BPDP Buka Pendanaan hingga Rp 500 Juta untuk UKMK Hilirisasi Perkebunan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuka peluang pendanaan hingga Rp 500 juta bagi usaha kecil, menengah, dan koperasi (UKMK) yang mengembangkan bisnis berbasis hilirisasi komoditas perkebunan. 

Plt. Kepala Divisi Penyaluran Dana Program Pangan dan Hilirisasi BPDP Arfie Thahar mengatakan, dukungan pendanaan tersebut ditujukan untuk mendorong pelaku usaha mengolah komoditas perkebunan menjadi produk bernilai tambah. 

Untuk usaha dengan skala lebih besar, BPDP juga membuka peluang pendanaan pembangunan fasilitas produksi, termasuk pabrik.


Baca Juga: BPDP Pastikan Dana Kompensasi Biodiesel B50 Aman hingga Akhir 2026

"UKM yang kecil bisa sampai Rp 300 juta atau Rp 500 juta," kata Arfie dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Arfie menegaskan, besaran pendanaan bukan satu-satunya dasar penilaian proposal. BPDP akan melihat kesiapan teknologi, ketersediaan bahan baku, potensi pasar, kelayakan finansial, serta aspek lingkungan.

Dengan demikian, pelaku UKMK tidak cukup hanya memiliki ide produk. Proposal juga harus menunjukkan model bisnis yang jelas dan kemampuan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Saat ini, BPDP telah membuka call for proposal Program Pangan dan Hilirisasi. Pengajuan proposal berlangsung hingga 30 Oktober 2026. BPDP juga menjadwalkan webinar penjelasan teknis program pada 30 September 2026.

Arfie berharap kegiatan inkubasi bisnis di Salatiga dapat menghasilkan gagasan usaha yang siap dikembangkan menjadi proposal pendanaan.

Baca Juga: Harga TBS Sawit Anjlok hingga Rp 1.500 per Kg, Petani Mulai Panik

Dari sisi bisnis, peluang tersebut terbuka karena Indonesia memiliki basis komoditas perkebunan yang besar, termasuk sawit, kakao, dan kelapa. 

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah mengatakan, UKMK dapat mengambil peran lebih besar dengan mengolah komoditas perkebunan menjadi produk turunan, bukan hanya menjual bahan mentah.

Konsep UKMK naik kelas, menurut Helmi, tidak hanya ditandai oleh kenaikan omzet, aset, dan kualitas manajemen. Pelaku usaha juga diharapkan mampu memperkenalkan manfaat serta beragam produk turunan komoditas perkebunan kepada masyarakat.

Baca Juga: Tamaris Hidro Bidik Dana Hingga Rp 1 Triliun, Simak Kinerja dan Portofolio Bisnisnya

Peluang tersebut juga terlihat pada industri sawit. Direktur Pusat Studi Kelapa Sawit Instiper Purwadi mengatakan, turunan sawit telah digunakan dalam berbagai produk, mulai dari pangan hingga kosmetik. 

Salah satunya adalah cocoa butter substitute (CBS) berbasis turunan sawit yang dapat digunakan dalam produk cokelat.

Wali Kota Salatiga Robby Hernawan mengatakan, hilirisasi dapat menjadi jalan bagi UKMK untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas melalui inovasi, penguatan merek, dan pemanfaatan teknologi.

Menurut Robby, pengembangan produk turunan juga berpotensi memperluas pasar dan kesempatan kerja.

Namun, hilirisasi perlu dijalankan bersama praktik perkebunan berkelanjutan agar peningkatan nilai tambah tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya dan lingkungan.

Baca Juga: BCA Lanjut Realisasikan Buyback Saham, Siapkan Dana Hingga Rp 5 Triliun

Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, BPDP, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai diperlukan untuk membangun ekosistem hilirisasi yang mampu menghasilkan produk perkebunan dengan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News