KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Anda penggemar investasi emas dan yakin emas akan mengamankan investasi Anda ke depan? Anda tidak sendiri. Banyak investor jawara juga kini menyarankan investasi di emas. Salah satunya yang sudah sering disebut-sebut adalah Ray Dalio. Investor kawaka nasal Amerika Serikat (AS) ini sudah dikenal kerap mempromosikan emas sebagai aset investasi
safe haven di tengah tingginya ketidakpastian seperti saat ini. Dari Asia, ada Dato’ Seri Cheah Cheng Hye. Pendiri dan
Chairman Value Partners Group Ltd. ini menginvestasikan sebagian besar kekayaan pribadinya ke dalam emas. Ia juga menyarankan orang lain melakukan hal yang sama.
Baca Juga: Panduan Investasi Emas untuk Pemula: Tips Aman dan Praktis Mulai Investasi Emas Bloomberg melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui hal ini, sekitar 25% portofolio
family office yang mengelola kekayaan Cheah, yang totalnya mencapai US$ 1,4 miliar, adalah logam mulia. Dibandingkan setahun sebelumnya, porsi emas cuma 15%. “Saya adalah investor yang sangat sabar. Saya membeli logam mulia, tidak memperdagangkannya, dan menganggapnya sebagai bagian dari tabungan seumur hidup saya,” kata Cheah, 71 tahun, dalam sebuah wawancara dengan
Bloomberg News. Tren
bullish pada harga emas menjadikan strategi investasi Cheah mencolok dibandingkan strategi para orang ultra kaya lainnya. Apalagi, harga emas belakangan terus naik, hingga mencapai rekor tertinggi. Menurut Laporan UBS Global Family Office 2025, alokasi rata-rata untuk emas dan logam mulia para orang ultra kaya hanya 2% pada 2024.
Baca Juga: Melihat Kinerja Portofolio Investasi per September 2025, Emas Masih Paling Cuan Cheah menganjurkan investor membangun portofolio yang terdiri dari 60% saham, 20% obligasi, dan 20% logam mulia, yang sebagian besar adalah emas. Ia menolak berkomentar tentang kinerja dan kepemilikan
family office yang mengelola kekayaannya. Cheah memulai investasi emas pada 2008. Dana yang ia tanamkan kala itu tidak terlalu besar. Tapi, menurut sumber, porsi investasi emas lantas meningkat pesat seiring pembelian besar ETF emas fisik satu dekade kemudian. Dari investasi ini, Cheah memperoleh total keuntungan dari waktu ke waktu sebesar US$ 251,1 juta, atau setara 167%. Cheah juga berinvestasi dalam saham pertambangan emas, batangan dan koin fisik.
Baca Juga: Harga Tembaga Rebound Disokong Pelemahan Dolar AS dan Data Ekonomi China “Saya hanya membeli, saya tidak pernah menjual,” kata Cheah. Ia menambahkan, ia melakukan beberapa perdagangan kecil pada tahun lalu. Ia tidak menggunakan derivatif atau produk terstruktur dan tidak pernah meminjam uang untuk berinvestasi. Logam mulia, termasuk emas, perak, tembaga, dan timah, mencapai rekor harga tertinggi di awal tahun. Kenaikan tersebut didorong oleh perkiraan pelonggaran kebijakan moneter The Fed, tekanan politik dari pemerintahan Trump, dan ketegangan geopolitik. Beberapa
family office Asia, seperti Cavendish Investment Corp., memperdagangkan emas fisik secara langsung melalui perantara. Mereka juga mengalokasikan porsi portofolio yang signifikan untuk logam mulia.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan! Anak Warren Buffett Baru Tahu Ayahnya Miliarder Umur 20 Tahun Setelah pembekuan aset Rusia pada 2022 dan ketegangan baru-baru ini di Venezuela dan Iran, Cheah mengatakan, dunia memasuki periode pelarian brankas besar-besaran. Keluarga kaya Asia semakin banyak memindahkan uang kembali ke wilayah tersebut untuk melindungi diri dari sanksi AS atau potensi penyitaan aset. Cheah menilai, cara yang baik untuk menyimpan kekayaan itu adalah dalam emas .
“Jika Anda memiliki emas fisik di gudang atau di brankas bank Anda, tidak ada yang berutang apa pun kepada Anda. Bagi investor yang berbasis di Asia, jauh lebih baik membeli emas fisik daripada emas kertas,” kata Cheah. Cheah juga optimistis terhadap perak, yang nilainya meningkat hampir tiga kali lipat dalam setahun terakhir, jauh melampaui kenaikan emas.