KONTAN.CO.ID - Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir menjelaskan sejumlah ciri-ciri “saham gorengan” yang dinilai sebagai bentuk kejahatan dalam pasar modal. Indikasi keberadaan saham gorengan di bursa efek Indonesia menjadi persoalan yang disorot Morgan Stanley Capital International (MSCI), lembaga riset keuangan yang menerbitkan indeks dan data pasar saham dan menjadi acuan investor di seluruh dunia. Pandu mengaku dirinya tidak menggunakan istilah “saham gorengan” karena kebanyakan menyebut saham jenis tersebut sebagai
“uninvestability” atau tidak layak diinvestasikan.
“Banyakan dari sisi investor atau kalau MSCI sebutnya
uninvestability. Kenapa? Karena mungkin secara valuasi sangat tinggi,” ujar Sjahrir saat ditemui di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu (1/2/2026). Pandu menjelaskan, saham gorengan itu tidak masuk akal dari sisi enterprise
value to sales (EV to Sales) karena nilainya yang terlalu tinggi. Rasio
EV to Sales membandingkan seluruh valuasi perusahaan dengan pendapatan dari kegiatan bisnisnya guna mengukur apakah suatu saham tergolong mahal atau murah. Indikator lainnya adalah
Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) yang juga terlalu tinggi.
Baca Juga: Emas Turun Tajam hingga Rp 260.000: Sinyal Ekonomi Membaik atau Hanya Sementara? EBITDA mengukur keuntungan suatu perusahaan sebelum dikurangi biaya pajak, depresiasi, bunga, dan lainnya. Indikator berikutnya adalah
Price to Earnings Ratio (PER) yang juga tidak masuk akal. PER membandingkan harga saham sekarang dengan keuntungan bersih dari setiap lembar saham suatu perusahaan. Perbandingan itu digunakan untuk menghitung apakah saham terkait masuk klasifikasi murah atau justru mahal. “Misalnya secara
EV to Sales, EV to EBITDA atau
Price to Earnings Ratio yang sangat tinggi apakah itu
make sense,” ujar Pandu. Menurutnya, kebanyakan keluhan dari investor asing mencurigai valuasi PER yang tidak wajar. “Jadi sebenarnya lebih kalau disebut bahasanya saham gorengan itu itu ke sana,” kata Pandu. Meski demikian, bos Danantara itu berpesan untuk tidak membenci para investor. Sebagai pelaku di pasar modal, Pandu mengajak semua pihak bersama-sama membangun pasar modal Indonesia menjadi lebih baik. Adapun Danantara memang diketahui sudah mulai berinvestasi di pasar modal.
Baca Juga: Merosot Turun Rp 260.000 Per Gram! Cek Detail Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini “Kita ingin melakukan investment yang tadi saya tekankan, perusahaan-perusahaan memiliki fundamental yang sangat baik, company yang sangat baik dengan valuasi yang menarik dan yang terakhir likuiditas yang bagus. Itu juga sangat penting,” kata Pandu.
IHSG Anjlok Dirut BEI Mundur
Sebelumnya, pasar modal Indonesia terguncang setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok hingga diterapkan
trading halt. MSCI atau Morgan Stanley Capital International, sebagai lembaga penyedia indeks global menerbitkan regulasi baru dan mengoreksi IHSG Indonesia. Selain itu, struktur kepemilikan saham di Indonesia dinilai kurang transparan hingga muncul dugaan praktik perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar atau saham gorengan. Temuan itu menjadi dasar peringatan MSCI. Indonesia lalu diberi waktu hingga Mei untuk membenahi persoalan tersebut. Peringatan MSCI tersebut membuat status Indonesia berisiko turun dengan skenario terburuk dari pasar negara berkembang menjadi pasar negara perbatasan. Hal ini membuat pasar panik dan IHSG anjlok hingga 16,7 persen. Di tengah gonjang ganjing itu, Direktur Utama BEI, Iman Rachman mengundurkan diri dengan alasan bentuk tanggung jawab. Selang beberapa waktu kemudian pejabat strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundurkan diri.
Tonton: Airlangga Gelar Rapat Cari Pengganti Pejabat BEI dan OJK yang Mundur Massal Mereka adalah, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara. Lalu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon I. B. Aditya Jayaantara.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul
"Ciri-ciri Saham Gorengan Menurut Bos Danantara" Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News