Booming AI Ubah Arah Investasi Investor, Ini Sektor Incaran Menurut Goldman Sachs



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Goldman Sachs memproyeksikan investor mulai mengalihkan portofolionya ke perusahaan padat modal yang memiliki aset fisik dan membutuhkan belanja modal capital expenditure (capex) besar dibandingkan perusahaan dengan model bisnis ringan aset (asset-light).

Perusahaan asal Amerika Serikat itu menyebut perubahan ini didorong oleh lonjakan investasi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI), suku bunga yang lebih tinggi, serta meningkatnya fragmentasi geopolitik. 

Dalam riset yang dirilis 21 Juli 2026, Goldman Sachs menyebut perkembangan AI membuat perusahaan teknologi tidak lagi hanya bergantung pada perangkat lunak.


Baca Juga: Dinamika Pasar Modal, Investor Bisa Manfaatkan Penggunaan AI Trading

Sebaliknya, pertumbuhan AI kini semakin ditopang pembangunan infrastruktur fisik berskala besar.

Chief Global Equity Strategist Goldman Sachs Research, Peter Oppenheimer, mengatakan dunia kini memasuki rezim investasi baru yang ditandai inflasi dan suku bunga lebih tinggi, meningkatnya utang pemerintah, serta fragmentasi geopolitik yang disebut sebagai post-modern cycle.

"Kini semakin banyak investor yang bersedia mendanai perusahaan padat modal karena mereka semakin yakin bahwa investasi tersebut mampu menghasilkan keuntungan," tulis dalam risetnya. 

Oppenheimer menjelaskan pandemi Covid-19 berakhir, investor lebih banyak mengalokasikan dana ke perusahaan teknologi berbasis asset-light. Iklim suku bunga rendah saat itu memungkinkan perusahaan digital bertumbuh tanpa membutuhkan investasi fisik yang besar.

“Namun, kondisi tersebut mulai berubah setelah pandemi. Kenaikan inflasi dan biaya modal membuat pertumbuhan laba menjadi penentu utama kinerja saham, sementara kenaikan valuasi tidak lagi menjadi pendorong utama keuntungan investor,” jelasnya. 

Baca Juga: Rotasi Saham AI Global Berlanjut, Apa Dampaknya ke Saham Teknologi Indonesia?

Menurutnya, transformasi AI menjadi pendorong utama perubahan tersebut. Pengembangan teknologi AI kini membutuhkan investasi besar untuk membangun pusat data, jaringan, serta infrastruktur energi guna menopang kapasitas komputasi.

Goldman Sachs memperkirakan penyedia AI terbesar akan menggelontorkan belanja modal sekitar US$ 755 miliar pada 2026. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$ 920 miliar pada 2027 seiring pesatnya pengembangan teknologi AI.

“Pembangunan pusat data dan pasokan energi kini menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi perusahaan AI. Kondisi tersebut turut membuka peluang pertumbuhan bagi sektor infrastruktur, energi, serta industri penunjang lainnya,” jelas Oppenheimer. 

Selain AI, Goldman Sachs menilai meningkatnya fragmentasi geopolitik turut mendorong kebutuhan investasi fisik. Berbagai negara diperkirakan akan meningkatkan belanja untuk memperkuat rantai pasok, ketahanan energi, serta sektor pertahanan.

Baca Juga: Indosat (ISAT) Dorong Efisiensi Supply Chain lewat 27 Solusi AI

Meski demikian, Goldman Sachs mengingatkan perusahaan padat modal tetap menghadapi tantangan.

Kebutuhan investasi yang besar membuat periode pengembalian modal lebih panjang sehingga valuasi perusahaan menjadi lebih kompleks dibandingkan perusahaan berbasis asset-light.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News