Bos BCA Syariah: Suku Bunga Tinggi Tuntut Bank Kreatif Cari Dana Murah



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan bahwa meredanya tensi geopolitik global, termasuk konflik Iran dan Amerika Serikat, menjadi sentimen positif bagi industri perbankan. Meski begitu, sektor perbankan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kondisi ekonomi dan tingginya suku bunga acuan.

Yuli mengatakan, industri perbankan tetap harus mencermati dinamika ekonomi, khususnya pada segmen masyarakat menengah hingga menengah bawah.

Baca Juga: Libur Tahun Baru Islam, BNI Siagakan 13 Cabang dan Layanan Digital 24 Jam


“Tantangannya banyak, terutama bagaimana terus mencermati kondisi ekonomi, khususnya menengah dan menengah bawah. Tapi kami tetap optimistis,” ujar Yuli di Jakarta, Senin (15/6).

Menurut dia, Indonesia masih dipandang sebagai pasar potensial oleh investor maupun pelaku usaha global. Hal itu menjadi modal positif bagi industri jasa keuangan untuk tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian global.

“Orang luar saja masih melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial. Jadi prospeknya masih ada, hanya kami harus lebih tanggap dan lebih mencermati dinamika kondisi ekonomi,” katanya.

Di sisi lain, Yuli mengakui era suku bunga tinggi turut memberi tekanan bagi industri perbankan, terutama terhadap biaya dana atau cost of fund.

Menurut dia, perbankan mau tidak mau harus mengikuti kebijakan suku bunga yang berlaku demi menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun, bank dituntut lebih kreatif dalam menghimpun dana murah.

“Bank-bank tentu harus mencari sumber dana murah dan lebih banyak inisiatif serta kreativitas untuk menjaring nasabah,” ujarnya.

Saat ditanya dampak suku bunga tinggi terhadap biaya dana, Yuli menegaskan kondisi tersebut tidak terhindarkan.

“Pasti ada dampaknya ke biaya dana,” katanya.

Baca Juga: Pengguna Livin' by Mandiri Tembus 40,3 Juta, Nilai Transaksi Capai Rp 2.083 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News