN turut mengerek kupon obligasi korporasi yang terbit menjelang akhir tahun, termasuk obligasi PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang masuk masa penawaran awal hari ini (28/11).

Bank Permata menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap pertama senilai Rp 1,5 triliun. Ini merupakan bagian dari obligasi berkelanjutan Bank Permata dengan total nilai Rp 3 triliun. Bank Permata menerbitkan surat utang ini dalam dua seri, yaitu seri A bertenor 370 hari dan seri B bertenor tiga tahun. Selain kedua seri tersebut, Bank Permata menerbitkan obligasi subordinasi Rp 1 triliun bertenor tujuh tahun.


BNLI akan menggunakan sebanyak-banyaknya Rp 800 miliar dana untuk melakukan penyertaan saham dalam PT Astra Sedaya Finance. Kelak, Bank Permata akan memiliki 25% saham Astra Sedaya. Sisa dana akan dipakai untuk penyaluran kredit.

Ariawan, analis Sucorinvest Central Gani, mengatakan, Bank Permata akan memberi kupon menarik untuk obligasi ini. Saat ini, tren imbal hasil SUN sedang tinggi. Alhasil, kupon obligasi korporasi akan ikut terkerek. "Kupon mungkin bisa sekitar 150 basis poin (bps) hingga 250 bps di atas SUN acuan," kata Ariawan.

Artinya, kupon obligasi Bank Permata untuk seri A akan berkisar antara 8%-9% dan antara 9,23%-10,23% untuk seri B.

Penawaran ini tentu menarik buat investor. Investor biasanya lebih suka memegang obligasi korporasi hingga jatuh tempo ketimbang menjualnya di pasar sekunder. Kupon saat ini sudah naik lebih dari 300 bps ketimbang akhir 2012.

Fakhrul Aufa, analis Indonesia Bond Pricing Agency, pun melihat, kupon obligasi Bank Permata ini terkerek seiring kenaikan yield SUN acuan. Fakhrul memprediksi, obligasi seri A akan memberi premium 222 bps dan seri B memberi premium 225 bps.

Ariawan memprediksi, imbal hasil surat utang akan turun antara 50 bps-100 bps hingga akhir tahun depan. "Di awal tahun, yield akan naik terbatas dan lebih volatile, baru mulai kuartal kedua atau ketiga, yield turun sampai akhir tahun," ujar Ariawan.

Fakhrul pun memprediksi hal senada. Pasar masih mengkhawatirkan pemangkasan stimulus Amerika Serikat. "Di awal tahun depan yield bisa lebih tinggi, baru turun sedikit di semester kedua," kata Fakhrul.

Fakhrul menambahkan, bila emiten memang perlu dana, saat ini merupakan waktu yang lebih baik ketimbang awal tahun depan untuk menerbitkan obligasi karena ketidakpastian ekonomi global. Namun, Ariawan mengingatkan, investor akan punya dana lebih besar untuk beli obligasi di awal tahun. Jadi, permintaan akan tetap besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati