BPDP Dorong Produk UMKM Perkebunan Menembus Pasar Internasional



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan komoditas perkebunan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi. Komoditas ini juga bergantung pada kemampuan menciptakan nilai tambah dan memperluas manfaat ekonomi bagi pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.

Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komoditas perkebunan menjadi salah satu upaya yang dapat mendorong nilai tambah tersebut. Selain memperluas akses pasar, pengembangan UMKM juga membuka peluang bagi produk turunan kelapa sawit, kelapa, dan kakao untuk memiliki daya saing yang lebih luas.

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong pengembangan UMKM berbasis komoditas perkebunan melalui promosi, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan dengan pemangku kepentingan di tingkat regional.


Upaya tersebut salah satunya melalui Knowledge Exchange & Innovation Exhibition Jakarta 2026.  Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, badan-badan PBB, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan sektor perkebunan dari Indonesia, Malaysia dan Papua Nugini.

Baca Juga: Stok Sapi Feedlot Cuma Cukup hingga November, Harga Daging Berpotensi Terus Naik

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan partisipasi BPDP menjadi sarana untuk memperkenalkan produk UMKM berbasis kelapa sawit, kelapa, dan kakao sekaligus membuka peluang kolaborasi.

“Kami memperkenalkan beragam produk UMKM dari komoditas perkebunan, kelapa sawit, kelapa, dan kakao kepada masyarakat internasional. Selain itu, membuka peluang kolaborasi serta pertukaran gagasan yang dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sektor perkebunan yang berkelanjutan,” ujar Helmi, dalam keterangannya, Sabtu (29/8). 

Menurut Helmi, pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan inovasi untuk menjawab berbagai tantangan pengembangan sektor perkebunan. Inovasi tersebut tidak hanya perlu memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

BPDP menilai, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat, dan mitra pembangunan diperlukan untuk membangun ekosistem perkebunan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News