Bos 10 Perusahaan yang Diduga Terkait Kabut Asap Bertemu Menteri Senior Singapura



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Media-media Singapura memberitakan pertemuan antara Menteri Senior K Shanmugam dengan pimpinan 10 perusahaan di Singapura yang diduga terkait dengan aktivitas penyebab kabut asap di Indonesia.

Pertemuan tersebut dilakukan pada Rabu (28/10/2026). Business Times melaporkan, perusahaan-perusahaan Singapura yang diduga terkait dengan aktivitas penyebab kabut asap telah sepakat untuk bekerja sama sepenuhnya dengan Pemerintah Singapura. 

Hal ini disampaikan Menteri Senior K Shanmugam kepada para wartawan setelah pertemuan dengan jajaran pimpinan perusahaan tersebut pada Rabu (28/10/2026).


Baca Juga: Bank Sentral Singapura Desak Bank Periksa Nasabah Terkait Kabut Asap RI

Sementara itu seperti dilansir Straits Times, Shanmugam mengatakan, kebakaran yang menyebabkan kabut asap di Indonesia disebabkan oleh praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab, dan Singapura akan menggunakan semua kekuasaan yang dimilikinya untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab.

Berbicara kepada para pemimpin senior yang mewakili 10 perusahaan Singapura yang sedang diselidiki karena keterkaitannya dengan kebakaran ini, Shanmugam menekankan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kehadiran dan kepentingan korporat di Singapura.

Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa operasi dan rantai pasokan mereka tidak berkontribusi terhadap kabut asap.

“Jika ada kekhawatiran tentang keterlibatan suatu perusahaan, baik secara langsung, atau melalui hubungan korporat atau rantai pasokannya, kami akan memeriksa fakta-fakta dengan cermat,” kata Shanmugam yang berbicara sebagai ketua Komite Menteri Krisis Dalam Negeri, kelompok puncak untuk menangani krisis nasional, seperti dikutip Straits Times.

Dalam pertemuan itu, Shanmugam mendorong perusahaan-perusahaan tersebut untuk secara sukarela menjalani penilaian terhadap operasional dan rantai pasok mereka.

"Pemerintah Singapura akan mengumumkan nama CEO dan perusahaan yang secara sukarela bersedia menjalani penilaian tersebut," ujar Shanmugam kepada para eksekutif yang hadir dalam pertemuan itu.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong, Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Grace Fu, serta penasihat hukum senior Davinder Singh.

Channel News Asia melaporkan, perusahaan-perusahaan yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung kurang dari setengah jam tersebut antara lain Bumitama Agri, First Resources, Golden Agri-Resources, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, TSH Resources, Wilmar International, dan Sinar Mas Group.

Chairman sekaligus CEO Golden Agri-Resources, Franky Oesman Widjaja, juga hadir untuk mewakili Asia Pulp & Paper Company dan Asia Pulp & Paper Company (China).

Pemerintah Singapura juga berencana untuk mengajukan amandemen terhadap Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act/THPA) pada sidang Parlemen berikutnya, tanggal 3 November.

Baca Juga: Pasokan Gas Dipangkas, Menlu Singapura Kunjungi Indonesia di Tengah Ketegangan

Amandemen yang akan diajukan oleh Fu ini akan memberikan kekuatan hukum bagi kerangka investigasi pemerintah. Termasuk memberikan wewenang kepada Badan Lingkungan Hidup Nasional (National Environment Agency/NEA) untuk mewajibkan perusahaan menunjuk penilai; ketidakpatuhan terhadap ketentuan ini akan dianggap sebagai pelanggaran hukum.

Dalam pertemuan tersebut, Shanmugam menegaskan kepada para pimpinan perusahaan bahwa tujuan langkah ini “bukan untuk mencari kambing hitam” ataupun “menimpakan kesalahan demi alasan publik atau politik”. 

“Dari sudut pandang kami, kami perlu menangani masalah-masalah yang berdampak pada Singapura. Kami juga harus memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sini menjalankan kegiatannya dengan cara yang tidak merugikan Singapura maupun kawasan ini,” ujar Shanmugam seperti dikutip Business Times.

Pertemuan tertutup tersebut berlangsung kurang dari seminggu setelah pemerintah mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka telah mengirimkan pemberitahuan kepada 10 perusahaan yang terdaftar di Singapura, guna meminta informasi mengenai kegiatan operasional mereka serta kemungkinan keterkaitan dengan kabut asap yang berdampak pada Singapura.

Media Singapura juga menyebut perusahaan dan perwakilan yang hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka adalah:

1) Bumitama Agri: CEO dan ketua eksekutif Lim Gunawan Hariyanto

2) First Resources: CEO dan direktur eksekutif Ciliandra Fangiono

3) Golden Agri Resources: Chairman dan CEO Franky Oesman Widjaja, yang juga mewakili Asia Pulp & Paper Company dan Asia Pulp & Paper Company (China)

4) Indofood Agri Resources: CEO dan direktur eksekutif Mark Julian Wakeford

5) Kencana Agri: CEO dan direktur eksekutif Albert Maknawi

6) TSH Resources: Chairman Kelvin Tan Aik Pen

7) Wilmar International: Chairman dan CEO Kuok Khoon Hong

8) Sinar Mas Group: Penasihat senior Bernard Tan