KONTAN.CO.ID - Lonjakan investasi pada sektor kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI) di Amerika Serikat (AS) berpotensi mengubah peran dolar AS sebagai aset lindung nilai ketika pasar keuangan bergejolak. Jika reli saham AI berbalik arah, arus modal asing yang selama ini menopang aset AS justru dapat menjadi sumber tekanan bagi greenback. Investor global telah menggelontorkan dana ke saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, obligasi korporasi perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan atau hyperscaler, serta infrastruktur jaringan listrik yang menopang pengembangan AI.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Dipicu Kekhawatiran Inflasi Imbas Kenaikan Harga Minyak Arus modal tersebut memperkuat taruhan investor terhadap keunggulan ekonomi AS, yang ditopang pertumbuhan lebih cepat, imbal hasil lebih tinggi, dan permintaan asing terhadap aset keuangan negara tersebut. Namun, jika prospek bisnis AI mengecewakan, posisi dolar AS sebagai aset safe haven atau pelindung nilai berpotensi berbenturan dengan meningkatnya sensitivitas mata uang tersebut terhadap risiko pasar. Penurunan berkepanjangan di pasar saham dapat mendorong investor melepas aset AS secara bersamaan. Kondisi ini berisiko mengalahkan permintaan dolar yang biasanya meningkat ketika pasar global mengalami tekanan. “Jika perdagangan AI berbalik arah, tidak lagi jelas bahwa dolar akan memperoleh keuntungan dengan cara yang sama seperti pada masa lalu,” kata Dominic Bunning, kepala strategi valuta asing G10 di Nomura, seperti dikutip
Reuters, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Produksi Gas AS Bakal Cetak Rekor Lagi, Permintaan LNG dan Pusat Data Melonjak Arus Modal Asing ke Aset AS Jadi Risiko Pekan lalu memberikan gambaran awal mengenai risiko tersebut. Ketika valuasi saham AI mendapat tekanan, aliran dana ke aset lindung nilai lebih menguntungkan yen Jepang dan franc Swiss dibandingkan dolar AS. Dolar memang masih mencatat penguatan tipis terhadap euro. Namun, pergerakan tersebut terutama dipengaruhi tekanan terhadap mata uang tunggal Eropa akibat kekhawatiran mengenai kerusuhan sipil di Prancis. Kevin Ford, kepala strategi valuta asing dan makro di Convera mengatakan, hubungan antara perdagangan AI dan pergerakan dolar semakin terlihat ketika investor mulai mempertanyakan valuasi sektor tersebut. Arus investasi asing ke saham AS kini berada pada rekor tertinggi, sedangkan investasi langsung asing atau
foreign direct investment (FDI) tertinggal. Artinya, sebagian besar dana yang masuk berasal dari investor institusi yang dapat mengubah alokasi investasinya ketika menilai ulang prospek pertumbuhan AS, suku bunga, maupun valuasi perusahaan teknologi.
Baca Juga: Nikkei Menguat 1,26%, Kinerja Emiten Chip Bangkitkan Optimisme AI Erik Nelson, kepala global strategi valuta asing di Wells Fargo menyamakan arus dana tersebut dengan fenomena hot money yang kerap mendominasi pasar negara berkembang. Dana semacam ini relatif sensitif terhadap perubahan ekspektasi keuntungan dan kondisi pasar. Booming AI juga memperkuat ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi, inflasi yang lebih persisten, serta suku bunga yang bertahan tinggi. Ekspektasi tersebut ikut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dan memperkuat dolar. “Seluruh perdagangan AI menyebabkan suku bunga AS mengalami penyesuaian ke level lebih tinggi, yang kemudian mendorong dolar menguat,” ujar Noah Buffam, ahli strategi valuta asing di CIBC Capital Markets. Jika imbal hasil investasi AI tidak sesuai ekspektasi, pembalikan arus modal dapat menekan saham, pasar kredit, dan obligasi. Dalam skenario tersebut, dolar menghadapi tekanan dari tiga arah sekaligus. Pertama, perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat mendorong Federal Reserve memangkas suku bunga sehingga mengurangi keunggulan imbal hasil dolar. Kedua, perlambatan investasi domestik dapat melemahkan narasi keunggulan ekonomi AS. Ketiga, berkurangnya permintaan investor institusi terhadap saham dan obligasi korporasi AS dapat menghilangkan salah satu penopang utama arus modal ke negara tersebut. Meski demikian, investor sejauh ini masih cenderung membeli aset ketika harganya turun. Karena itu, jika pelemahan dolar benar-benar terjadi secara berkelanjutan, prosesnya diperkirakan dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Baca Juga: Yield Sedang Tinggi, JP Morgan AM: Kini Saatnya Beli Instrumen Surat Utang Belajar dari Gelembung Dotcom Nelson mengingatkan bahwa kejatuhan pasar saham teknologi tidak serta-merta membuat dolar melemah. Setelah Nasdaq mencapai puncaknya pada Maret 2000, dolar tetap bertahan kuat selama hampir dua tahun sebelum akhirnya tertekan ketika pasar kredit AS mengalami tekanan setelah kebangkrutan perusahaan seperti WorldCom, di tengah sejumlah faktor lain termasuk pemulihan pertumbuhan ekonomi global. Namun, investasi AI saat ini dinilai lebih terkonsentrasi di AS. Nelson mengatakan indeks dolar riil berbobot perdagangan telah bertahan di atas rata-rata jangka panjangnya sejak 1973 selama 12 tahun berturut-turut, periode terpanjang dalam catatan. Arus modal asing juga lebih terkonsentrasi pada saham dan obligasi korporasi dibandingkan pada 2000, sementara investasi langsung asing relatif lebih lemah.
