Boediono tak sepakat jika kurikulum 2013 diubah



JAKARTA. Wakil Presiden periode 2009-2014, Boediono, tidak sepakat apabila kurikulum 2013 harus diubah. Menurut Boediono, kurikulum itu hanya butuh penyempurnaan sehingga tidak perlu sampai dihentikan pelaksanaannya.

"Kurikulum 2013 itu penuh hal bagus, tantangan siswa dan guru untuk menghasilkan pengajaran yang baik. Saya harapkan ini tetap dilanjutkan, tapi dengan perbaikan, persiapan yang baik," kata Boediono usai menghadiri peluncuran buku "Sisi Lain Istana 2" di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (9/12).

"Saya kira pak menteri (Anies Baswedan) bilang yang sudah jalan, ya (tetap dijalankan). Yang lain perlu diupayakan untuk didukung, jangan sampai ditinggalkan," tambah Boediono.   Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan sebelumnya memutuskan, Kurikulum 2013 hanya akan diterapkan di 6.221 sekolah yang telah melaksanakan kurikulum baru itu selama tiga semester. Adapun sekolah lain harus kembali ke Kurikulum 2006. Keputusan mulai berlaku pada semester genap tahun ajaran 2014/2015 atau Januari 2015.


Saat ini ada sekitar 208.000 sekolah jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas dengan murid sekitar 31 juta orang.

Anies menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 karena guru tidak siap, fasilitas sekolah minim, distribusi buku macet, serta evaluasi substansi dan implementasi Kurikulum 2013. Setelah dievaluasi, kurikulum itu nantinya diperbaiki dan tetap akan digunakan semua sekolah.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, Kurikulum 2013 bukan dicabut, melainkan diperbaiki dalam hal penerapan. Menurut Kalla, pemerintah memperpanjang masa transisi Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013 agar kurikulum baru lebih sempurna ketika dilaksanakan pada kemudian hari. (Sabrina Asril)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie