KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Penguatan ekspor dan peningkatan arus modal asing ke pasar keuangan domestik menjadi dua upaya yang diandalkan untuk menopang rupiah. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, nilai tukar rupiah telah mengalami depresiasi sekitar 7,9%. Pada Kamis (29/10/2026), rupiah berada di level Rp 18.137 per dolar Amerika Serikat (AS). Meski mengalami pelemahan, Destry menilai volatilitas rupiah relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara lain. BI pun terus berupaya meredam gejolak nilai tukar agar pergerakan rupiah tetap terkendali.
"Kita berada di depresiasi sekitar 7,9% posisi hari ini. Tapi kalau bicara volatilitas, rupiah relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang lain," ujar Destry dalam Rapimnas Kadin 2026, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Menteri Rosan: Kepercayaan Investor Asing Tanamkan Modal di Indonesia Masih Tinggi Menurut Destry, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari faktor eksternal, terutama ketidakpastian global yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, termasuk dolar Amerika Serikat (AS). Peralihan investasi tersebut turut memengaruhi aliran modal portofolio ke Indonesia. Destry menyebut investasi portofolio mengalami penurunan sepanjang 2025 hingga 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global. "Ketahanan sektor eksternalnya sangat penting untuk rupiah," katanya. Untuk memperkuat ketahanan eksternal, BI menilai peningkatan ekspor menjadi salah satu faktor penting dalam menambah pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri. Destry menyoroti kinerja ekspor nonmigas yang masih menghadapi tantangan. Padahal, harga sejumlah komoditas, seperti batubara, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dan nikel, mengalami kenaikan. Menurut dia, peningkatan nilai ekspor tidak selalu mencerminkan pertumbuhan volume ekspor karena masih dipengaruhi pergerakan harga komoditas. Meski demikian, nilai ekspor mulai menunjukkan perbaikan pada Oktober 2026. Destry berharap tren perbaikan tersebut berlanjut sehingga kinerja ekspor kembali meningkat pada November dan Desember mendatang. "Jadi ketahanan sektor eksternalnya sangat penting untuk rupiah," ujar Destry.
Baca Juga: Kemenkes Atur Bahan Tambahan Rokok, Standar Larangan Harus Terukur Selain memperkuat ekspor, BI berupaya menarik arus modal asing melalui kebijakan yang dapat meningkatkan daya tarik investasi di pasar keuangan domestik. Salah satu langkahnya adalah memberikan insentif biaya lindung nilai atau hedging bagi investor asing. Destry menjelaskan, investor asing cenderung melakukan lindung nilai ketika berinvestasi di Indonesia, terutama di tengah tingginya ketidakpastian global. Kondisi tersebut membuat biaya lindung nilai menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga daya tarik investasi. Karena itu, BI memberikan insentif untuk menekan biaya lindung nilai melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF).
Melalui kebijakan tersebut, BI berharap investasi portofolio kembali meningkat sehingga dapat membantu memperkuat pasokan dolar AS di pasar domestik. Di sisi lain, Destry menegaskan bahwa upaya menjaga rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi di pasar keuangan. Perbaikan struktural di sektor eksternal, terutama melalui peningkatan ekspor dan masuknya modal portofolio, juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan valas. "Kita berusaha men-smoothing. Karena Bank Indonesia tugasnya adalah menjaga stabilitas. Bahwa kemudian ada pelemahan, tentu itu menjadi PR tersendiri. Tapi stabilitasnya itu terjaga. Jadi ini yang tentu memang PR yang memang harus bersama-sama secara struktural diatasi," kata Destry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News