Baca Juga: Laba Lampaui Proyeksi, Kinerja Freeport Tertolong Lonjakan Harga Tembaga Apabila investasi infrastruktur AI tidak menghasilkan keuntungan yang memadai, selisih imbal hasil obligasi korporasi terhadap instrumen pemerintah atau credit spread dapat melebar. Kondisi itu berpotensi memaksa perusahaan AI memangkas belanja modal dan merambat ke sektor lain, mulai dari peralatan industri, perangkat keras, hingga energi. Kekhawatiran terhadap perusahaan AI dengan risiko lebih tinggi, termasuk perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan yang memiliki utang besar seperti CoreWeave, juga telah mendorong pelebaran tajam spread credit default swap (CDS) dalam beberapa pekan terakhir. Perkembangan ini menambah tekanan terhadap saham. “Kami bisa melihat keretakan di sejumlah bagian ketika mengamati credit default swap,” kata Shaun Osborne, kepala strategi valuta asing di Scotiabank. Risiko lainnya berasal dari kondisi fiskal AS. Washington kini menghadapi defisit anggaran besar, berbeda dengan surplus anggaran di sekitar puncak gelembung teknologi pada 2000. Kondisi tersebut membatasi ruang pemerintah untuk memberikan stimulus penyeimbang ketika ekonomi melemah tanpa memicu kekhawatiran di pasar surat utang.
Baca Juga: AS Rampungkan Pinjaman US$ 5,1 Miliar ke Alliant Energy untuk Pembangkit Listrik Dolar Tetap Bisa Menguat Saat Krisis Meski memiliki sejumlah kerentanan, pelemahan dolar bukanlah kepastian. Nelson menilai indikator penting yang perlu diperhatikan bukan sekadar penurunan saham teknologi AS, melainkan apakah tekanan pasar berkembang menjadi persoalan kredit dan pertumbuhan ekonomi yang spesifik di AS, sekaligus mengubah ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Dalam skenario tersebut, yen Jepang berpotensi diuntungkan dibandingkan dolar, dengan implikasi lanjutan bagi pasar keuangan global yang tengah tertekan. Sebaliknya, guncangan besar yang memicu kebutuhan mendesak terhadap pendanaan dolar dapat membuat mata uang AS justru menguat pada tahap awal krisis. Hal ini terjadi pada 2008 dan Maret 2020, ketika investor berbondong-bondong mencari dolar untuk memenuhi kewajiban dalam denominasi mata uang tersebut.
Penguatan akibat kebutuhan likuiditas itu dapat bersifat kuat, tetapi sementara. Sejumlah investor menilai risiko dolar kini kembali menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan, terutama sejak pelemahan tajam yang dipicu pengumuman tarif menyeluruh Presiden AS Donald Trump pada April 2025. “Kepekaan investor global terhadap perubahan valuasi besar atau aksi jual dolar sangat signifikan,” ujar Nelson. Ia menilai kerentanan tersebut layak dicermati saat pasar memasuki 2027.
Baca Juga: Pemilu Israel Berakhir Ketat, Netanyahu dan Oposisi Sama-Sama Gagal Raih Mayoritas