Booming AI Angkat Prestise Karyawan Samsung dan SK Hynix, Jadi Rebutan di Pasar Jodoh



KONTAN.CO.ID - Ledakan industri kecerdasan buatan (AI) global tidak hanya mendongkrak kinerja bisnis raksasa chip Korea Selatan, tetapi juga mengubah status sosial para karyawannya.

Kini, pegawai Samsung Electronics dan SK Hynix disebut-sebut masuk dalam kelompok paling diminati di pasar kerja hingga pasar perjodohan Korea Selatan.

Baca Juga: Setelah Anjlok 3%, Harga Minyak Dunia Berbalik Naik di Tengah Harapan Damai AS-Iran


Perusahaan biro jodoh di Korea Selatan menyebut karyawan Samsung dan SK Hynix kini disejajarkan dengan dokter, pengacara, dan profesi elite lainnya.

Lonjakan permintaan chip memori untuk kebutuhan AI telah meningkatkan keuntungan perusahaan serta menghasilkan bonus besar bagi para karyawannya.

"Jika sebelumnya karyawan SK Hynix dan Samsung Electronics berada di kategori B+ atau A, sekarang mereka lebih mendekati A+," kata CEO biro jodoh Bien Aller, Son Dong-gyu, seperti dikutip Reuters, Selasa (23//6/2026).

Menurut Son, kategori A+ secara tradisional hanya diberikan kepada dokter, pengacara, profesional berpenghasilan tinggi, atau individu yang berasal dari keluarga sangat kaya.

Fenomena ini terjadi seiring melonjaknya permintaan chip memori yang digunakan dalam pengembangan AI. Harga saham dan laba kedua perusahaan mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Hitung-hitungan Portugal Lolos Piala Dunia 2026: Ronaldo Butuh Berapa Poin?

Pada Senin (22/6), SK Hynix bahkan berhasil melampaui Samsung Electronics sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Korea Selatan.

SK Hynix diketahui merevisi skema bonus karyawan pada tahun lalu. Sementara Samsung mencapai kesepakatan pengupahan dengan serikat pekerja yang mencakup bonus kinerja hingga sekitar US$ 416.000 untuk sebagian karyawan divisi semikonduktor.

Sebagai perbandingan, rata-rata pekerja Korea Selatan memperoleh pendapatan tahunan sekitar 45 juta won atau setara US$ 29.758 pada 2024.

Meski demikian, profesi tradisional seperti dokter, pengacara, dan dokter gigi masih menjadi pilihan utama sebagian masyarakat.

"Namun belakangan ini, ketika kami memperkenalkan seseorang yang bekerja di SK Hynix, respons yang sering muncul adalah, 'Wah, orang seperti itu juga ada di sini?'," ujar konsultan perjodohan dari SUNOO, Lee Sung-mi.

Baca Juga: Prediksi Portugal vs Uzbekistan: Performa Ronaldo Jadi Sorotan Utama

Persaingan Masuk Industri Chip Makin Ketat

Popularitas industri semikonduktor juga mengubah pilihan pendidikan dan karier generasi muda Korea Selatan.

Jika sebelumnya profesi dokter dan pengacara menjadi tujuan utama pelajar berprestasi, kini semakin banyak siswa yang menargetkan pekerjaan di Samsung dan SK Hynix.

Bahkan beberapa lembaga bimbingan belajar mulai membuka kelas khusus untuk mempersiapkan kandidat menghadapi proses rekrutmen di perusahaan semikonduktor tersebut.

Menariknya, sebagian pekerjaan di pabrik chip hanya mensyaratkan ijazah sekolah menengah atas, sehingga sekolah vokasi mulai menjadi pilihan yang semakin diminati.

Baca Juga: Gazprom Kehilangan Pasar Eropa, Bagaimana Nasib Sahamnya?

"Saya merasa banyak teman iri kepada saya," kata Jung Sung-chan, siswa berusia 19 tahun dari Pyeongtaek Meister High School yang telah menerima tawaran kerja sebagai teknisi fasilitas chip di Samsung Electronics.

Menurutnya, mendapatkan pekerjaan setelah lulus universitas kini semakin sulit sehingga jalur pendidikan vokasi menjadi alternatif yang menjanjikan.

Konsultan karier dan kalangan akademisi juga melihat perubahan minat mahasiswa di kampus-kampus Korea Selatan.

"Persaingan untuk masuk Samsung dan SK Hynix menjadi sangat ketat. Situasinya mulai menyerupai persaingan masuk perguruan tinggi," ujar Park Jun-young, mantan karyawan Samsung yang kini menjadi konsultan karier mahasiswa.

Minat yang meningkat terhadap sektor semikonduktor turut mendorong lonjakan peminat program studi Semiconductor Engineering yang dibuka Korea University bekerja sama dengan SK Hynix sejak 2021.

Tahun akademik ini, program tersebut mencatat skor penerimaan mahasiswa baru tertinggi sepanjang sejarah.

Mahasiswa tahun pertama program tersebut, Koo Bon-ho, menilai karier di industri chip menawarkan prospek jangka panjang yang lebih aman dibanding banyak sektor lain.

Baca Juga: SpaceX Terbitkan Obligasi Perdana Usai IPO, Simpan Dana Rp1.801 Triliun

"Dibandingkan teman-teman saya, saya merasa memiliki kepastian kerja yang lebih baik," ujarnya.

Kekhawatiran mengenai keamanan pekerjaan memang meningkat di Korea Selatan.

Tingkat pengangguran kelompok usia 15-29 tahun tercatat naik menjadi 6,1% pada 2025, lebih tinggi 0,2 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.

Profesor Lee Hyung-min dari Departemen Teknik Semikonduktor Korea University menilai industri chip akhirnya mendapatkan pengakuan yang sepadan dengan kontribusinya terhadap perekonomian Korea Selatan. Saat ini, lebih dari 40% ekspor negara tersebut berasal dari produk semikonduktor.

Sementara itu, Lee Sung-mi memperkirakan daya tarik industri chip masih akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan.

"Banyak orang memperkirakan industri semikonduktor akan tetap berada dalam siklus pertumbuhan setidaknya dua hingga tiga tahun mendatang," ujarnya.