Boom Properti Australia Mulai Berakhir, Harga Rumah Turun Paling Dalam 3,5 Tahun



KONTAN.CO.ID - Harga rumah di Australia mencatat penurunan bulanan terdalam dalam tiga setengah tahun pada Juni 2026.

Kenaikan suku bunga dan kebijakan pajak baru terhadap properti investasi mulai menekan pasar perumahan yang sebelumnya mengalami lonjakan harga dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Rupiah Tak Berkutik! Dolar AS Tekan Mayoritas Mata Uang Asia pada Rabu (1/7)


Berdasarkan data Cotality yang dirilis Rabu (1/7/2026), harga rumah nasional turun 0,4% pada Juni dibandingkan Mei. Ini merupakan penurunan bulanan terbesar sejak Desember 2022.

Meski demikian, secara tahunan harga rumah masih mencatat kenaikan 7,3%. Namun, revisi data bulan-bulan sebelumnya menunjukkan harga rumah sebenarnya telah mencapai puncaknya pada Maret dan turun sekitar 0,7% sepanjang kuartal II-2026.

Koreksi harga dipimpin oleh dua kota terbesar Australia. Harga rumah di Sydney turun 1,2%, sedangkan Melbourne melemah 1% pada Juni.

Di kota-kota besar lainnya, pertumbuhan harga juga melambat. Harga rumah di Adelaide stagnan, sementara Brisbane hanya naik 0,3% dan Perth menguat 0,7%.

Pelemahan pasar terjadi setelah harga properti Australia melonjak lebih dari 30% dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga: Alarm untuk Industri! Ekspor Melemah, PMI Manufaktur Korea Selatan Mulai Melambat

Kenaikan tersebut sebelumnya tetap bertahan meski dihadapkan pada pandemi Covid-19 dan lonjakan biaya pinjaman, berkat pasokan rumah yang terbatas serta pertumbuhan populasi yang kuat.

Direktur Riset Cotality Tim Lawless mengatakan, daya beli masyarakat sebenarnya sudah mulai tertekan bahkan sebelum suku bunga kembali naik.

"Selain kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin, tingginya biaya hidup, sentimen konsumen yang pesimistis, serta perubahan kebijakan pajak terhadap properti investasi turut melemahkan permintaan di pasar perumahan," ujarnya.

Data Equifax menunjukkan, permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) turun 6,6% dalam lima bulan hingga Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Coinbase, Ripple, Crypto.com Masuk Daftar Donatur Terbesar Pemilu AS 2026

Penurunan paling tajam terjadi pada pembeli rumah pertama (first home buyers), dengan jumlah pengajuan kredit merosot 9,1%.

Sementara itu, tingkat keberhasilan lelang rumah di kota-kota besar Australia turun menjadi 47,4% pada pekan lalu, level terendah sejak April 2020 ketika pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi.

Penjualan rumah di kawasan perkotaan selama kuartal II-2026 juga turun 16,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, Reserve Bank of Australia (RBA) mencatat perlambatan pasar perumahan mulai terlihat sebagai dampak dari kenaikan suku bunga sejak Februari.

Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Hati-hati, Cermati Mandeknya Perundingan AS-Iran dan Arah The Fed

Bank sentral juga mengingatkan bahwa pelemahan pasar properti yang lebih dalam dapat menghambat konsumsi rumah tangga.

Data resmi pemerintah Australia turut menunjukkan tekanan pasokan masih berlanjut. Persetujuan pembangunan unit hunian turun 1,1% pada Mei setelah sebelumnya turun 0,2% pada April.

Meski demikian, pelaku pasar memperkirakan siklus kenaikan suku bunga di Australia telah mendekati akhir.

Pasar kini hanya memperkirakan tambahan kenaikan sekitar 12 basis poin hingga akhir tahun, bahkan mulai memperhitungkan peluang penurunan suku bunga pada akhir 2027.

Baca Juga: Aktivitas Pabrik China Catat Kinerja Kuartalan Terbaik Sejak Akhir 2020

Kepala Ekonom AMP Shane Oliver memperkirakan, harga rumah Australia masih berpotensi turun sekitar 6% dari puncaknya hingga pertengahan tahun depan sebelum mulai pulih seiring prospek penurunan suku bunga.

Menurutnya, sejumlah faktor yang selama ini mendorong lonjakan harga properti mulai memudar, mulai dari tren suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka panjang, dorongan politik untuk memperlambat imigrasi, hingga perubahan kebijakan pajak yang diperkirakan mengurangi aktivitas investasi di sektor properti.