KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan buka suara soal isu delisting PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dari pasar saham dalam negeri. Lani menyebut, saat ini pihaknya masih melakukan sejumlah kajian terkait. “Kami saat ini masih melakukan
assessment terhadap beberapa opsi,” katanya kepada Kontan, Rabu (21/10/2026). Lani menambahkan, kajian yang dimaksud terkait ketentuan terbaru batas
free float (saham beredar di publik)15% yang diatur BEI berlaku pada Maret 2028 mendatang.
Baca Juga: CIMB Group Dikabarkan Jajaki Delisting CIMB Niaga (BNGA) Di luar itu, ia memastikan CIMB Niaga senantiasa berkomitmen untuk tunduk pada peraturan yang ada. Bank asal Malaysia ini juga berkomitmen melakukan konsultasi dengan regulator terkait dalam setiap proses keputusan yang diambil terkait bisnis. Sebelumnya media Malaysia TheStar melaporkan bahwa CIMB Group tengah mempertimbangkan untuk melakukan delisting terhadap lini bisnis di Indonesia, yakni CIMB Niaga. Induk usaha CIMB Niaga tersebut menganggap saham BNGA masih
undervalued atau dihargai di bawah nilai fundamentalnya. Hal itu dikutip dari laporan CIMB Investment Bank Bhd (CIMB IB). Namun, laporan menyebutkan CIMB Group juga masih memandang prospek jangka panjang yang positif terhadap Indonesia. CIMB IB mengungkapkan, CIMB Niaga memiliki sejumlah keunggulan bisnis, antara lain di segmen
wealth management, perbankan korporasi, konektivitas ASEAN, layanan perbankan bagi nasabah
affluent, serta perbankan syariah. Saat ini, CIMB Group disebut tengah mempertimbangkan tiga opsi untuk memenuhi ketentuan
free float. Ketiga opsi tersebut meliputi penempatan saham kepada investor strategis pada valuasi yang dapat diterima, penawaran umum perdana saham kembali atau re-IPO, serta privatisasi. Namun, CIMB IB bilang, opsi re-IPO berpeluang kecil untuk dilakukan di tengah kondisi pasar modal Indonesia saat ini. Karena itu, privatisasi dinilai menjadi opsi yang lebih strategis dan kredibel.
Baca Juga: Pasar Modal Bergejolak, Ciputra Life Tak Terburu-buru Ubah Alokasi Investasi CIMB IB juga menyebut terdapat sejumlah skema delisting yang dapat dipertimbangkan, termasuk pengaturan yang memungkinkan pemegang saham minoritas tetap memiliki sebagian kecil saham setelah perusahaan keluar dari bursa. Skema tersebut merujuk pada pengalaman CIMB Thai dan CIMB Bank Malaysia yang memiliki pengaturan kepemilikan minoritas pada masa lalu. Meski demikian, salah satu pertimbangan utama CIMB Group dalam menentukan langkah strategis tersebut adalah memastikan pembayaran dividen dari CIMB Niaga kepada induk usaha tetap terjaga. Di sisi permodalan, CIMB Group melihat peluang untuk mengoptimalkan penggunaan modal. CIMB IB menyebut rasio
common equity tier 1 (CET1) CIMB Niaga berada di level 23%, sehingga terdapat ruang untuk mengoptimalkannya menuju 20%. Namun, belum ada target formal yang ditetapkan untuk rasio tersebut. CIMB Group juga tetap menerapkan pendekatan disiplin dalam aksi merger dan akuisisi. Grup perbankan ini hanya terbuka terhadap peluang akuisisi berskala kecil untuk memperkuat bisnis wealth management, perbankan usaha kecil dan menengah (UKM), serta bisnis syariah CIMB Niaga. Sementara itu, transaksi berskala besar tidak menjadi pilihan. Dalam laporan terpisah, MBSB Investment Bank Bhd menyebut, kepemilikan CIMB Group di CIMB Niaga mencapai 92,5%. Jika CIMB Niaga diprivatisasi pada harga saham Rp 1.550 per saham, maka nilai pembelian saham diperkirakan mencapai Rp 2,95 triliun atau setara RM 670 juta.
Sementara itu, jika menggunakan premi 30% dari harga tersebut, nilai pembelian kembali saham berpotensi mencapai Rp 3,84 triliun atau setara RM 871 juta. MBSB Investment Bank memperkirakan aksi tersebut dapat menurunkan rasio CET1 sekitar 18 basis poin hingga 23 basis poin dari posisi terakhir sebesar 13,9%. Meski demikian, bank investasi tersebut memperkirakan dampaknya akan mendekati batas bawah estimasi. Manajemen CIMB juga menekankan bahwa prioritasnya adalah menggunakan modal sesedikit mungkin. Karena itu, akumulasi saham diperkirakan dapat dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan peluang yang tersedia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News