Boom AI Dorong Laba Samsung Electronics Melonjak, Tapi Dibayangi Risiko Perang



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Samsung Electronics diperkirakan mencatat lonjakan tajam kinerja keuangan pada kuartal I-2026, didorong oleh melonjaknya harga chip memori seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Mengutip Reuters, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini diproyeksikan membukukan laba operasional sebesar 40,5 triliun won (sekitar US$26,9 miliar) untuk periode Januari–Maret 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan hingga enam kali lipat secara tahunan dan mendekati total laba sepanjang tahun sebelumnya.

Kenaikan ini ditopang oleh apa yang disebut perusahaan sebagai “supercycle” yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar chip memori. Berdasarkan estimasi 29 analis yang dihimpun LSEG, pendapatan Samsung juga diperkirakan naik 50% secara tahunan.


Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Samsung mencatat laba operasional sebesar 43,6 triliun won. Bahkan, sejumlah analis seperti Citi memperkirakan laba kuartal I bisa mencapai 51 triliun won.

Permintaan AI Jadi Motor Utama

Lonjakan kinerja Samsung tidak lepas dari tingginya permintaan chip memori untuk kebutuhan pusat data AI. Investasi besar-besaran perusahaan teknologi global dalam infrastruktur AI menjadi pendorong utama kenaikan harga dan permintaan chip.

Baca Juga: Microsoft Investasi US$10 miliar di Jepang untuk Perkuat AI dan Keamanan Siber

“Sulit membayangkan kondisi pasar yang lebih baik dari ini,” ujar analis Daol Investment & Securities, Ko Yeongmin, terkait kuatnya pasar chip memori.

Namun, di balik kinerja gemilang tersebut, investor mulai mencermati potensi risiko yang muncul dari konflik geopolitik di Timur Tengah.

Bayang-bayang Perang dan Dampaknya

Perang yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan biaya energi serta mengganggu pasokan bahan baku penting bagi industri semikonduktor. Kondisi ini dapat memaksa perusahaan teknologi besar meninjau ulang investasi mereka di pusat data AI.

Selain itu, terdapat indikasi pelemahan harga spot chip DRAM (dynamic random access memory) dalam beberapa pekan terakhir, seiring kenaikan harga perangkat elektronik seperti smartphone dan komputer yang menekan permintaan konsumen.

Faktor lain yang memicu kekhawatiran pasar adalah peluncuran teknologi hemat memori oleh Google bernama TurboQuant. Inovasi ini dinilai berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap chip memori dalam jangka panjang.

Akibat kombinasi faktor tersebut, saham Samsung sempat terkoreksi sekitar 14% sejak konflik dimulai pada 28 Februari. Meski demikian, secara year-to-date sahamnya masih menguat sekitar 50%, didukung optimisme terhadap investasi AI global.

Pasokan Chip Masih Terbatas

Di sisi lain, sejumlah pakar tetap optimistis terhadap prospek industri semikonduktor. Pasokan chip memori dinilai masih belum mampu memenuhi permintaan global.

Presiden distributor semikonduktor Fusion Worldwide, Tobey Gonnerman, menyebut pelemahan harga dalam beberapa minggu terakhir bersifat sementara.

“Permintaan dan backlog masih sangat kuat,” ujarnya.

Baca Juga: Pakar Hukum: Serangan AS ke Iran Berpotensi Kejahatan Perang!

Lembaga riset TrendForce juga memperkirakan harga kontrak DRAM akan terus meningkat. Setelah melonjak dua kali lipat pada kuartal I, harga diproyeksikan naik lagi sebesar 58% hingga 63% pada kuartal II-2026.

Samsung pun mulai menjajaki kontrak jangka panjang tiga hingga lima tahun dengan pelanggan utama untuk menjaga stabilitas permintaan di tengah volatilitas pasar.

Tantangan di Bisnis Lain

Meski divisi chip memori menjadi penyumbang utama laba, lini bisnis lainnya diperkirakan menghadapi tekanan.

Unit manufaktur chip kontrak Samsung yang bersaing dengan TSMC diproyeksikan masih merugi, meskipun mendapat dorongan dari kerja sama dengan Nvidia untuk memproduksi prosesor AI.

Sementara itu, divisi smartphone dan layar datar diperkirakan mengalami penurunan laba hingga sekitar 50% pada kuartal I akibat tingginya biaya memori dan ketatnya persaingan pasar.

Di dalam negeri, Samsung juga menghadapi potensi kenaikan biaya tenaga kerja. Serikat pekerja di Korea Selatan menuntut perubahan skema bonus dan mengancam akan melakukan aksi mogok pada Mei mendatang.