KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,25% pada Jumat (30/10/2026). Namun, bank sentral tersebut mengisyaratkan peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam waktu dekat seiring inflasi Jepang yang mulai mencapai target 2%. Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan pasar. Meski demikian, BOJ memberikan sinyal perubahan arah kebijakan moneter yang lebih
hawkish atau cenderung ketat setelah hampir 14 tahun berupaya mencapai target inflasi.
Baca Juga: Peretasan Binance US$ 6,3 Miliar Picu Kekhawatiran Likuiditas Pasar Kripto Dalam laporan prospek ekonomi kuartalan, BOJ menyatakan inflasi inti yang mendasari pergerakan harga secara umum telah berada pada level yang konsisten dengan target 2%. Bank sentral juga memperkirakan inflasi tersebut akan bertahan di sekitar level tersebut. "Dengan latar belakang ini, penting untuk mencermati sejauh mana inflasi yang mendasari dapat bertahan di sekitar 2%," demikian pernyataan BOJ dalam laporan tersebut. BOJ menegaskan, fokus kebijakan ke depan bukan lagi semata-mata mendorong inflasi mencapai target, melainkan memastikan kenaikan harga dapat bertahan secara stabil di sekitar 2%. Dalam rapat kebijakan selama dua hari yang berakhir Jumat, anggota dewan BOJ Hajime Takata berbeda pendapat dengan mayoritas anggota. Ia mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,5%, tetapi usulan tersebut tidak disetujui. Keputusan mempertahankan suku bunga memberikan ruang bagi BOJ untuk mengevaluasi dampak kenaikan suku bunga sebelumnya terhadap kondisi pinjaman dan perekonomian. Meski demikian, mayoritas analis yang disurvei Reuters memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga menjadi 1,5% pada Desember mendatang. Setelah itu, bank sentral diperkirakan melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap pada tahun depan, dengan proyeksi suku bunga terminal di kisaran 1,75%-2%. Pasar kini menantikan penjelasan Gubernur BOJ Kazuo Ueda setelah rapat kebijakan untuk memperoleh petunjuk mengenai waktu dan kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya.
Baca Juga: Binance Dibobol, Aset Kripto US$ 6,3 Miliar Terdampak dan Bitcoin Anjlok Inflasi Jepang Meningkat, BOJ Percepat Pengetatan Perubahan sikap BOJ sejalan dengan meningkatnya tekanan inflasi akibat tingginya biaya energi dan kenaikan harga barang impor. Pelemahan yen turut memperbesar tekanan tersebut karena membuat biaya impor Jepang semakin mahal. BOJ juga menaikkan proyeksi inflasi konsumen inti untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2028 menjadi 2,6%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,4% yang disampaikan tiga bulan lalu. Data inflasi inti tahunan di Tokyo pada Oktober juga menunjukkan kenaikan harga yang jauh melampaui target 2% BOJ. Inflasi Tokyo menjadi salah satu indikator awal untuk melihat perkembangan harga secara nasional.
Baca Juga: Kasus PHK di Singapura Tembus 4.800 Orang, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19 Kenaikan harga tersebut berpotensi menekan konsumsi rumah tangga Jepang. Pasalnya, konsumen dapat semakin selektif dalam berbelanja dan mencari produk dengan harga lebih murah ketika biaya hidup meningkat. Sebelumnya, BOJ telah mengakhiri berbagai kebijakan pelonggaran moneter tidak konvensional pada 2024. Namun, bank sentral tetap berhati-hati dalam menaikkan suku bunga karena menilai inflasi yang didorong permintaan domestik belum cukup kuat. Di bawah kepemimpinan mantan Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda, Jepang pernah menerapkan stimulus moneter besar-besaran pada 2013 untuk mengakhiri deflasi dan mendorong inflasi mencapai target 2%. Pernyataan terbaru BOJ yang menyebut inflasi telah berada di sekitar target menandai perubahan penting setelah bertahun-tahun Jepang menghadapi pertumbuhan harga yang rendah atau bahkan negatif.
Selain mempertahankan suku bunga, BOJ juga mengumumkan rencana mempercepat penjualan dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded funds (ETF).
Baca Juga: Ringgit dan Won Pimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Naik 0,11% Mulai Januari mendatang, BOJ akan meningkatkan penjualan ETF menjadi 860 miliar yen atau sekitar US$ 5,45 miliar per tahun, dibandingkan laju penjualan saat ini sebesar 330 miliar yen per tahun. Perubahan kebijakan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian arah kebijakan moneter BOJ setelah Jepang mulai keluar dari periode inflasi rendah yang berlangsung selama bertahun-tahun.