Bos AI Meta Tunda Punya Anak Tunggu Chip Otak Musk!



KONTAN.CO.ID -  Alexandr Wang, Chief AI Officer Meta dan pemimpin Meta SuperIntelligence Labs (MSL), baru-baru ini menarik perhatian publik setelah menyatakan komitmennya untuk menunda memiliki anak. 

Keputusan ini ia ambil demi menunggu kematangan teknologi chip otak Neuralink besutan Elon Musk.

Pernyataan ini mencerminkan pandangan visioner sekaligus kontroversial di kalangan tokoh teknologi Silicon Valley mengenai masa depan kognisi manusia.


Baca Juga: Kilas Balik 2025: Kekayaan Elon Musk Tembus Rp 10.020 Triliun di Tengah Gejolak

Wang memandang bahwa sinkronisasi antara biologi manusia dan sistem komputer canggih bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan kebutuhan evolusioner.

Fokus pada Golden Age Neuroplastisitas Otak

Dalam sebuah wawancara di The Shawn Ryan Show, yang dikutip The Times of India, Wang mengungkapkan alasan fundamental di balik keputusannya tersebut. 

Ia menilai bahwa efektivitas penggunaan teknologi brain-computer interface (BCI) sangat bergantung pada usia pengguna saat teknologi tersebut pertama kali ditanamkan.

Menurut Wang, waktu terbaik bagi manusia untuk beradaptasi dengan AI adalah pada awal masa kanak-kanak. Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi dasar pertimbangannya:

  • Fleksibilitas Kognitif: Otak anak-anak pada rentang usia tujuh tahun pertama memiliki tingkat neuroplastisitas yang sangat tinggi.
  • Integrasi Intuitif: Dengan menanamkan BCI sejak dini, generasi masa depan diprediksi mampu menggunakan alat superinteligensi secara alami, layaknya kemampuan berbicara atau berjalan.
  • Keunggulan Kompetitif: Integrasi sejak kecil diklaim mampu membuka potensi intelektual yang jauh melampaui kemampuan otak orang dewasa yang sudah kaku.
"Saya akan memiliki anak setelah Neuralink sudah sangat maju, karena otak anak-anak dalam tujuh tahun pertama lebih fleksibel dan dapat mempelajari antarmuka otak-komputer, sehingga membuka lebih banyak potensi dibandingkan otak orang dewasa," ujar Wang sebagaimana dilansir dari Times of India.

Ekspansi Meta di Asia Tenggara

Selain ambisi personalnya, Alexandr Wang juga tengah memimpin ekspansi besar-besaran Meta di kawasan Asia Tenggara. Meta SuperIntelligence Labs (MSL), tim bernilai miliaran dolar AS yang dibentuk Mark Zuckerberg untuk menyaingi OpenAI dan Google, dilaporkan mulai melakukan rekrutmen besar-besaran di Singapura.

Langkah ini menyusul akuisisi strategis yang dilakukan Meta terhadap Manus AI, sebuah perusahaan rintisan asal Singapura yang bergerak di bidang agen AI.

Kehadiran MSL di Singapura menunjukkan bahwa persaingan talenta AI global kini mulai bergeser ke pusat ekonomi Asia.

Melansir pernyataan Wang di platform X, tim MSL di Singapura kini telah diperkuat oleh sekitar 100 tenaga ahli dari Manus AI.

Ia mengundang para peneliti dan insinyur berbakat untuk bergabung dalam proyek ambisius ini guna mempercepat pengembangan superinteligensi milik Meta.

Mengejar Ketertinggalan Evolusi Biologis

Visi Wang ini lahir dari kekhawatirannya mengenai kecepatan perkembangan teknologi AI yang bersifat eksponensial.

Di sisi lain, evolusi biologis manusia dinilai berjalan sangat lambat dan tidak mampu mengejar ketajaman algoritma super cerdas di masa depan.

Dikutip dari sumber yang sama, Wang berpendapat bahwa hubungan saraf langsung ke AI mungkin menjadi satu-satunya cara agar manusia tetap kompetitif secara kognitif.

Tonton: Test Drive Jaecoo J5, SUV Listrik Murah Tapi Rasa Sultan

Saat ini, Neuralink sendiri masih fokus pada tahap uji klinis untuk membantu pasien dengan kelumpuhan agar dapat kembali bergerak.

Namun, Elon Musk sebagai pendiri telah lama menyuarakan ambisi untuk memperluas fungsi chip tersebut guna meningkatkan kapasitas otak manusia secara umum.

Dampak Ekonomi dan Investasi AI

Bagi investor di sektor teknologi, langkah Meta dan pandangan para petingginya seperti Wang memberikan sinyal kuat mengenai arah aliran modal di masa depan.

Pengembangan AI tidak lagi terbatas pada perangkat lunak, melainkan mulai menyentuh perangkat keras yang terintegrasi dengan tubuh manusia.

Jika melihat skala investasinya, divisi AI Meta merupakan proyek padat modal. Sebagai ilustrasi, jika sebuah proyek pengembangan infrastruktur AI memerlukan dana US$ 1 miliar, maka nilai tersebut setara dengan Rp16,7 triliun (kurs Rp 16.700/US$).

Nilai ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan perlombaan penguasaan teknologi BCI dan superinteligensi secara global.

Tren ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi raksasa kini tengah menyiapkan fondasi untuk pasar baru yang menghubungkan bioteknologi dengan kecerdasan buatan, sebuah sektor yang berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi digital di dekade mendatang.

Selanjutnya: Kode Redeem MLBB Januari 2026: Klaim Reward Gratis Khususnya bagi Pemain Baru!

Menarik Dibaca: Bibit Siklon Tropis 90S Berpotensi Jadi Badai, Hujan Lebat di Sebagian Jawa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News